Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
296. Sekarang kau istriku


__ADS_3

Zahira tak bergeming, hanya membiarkan Radit memandangi wajahnya.


"Tapi sekarang kau istriku, aku suamimu." ucap Radit lagi mengelus wajah Zahira.


Zahira tersenyum sedikit, menyaksikan sorot mata penuh harap dari Raditya, pria itu juga tak kalah tulus dalam mencintainya.


"Apa aku kurang tampan sehingga tidak bisa mengalihkan duniamu?" Radit tersenyum dan mulai bercanda.


Zahira tersenyum lebar dan menghambur memeluk Raditya.


'Sungguh aku iri pada pria tua yang sudah merebut hatimu, tapi aku juga berterimakasih untuk kehadiranmu lagi beserta anak-anak dalam hidupku. Ternyata aku harus membagi cintaku untuk mendapatkan kebahagiaan yang lengkap.' ucap Radit di dalam hatinya.


'Aku sangat egois, ingin Mas Anggara selalu ada di hatiku, tapi juga ingin memiliki Radit di sisiku. Yang hilang memang selalu di kenang, tapi yang hadir juga harus lebih dihargai. Jangan sampai setelah dia tiada baru terasa, dan menyesali waktu yang berlalu sia-sia.'


"Mandilah Sayang, lalu tidur setelahnya." ucap Radit pelan, mengelus pundak Zahira di dalam pelukannya.


"Iya." Zahira melonggarkan pelukannya.


"Aku bantu melepaskan semua ini." Radit menunjuk hiasan di kepala Zahira.


Zahira mengangguk, mulai duduk di depan cermin dan melepas satu persatu pernak-pernik di kepalanya.


"Ini rumit, tapi terlihat cantik sekali." Radit tak membiarkan tangan Zahira kesulitan.


"Begitulah wanita." Zahira melihat Radit dari cermin di hadapannya, pria tampan itu mulai melepaskan kerudung di kepalanya.


"Bagiku yang seperti ini lebih cantik." Radit melepas pengikat rambut Zahira dan membiarkannya tergerai bebas.


Saling memandang di cermin dan saling menikmati wajah mereka di sana.


"Aku mau mandi." Zahira beranjak dari duduknya.


"Bajumu Sayang." Radit meraih pundak Zahira dan membuka resleting belakang.


"Terimakasih." ucap Zahira malu-malu karena punggung mulusnya terlihat jelas.


"Aku jadi ingin ikut." Radit melirik Zahira lalu kamar mandi.


"Kau di sebelah sana. Aku butuh waktu untuk membersihkan makeup ku." rengek Zahira mendorong Radit menuju kamar mandi yang lain.


"Ah, mengapa pihak hotel ini menyediakan dua kamar mandi, harusnya satu saja lebih dari cukup."


"Tidak untuk sekarang, aku benar-benar tidak mau diganggu." jawab Zahira langsung masuk dan menutup pintunya.

__ADS_1


"Baiklah, hanya sekali ini!" teriak Radit berdiri di depan kamar mandi.


"Iya." jawab Zahira di dalam sana membuat Radit terkekeh geli.


Sore itu mereka sengaja menghabiskan waktu hanya dengan berisitirahat. Keduanya tertidur pulas hingga tak terasa matahari sudah mulai beranjak pulang menuju peraduannya.


"Ketika tidurpun dia terlihat cantik sekali." gumam Radit di sore itu, menatap wajah Zahira di dalam pelukannya, tak henti sudut bibirnya tertarik dengan kebersamaan di sore itu.


Tak sia-sia delapan tahun, menunggu saat ini tiba.


"Hemm."


Dia menggeliat, bergerak-gerak di dalam pelukan Raditya.


"Akhirnya istriku bangun juga." ucap Radit mengecup keningnya.


"Ini sudah sore." Zahira melirik jam dinding hotel tersebut.


"Terlalu lama menganggur, lenganku sedikit kram dua jam menjadi bantal." Radit terkekeh.


"Baru dua jam, bagaimana jika semalaman?" Zahira mengerucutkan bibirnya.


"Bukan hanya lenganku yang menjadi kram, tapi pinggangku juga." guraunya kembali terkekeh.


"Apa kau sudah setua itu?"


"Kau menyesalinya?" tanya Zahira lagi.


"Tidak, karena aku yang pertama bagimu, dan terakhir pula hingga selamanya."


