Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
95. Mencintaimu


__ADS_3

"Apa maksudmu?" Merry menatap tak suka.


"Anak kita harus menjadi wanita yang baik, tidak seperti kita Merry." jawab Radit pelan.


"Seperti Zahira maksudmu?" dengan wajah kesal dan marah.


"Apa ada wanita yang lebih baik dari dirinya?" jawab Radit jujur dengan apa yang ada di dalam hatinya.


"Kenapa kau selalu saja mengingatnya Radit, tidak kah kau lihat aku melahirkan anakmu dengan susah payah, tidak kah kau juga tahu aku mengandungnya sendiri tanpa dirimu. Aku kesepian dan kesusahan, menahan rindu yang yang teramat berat, tapi apa? Setelah kau pulang malah sama sekali kau tidak peduli, jangankan menyentuhku, tidur denganku saja kau tidak betah." Merry benar-benar emosi, meluapkan kekesalannya yang sudah sangat banyak.


"Aku hanya butuh waktu, harusnya kau juga mengerti Zahira pergi karena kita." Jawab Radit tak ingin menyalahkan Merry, masih ada sedikit perasaan untuk menjaga hati ibu dari anaknya.


"Justru karena itu harusnya kau juga menghargai aku dan anakmu. Apa kami berdua harus mati juga agar kau menyayangi kamu seperti dia?" tangisnya tak terbendung lagi.


"Jangan berkata yang seperti itu Merry, kau tahu sejak awal aku hanya mencintai dirinya, dan itu tidak akan mudah untuk di hilangkan begitu saja. Ku harap kau mengerti dengan hidupku yang sudah rumit ini. Aku berjanji akan berusaha membahagiakan anak kita, aku-pun sangat menyadari dia tidak bersalah." ucap Radit lembut.


Merry tak mau lagi berdebat, ia hanya menangis dengan menahan kesal di dalam dadanya. Ia benar-benar benci dengan Zahira apalagi wanita itu masih hidup. Kepalanya yang memang sedang pusing bertambah pusing berputar-putar memikirkan wanita itu, sungguh nama Zahira sangat mengganggu.


"Merry, maafkan aku." Radit mencoba menenangkan Merry, bagaimanapun juga dia adalah ibu dari anaknya.


"Namanya Laura." ucap Merry sangat jelas.


"Iya, apapun itu asal kau tidak marah lagi." Radit tersenyum sambil menggendong Laura.


Merry kembali menyandar dengan memejamkan mata, tentu saja dia akan memberikan nama secepat mungkin sebelum Radit memberinya nama dengan nama Zahira.


*

__ADS_1


Pukul 05:00 sehabis subuh, pasangan pengantin baru itu tampak sedang bercanda di atas ranjang besar, tawa dan rengekan manja tak terputus keluar dari mulut Zahira. Tubuh kecilnya sedang menggeliat dalam kungkungan pria dewasa yang begitu tampan dengan bulu-bulu pendek mengelilingi bibirnya, tanpa henti pria itu menciumi seluruh wajah juga tempat-tempat sensitif lainnya.


"Kancing ku lepas." rengekan itu terdengar menggelikan di telinga Anggara, benar saja kancing gaun tipis itu hilang entah kemana menampakkan pemandangan bukit indah yang menggiurkan seakan memanggil untuk di sentuh dan dinikmati hingga puncak pucuknya.


Anggara tersenyum tak peduli langsung mendaki dan berpegang dengan indah di sana, menciptakan gerakan tidak sabaran dari si pemilik puncak itu.


"Aku sangat menyukainya." bisik Anggara berpindah ke pipi dan bibir merah merekah yang setiap pagi menjadi sedikit bengkak itu. Membiarkan puncaknya terbuka dengan indah, kemudian kembali mendaki, mengusap, dan meminum madu cinta rasa Vanila.


Kebiasaan pria itu melakukan pemanasan sangat lama membuat Zahira tidak sabar, meraih dan meminta, hingga memohon dan memaksa untuk segera melakukan penyatuan yang begitu indah.


