Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
72. Pertengkaran lalu


__ADS_3

Pukul delapan pagi, David dan Ayu sudah duduk di kursi pesawat, mereka berdua sepakat untuk mengunjungi Radit dan mencoba berbaikan.


Ketika roda pesawat mulai bergerak, bersamaan dengan denyut jantung David terasa sakit, teringat pertengkaran terakhir yang terjadi antara mereka, antara anak laki-laki dan seorang ayah, saat itu David sungguh marah dan benci dengan putranya, juga pada dirinya sendiri.


"Karena kelakuan mu dia pergi untuk selamanya!" ucap David kala itu, pria yang bersedih itu hanya bisa duduk di kursi roda.


"Maaf Papa, aku tahu aku salah, aku tahu akulah yang seharusnya mati bukan Zahira." ucap Radit menangis memeluk kaki David yang tak berdaya.


"Tidak kah kau ingat, selain dia istrimu dia adalah saudaramu! Jika kau gagal menjadi seorang suami, harusnya kau tidak gagal menjadi saudara, dia kakakmu Radit!" ucap David sangat emosi.


"Maaf Papa! Aku yang salah, aku memang salah. Tapi sungguh Papa, coba Papa dengarkan awal kejadiannya bisa seperti ini, ini bukan Mauku."


"Awalnya bukan maumu, tapi akhirnya kau mau juga! Jika kau tidak bisa menjaga hatinya, paling tidak kau selamatkan nyawanya. Tapi kau malah membiarkan dia sendirian dengan mobil yang entah seperti apa kondisinya. Tanpa uang, sedangkan kau memberikan uang pada wanita murahan itu!"


"Tidak Papa, tidak seperti itu! Aku hanya lupa, aku lupa jika Zahira hanya bergantung padaku." ucapnya semakin terpukul, ia menangis di kaki David.


"Karena hatimu sudah terbagi Radit, itu yang membuatmu lupa. Kalau bukan bergantung padamu lalu pada siapa? Kau suaminya, bukankah sejak dulu kau selalu memenuhi kebutuhan Zahira bahkan sejak sekolah, kau tak pernah membiarkan dia memakai uangnya. Tapi mengapa kau berubah setelah kau mengenal wanita itu, bahkan akses ke uangan dari ibumu begitu besar." David kembali menahan sesak.


"Papa, ampuni aku Papa, jangan katakan itu lagi." tangis pria muda itu semakin jadi.


"Bukan padaku, tapi pada istrimu yang sudah tiada. Itu juga jika dia masih bisa mendengarmu, jika tidak kau hanyalah seorang pria malang yang akan hidup dengan penyesalan." ucap David dengan memutar kursi rodanya menuju kamar, meninggalkan Radit yang bertumpu tangan dan lutut di lantai.


"Papa, jangan begitu padaku, tidak cukupkah Papa melihat aku begini." seru Radit lagi.


"Harusnya tak ku izinkan kau menikahi Zahira, itu akan lebih baik." jawab David tanpa menoleh.

__ADS_1


Radit semakin bersedih dengan bersujud dan memukul-mukul lantai sepuas hatinya.


Hingga berhari-hari pria muda itu masih menangis dan meratapi kepergian istrinya, dia memanggil dan menyebut nama Zahira.


"Zahira." panggilnya tak henti di seluruh sudut rumahnya, ia sungguh kehilangan dan penyesalan memang terasa begitu nikmat bagi seorang yang melakukan kesalahan.


Tak salah jika sedikit mengalah, karena posisi yang salah akan membuatmu kalah, tak penting menang dengan egois, daripada menyesal dan menangis. Tak ada satu kebahagiaan-pun yang dapat di raih dengan kebohongan, tentu itu hanyalah akan menyulitkan.


David larut dalam lamunan, hingga tak terasa pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat dan semua orang bersiap keluar dari sana.


"Ayo David, Nurul sudah menyiapkan mobil untuk menjemput kita." Ayu memegang tangan David yang terlihat sedikit bergetar, kesehatan pria itu tak kunjung membaik semenjak kemarahannya pada Radit, Zahira menghilang hingga meninggal, hingga saat ini Ayu memutuskan untuk menemui Radit dan mengobati jantung David di rumah sakit ternama.