Radit mengangkat tangan mereka dan menyatukan jari keduanya, menatap setiap keindahan yang dimiliki Zahira dari ujung kukunya. Begitupun sebaliknya, Zahira menyukai ketika telapak tangan mereka menyatu.


"Kita akan selalu seperti ini." bisik Radit lalu mengecup wajah Zahira.


Zahira mengangguk pelan, menikmati sentuhan Radit seperti baru pertama.


"Aku tidak mau ada jarak lagi diantara kita." kembali ia berkata setengah berbisik, menikmati bening mata Zahira dari dekat, semakin dekat dan menyatu dalam kehangatan yang telah lama tidak dirasakan keduanya.


Benar jika jarak itu masih ada walaupun tak terlihat, tapi tidak setelah ini. Penyatuan yang hangat akan menghapus semuanya, walau tak mengusir masa lalu.


"Aku sangat mencintaimu Zahira, terimakasih sudah kembali."


Radit memeluknya begitu erat, menikmati wangi tubuhnya yang tak berubah, keindahannya juga tak berkurang, semuanya masih sama seperti yang ada di dalam otak Radit sejak pertama kali menyentuhnya.

__ADS_1


"Kau masih sama seperti dulu, agak sedikit gila." ucap Zahira di sela pelukan Raditya yang membuatnya tak berdaya.


"Aku memang selalu gila jika bersamamu." Radit tertawa senang, ternyata Zahira masih mengingatnya.


"Aku jadi lapar."


"Padahal aku memberimu sangat banyak."


"Radit...!" rengeknya merasa malu dengan ucapan yang menggodanya.


Radit kembali terkekeh kecil menyaksikan tubuh polos yang bersembunyi di balik selimut, pelukannya begitu lembut, hangat dan nikmat.


Malam-malam selanjutnya terasa selalu indah, berhias senyum dan tawa wanita tercintanya. Selimut tak lagi hangat ketika halusnya kulit Zahira yang menyatu bersama keringat penuh semangat.


Bibir merah seorang Raditya terlalu sibuk belakangan ini, menghisap dan memagut manisnya cinta yang selalu tersimpan sejak lama, kini membuncah penuh kerinduan diantara rengekan dan suara merdu menyebut namanya.


"Kau sudah tak bisa lepas lagi." ucap Radit begitu bangga mengalahkan liarnya gerakan Zahira.


"Radit." rengeknya begitu manja, bahkan dulu belum puas mendengar bibir merahnya bergerak menyebut namanya. Kini terulang lagi, terdengar merdu dan menciptakan gejolak yang melambung tinggi, menggila tak memberi jeda.


...***...


Satu Minggu berlalu, keduanya pulang dengan kebahagiaan dan kemesraan. Tawa dan canda tak luput menyertai mereka sepanjang perjalanan menuju rumah David.


"Ibu...!" teriak kedua putranya ketika mobil Raditya memasuki halaman.


"Sayang." Zahira keluar dan langsung memeluk keduanya.


"Lihat Paman membawa banyak mainan." Radit membuka pintu mobil bagian belakang.


"Ini banyak sekali." Satria melepaskan pelukan ibunya dan mengambil mainan yang begitu banyak.


"Aku merindukan Ibu." rengek Sadewa masih tak mau beranjak memeluk Zahira. Mereka memang tak pernah di tinggal lama.


"Ibu juga merindukanmu Sayang." Zahira mengecup pipi Sadewa berulang-ulang.


"Apakah ibu akan sering pergi?" tanya Sadewa sedikit manja, tak biasanya ia bertingkah seperti itu.


"Tidak, hanya sekali ini saja." janji Zahira padanya, tentu itu membuat hati seorang ibu berdenyut nyeri, terlebih lagi sebab kepergiannya adalah sudah menikah lagi, bersama suami selain ayahnya.


"Maaf Paman mengajak Ibumu pergi, tapi Paman berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Radit memeluknya dari belakang.


"Lain kali aku ingin ikut." Satria memeluk Radit dari belakang pula.

__ADS_1


"Tentu saja kalian akan ikut." jawab Radit senang, menikmati tangan-tangan kecil itu melingkar di lehernya.


Terpaku menyaksikan kedua anaknya, terutama Sadewa yang tampak sensitif. Beruntung Radit mengerti dan selalu mengerti tentang perasaan Sadewa. Jika itu bukan Radit? Zahira menggeleng tak bisa membayangkannya.


__ADS_2