Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
207. Aku merindukan Ayah


__ADS_3

"Papa!" teriaknya membuka pintu namun pintu belakang sedang di kunci.


Tangan dan kakinya bergetar, ia sungguh takut bukan kepalang, bahkan merasa seperti hidupnya tak lama lagi.


"Papa! Tolong!" teriaknya dengan nafas naik turun.


Sejenak kemudian, ia mulai memberanikan diri melihat ke arah depan, ingin memastikan apakah dia benar melihat atau hanya salah lihat.


Tidak ada apa-apa, juga tak ada siapa-siapa! Merry melangkah pelan, dengan kaki yang masih bergetar dia tak punya pilihan selain melangkah ke depan, ingin masuk ke dalam rumah apapun caranya.


Semakin ke depan dia tak menemukan apa-apa, hingga tepat di depan pintu rumahnya.


"Aku hanya berhalusinasi!" ucapnya mencoba mengatur nafas, tangan halusnya meraba handle pintu dengan mata tetap mengawasi bagian depan rumahnya.


"Papa!" panggilnya sambil mengeratkan pegangan tangannya, dia dapat merasakan Anwar sedang memakai jas dan pastilah dia baru pulang dari kantor.


Merry menoleh karena senang ada ayahnya, ia tak perlu merasa takut. Tapi malah bukan Anwar yang sedang ia pegang lengannya, melainkan Anggara.


"Aaaaaaaaaakhhh!"


Bugh!


Reza masih berdiri memandang wanita yang jatuh pingsan di depan pintu itu, ingin sekali ia tertawa terbahak-bahak, tapi sekuat tenaga ia menahan.


"Ish! Begitu saja dia pingsan!" gumamnya lalu pergi begitu saja, membiarkan Merry tergeletak tanpa perlu ditolong.


Segera masuk ke dalam mobil pria tinggi dan tampan itu tertawa sepuas hati, ia tak habis pikir akan menjadi hantu di rumah orang. Bahkan mendapat tawaran bintang drama saja dia tak mau. Hingga puas tertawa dan menyandar sambil melihat kaca.


"Anggara, maaf aku tidak bermaksud meledek atau tak menghargai dirimu. Tapi jika tidak begini, maka istrimu akan terus menangis meraung-raung sampai nyawanya habis." Reza tersenyum dan berbicara pada dirinya sendiri melalui kaca. " Dan maaf, sepertinya aku jatuh cinta pada istri juga anak-anakmu. Aku tahu kau akan benci mendengar ini, tapi sungguh! Jatuh cinta memang tak bisa memilih, dan sejak kau menikahinya aku sudah menyukainya. Aku yakin kau juga tahu itu." ucapnya lagi melepas kaca mata hitamnya.


Mengenal Zahira membuat kewarasannya berkurang, itu perlu diakui. "Baiknya aku kembali, sebelum aku benar-benar menjadi gila." Dia memacu mobilnya sedikit cepat, dia sudah tak sabar kembali ke rumah sakit walaupun hanya mengawasi sang pujaan hati dari luar.


Sementara Zahira tertidur setelah meminum obat, Radit di luar rumah sakit duduk dengan gelisah. Taman rumah sakit tak terlalu buruk dengan langit cerah dan bintang bertaburan di malam itu, tapi tidak dengan Radit yang kini sedang gelisah memikirkan Zahira.


Apakah hanya sebatas hitungan bulan saja dia menikmati indahnya bersama Zahira? Lalu sisanya hanya harapan dan tak tau akhirnya.

__ADS_1


Lelah, terkadang cinta yang bersemayam terlalu lama membuat jiwa menjadi lelah. Tapi kembali mengingat semua yang sudah terjadi Radit merasa harus berjuang lagi.


"Radit! Mengapa kau disini? Bagaimana Zahira?" David juga Ayu baru saja tiba.


"Ada di dalam." Radit beranjak berjalan lebih dulu menuju ruang rawat Zahira.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Ayu lagi dengan khawatir.


"Dia baik-baik saja, tadi sempat pingsan, lemas karena kurang istirahat dan makanan yang kurang di perhatikan." Radit menjawab sambil terus melangkah menuju ruangan di depannya.


"Nenek! Kakek!" Dua jagoan itu menghambur memeluk Ayu dan David.


"Sayang, anak-anak pintar!" David memeluk dan mengusap kepala Sadewa.