*


"Kita akan berangkat bersama beberapa orang ku, kita akan melewati jalan yang sepi dengan jarak lumayan jauh." Ricky sudah menyiapkan beberapa bodyguard dan dua orang bawahannya.


"Berapa jam perjalanan kita?" tanya Anggara setelah di dalam mobil.


"Sekitar empat jam mungkin, atau tiga setengah jam." Ricky memperkirakan lama perjalanan mereka.


"Jauh sekali." ucapnya melihat-lihat jalanan di luar.


Anggara lebih banyak diam, pria tampan itu selalu terlihat lemas sejak dua bulan terakhir. Ia bagaikan kehilangan semangat hidup, tampak jelas dari kumis dan jenggotnya yang sudah agak memanjang di sekitar bibirnya. Lupa mencukur atau sengaja ia biarkan? Entahlah, tapi itu malah membuat pegawai wanita salah tingkah melihat penampilan barunya.


"Anggara, mereka meminta alat-alat medis yang memadai, jika dihitung-hitung ini sama saja membangun ulang rumah sakit, bukan merenovasi." Ricky membicarakan semua isi berkas yang sudah ia hitung dari kemarin.

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti, jika memungkinkan kabulkan saja, tapi jika tidak setengahnya saja, dan jika memang tidak layak beri sumbangan sekedarnya saja." jawab Anggara, pria itu memang baik, tak pernah menolak orang yang meminta bantuan.


"Baiklah, itu gunanya kau ikut. Dan siapa tahu kau bertemu seseorang di sana, yang bisa menyembuhkan kegalauanmu." ucap Ricky sedikit bercanda.


Tapi itu malah membuatnya Anggara berpikir, ia berharap bisa menemukan Zahira di manapun ia berada, tak terkecuali di tempat pelosok seperti itu bukan? Dia sungguh mengharapkan hal yang mustahil, walaupun tak putus doanya untuk segera menemukan Zahira.


'Bukankah dia sudah berjanji akan datang padaku, bersedia menjadi istriku, sudah tentu aku akan menemukan dan membawanya ke rumahku.'


Pria itu tertidur di mobil dengan menyandar cantik, aroma tumbuhan hijau sudah mulai tercium ketika memasuki jalanan sepi menuju pedesaan. Suasana sejuk mulai menyeruak namun akhirnya berganti dengan udara dingin, semakin jauh mobil melaju semakin bergoyang mobil yang mereka tumpangi, bebatuan yang tak rata di jalanan sempit itu mulai membuat laju mobil seperti kuda.


Grrrtak


Grrrtakkk


Suara orang memukul gembok itu mulai terdengar di telinga Anggara, seakan ia kembali melihat gadis cantik itu tersenyum dan memanggilnya "Gara!"


"Reva?" panggilnya dengan memegangi kepalanya, tentu saja kepalanya pusing karena terbentur ke samping akibat bebatuan yang tak mengizinkan ia tidur nyenyak di dalam mobil.


Ricky menoleh, menatap heran pada bosnya itu.


"Kau merindukan anaknya, malah memanggil ibunya." Ricky menggeleng-gelengkan kepala, dia tak habis pikir dengan pria kaya di sampingnya itu, apa kemiringan 90 derajat itu sudah ia lampaui? Berarti otaknya harus di operasi, atau rehabilitasi.


"Aku bermimpi." jawab Anggara, mengusap wajahnya.


Ricky semakin heran dibuatnya, apakah bisa tidur hingga bermimpi dalam kondisi perjalanan bergoyang-goyang seperti itu, mimpi bertemu mantan? Aneh sekali.

__ADS_1


"Dari beberapa hari ini aku kesulitan tidur, dan sering bermimpi tentang Reva menyelamatkan aku. Saat itu hanya dia yang yakin aku masih ada di sekolah, sedangkan semua orang tak ada yang percaya aku ada di sana, bahkan aku di nyatakan hilang termasuk kakekku."


__ADS_2