"Ibu sakit, Nenek." Satria melaporkan dengan wajah sedih.


"Ibumu akan sembuh Sayang." Ayu mengecup pipi Satria membawanya masuk ke ruangan Zahira.


"Jia! Apakah dia sudah lama tertidur?" tanya Ayu pada Jia.


"Biarkan saja, sebaiknya kita tunggu diluar." David mengusulkan, masih menggendong Sadewa.


"Baiklah." Ayu juga mengikuti David.


"Sini, Paman akan menggendongmu!" Radit meraih Satria.


"Aku sudah besar!" jawabnya memilih turun dari pelukan Ayu.


"Kau memang sudah besar, Lima tahun itu sudah tak layak di gendong, belajarmu saja sudah ilmu sains alam semesta. Anak sekolah dasar saja belum mengerti." Radit meledek.


"Aku anak luar biasa! Lihat saja nanti setelah besar aku akan mengalahkanmu!" jawabnya penuh semangat.


"Benarkah?" Radit tersenyum tak percaya.


"Setelah aku lulus SMA." jawabnya yakin.

__ADS_1


"SMA itu masih belum apa-apa, kau harus menjalani pendidikan yang lebih tinggi. Jadi jangan bermimpi terlalu cepat, nanti kau lelah!" Radit mengacak rambut Satria yang sedikit panjang.


"Paman tidak percaya padaku?" tanya Satria kecewa.


"Paman percaya. Paman menyukaimu, dan menyayangimu." ucap Radit tulus ketika mata keduanya beradu.


Tangan Satria terulur keduanya.


"Kau bilang sudah besar! Sekarang kau minta di gendong." Radit mengatainya, wajah Satria terlihat lucu.


Sejenak, pada akhirnya Radit mengangkat tubuh kecil itu sangat tinggi dan memeluknya. Tertawa dalam kegelisahan, memeluk tubuh mungil hangat itu mengurangi bebannya, mendamaikan hati, seperti memeluk ibunya.


"Aku merindukan Ayah." ungkap Satria ketika memeluk erat Radit, membenamkan wajahnya di antara leher dan bahunya.


Radit tercekat, ingin menjawab apa dia sendiri tidak tahu. Tapi beberapa saat kemudian Tak ada pergerakan dari tangan kecil yang melingkar di lehernya, nafasnya teratur, ternyata dia tidur.


Radit mengelus punggung Satria dengan penuh kasih sayang, berpikir jika Satria sangat merasa kehilangan. Namun sejatinya dia adalah anak laki-laki yang kuat, mampu menutupi kesedihan dan kerinduan, bisa jadi karena tak ingin membuat ibunya semakin menderita. Atau tak ingin menangis layaknya anak perempuan yang cengeng, dia anak yang pintar dan luar biasa, tentu hal perasaan dia sudah bisa memahami. Dapat membedakan yang mana yang harus di tahan dan yang harus diungkapkan, mereka benar-benar baik seperti kedua orang tuanya.


"Maafkan Paman." ucap Radit tanpa ia sadari, mendekap tubuh kecil yang tertidur itu semakin erat, hatinya mendadak nyeri mengingat siapa yang telah menghabisi ayahnya.


"Paman yang salah, sudah membuatmu kehilangan ayah." mengecup bahu Satria yang wangi.


Tentu saja Zahira akan membencinya, setiap hari seorang ibu harus merasakan sedih karena anak telah kehilangan ayahnya, belum lagi keadaannya sedang mengandung.


'Maafkan aku Zahira, aku memang salah.'


"Tuan David!" Reza baru saja kembali dan menyapa David.


"Apa kabarmu?" David mengulurkan tangan dan saling berjabat tangan.


"Aku baik, lama tidak bertemu, ku harap Tuan David juga baik-baik saja." balas Reza penuh hormat.


"Tentu saja. Dan terimakasih sudah bersedia membantu putriku menyelesaikan masalah pribadinya." ungkap David juga sangat ramah.


"Itu tak masalah, kami memang sudah menjalin kerjasama sangat lama." jawab Reza lagi. Kemudian melirik pintu yang sedikit terbuka, dapat di lihat jika pujaan hati sedang tertidur.

__ADS_1


David hanya bisa tersenyum walau hatinya ikut khawatir, apakah Radit bisa memenangkan hati Zahira lagi, saingannya tak bisa diremehkan.


__ADS_2