"Sabar sayang." Anggara dengan sengaja membuatnya memohon.


"Aku_ tidak_ tahan lagi." ucapnya terputus-putus.


Anggaran tersenyum menang dengan gaya santainya, mengarahkan senjata dan mulai menyerang dengan gagah, mengendalikan gadis liar itu, membiarkannya menjerit dan memanggil namanya dengan penuh damba. Tak mau kalah pria dewasa itu bermain lincah dan indah, menyerang atas bawah membuat istri tercinta semakin menggila.


Hingga cukup lama, hampir satu jam kegiatan panas masih belum selesai, lenguhan panjang yang sudah berkali-kali terdengar dari suara lembut dan merdu itu menunjukkan ia sudah menggapai puncaknya berkali-kali, dan kali ini mereka bersama, berakhir dengan panggilan sayang dan ciuman di bibir yang menjadi kesukaan suaminya.


Deru nafas hangat yang menyatu, harum wangi menyelusup jiwa, menenteramkan hati keduanya dalam rasa yang bahagia. Tubuh kekar itu jatuh ke samping dengan dengan senyum dan masih memeluk dengan mesra.


"Mas." dia masih merengek.


"Ada apa Sayang?" Anggara mengatur nafas dan meraih tubuh kecil itu untuk tidur di pelukannya.


"Aku mencintaimu." ucap Zahira sambil memejamkan mata, menghisap aroma khas keringat di dada seksi suaminya.


"Cintaku ini sangat sulit untuk di jelaskan Sayang, begitu besar hingga aku tidak tau bagaimana mengungkapnya. Kau istriku, kekasihku, ibu dari anakku. Kau sangat berharga untukku." ucapnya tulus, mata coklatnya menembus ke dalam mata bening Zahira.

__ADS_1


"Bagaimana dengan wanita yang sedang mengandung itu? Bukankah dia bilang kau akan membuangku?" tanya Zahira, rupanya dia masih memikirkannya.


"Mana mungkin aku membuangmu, aku belum siap jadi gembel Sayang. Hartaku sudah atas namamu semua, itu ku lakukan agar kau tidak takut menjalani semuanya bersama anak kita."


"Berarti aku sekarang sangat kaya." dia tersenyum lebar.


"Iya, kau yang paling kaya dari sekian rekan-rekanku, jika kau menjadi janda kau akan di kejar banyak pria." Anggara tertawa.


"Itu terdengar menggelikan." dia tertawa lepas, gigi rapinya terbuka dengan binar mata bahagia.


"Itu akan terjadi, karena aku sudah tua, dan kau masih sangat muda. Aku akan meninggalkanmu suatu saat nanti." Anggara masih memandangi wajah bahagia itu dengan penuh kasih sayang.


"Aku tidak mau." tangan kecilnya memeluk erat. "Aku ingin selalu bersamamu, menghabiskan waktu bersama dengan bahagia." ucapnya sendu, dia juga menyadari jarak usia diantara mereka cukup jauh.


"Kita akan menjalaninya Sayang, tak perlu khawatirkan apapun." Anggara menghiburnya dengan kecupan lembut tak lupa ia berikan di kening halus itu.


"Aku tidak khawatir jika bersamamu." jawabnya dengan suara khas dirinya.


"Ah, aku hampir lupa hari ini ada perayaan berdirinya Hotel kita." Anggara melihat jam tangan yang ia letakkan di atas nakas.


"Apa aku boleh ikut?" tanya Zahira masih dalam pelukan Anggara.


"Memang aku akan mengajakmu, kita akan pergi bersama agar mereka semua mengenalmu." ucapnya tersenyum.


Sudah tak ada lagi yang perlu ia tutup, Ayu sudah tahu tentang keberadaan Zahira, sebentar lagi David pasti akan datang mencarinya, dan Radit, tentu ia akan segera tahu. Lagi pula Zahira sedang mengandung anaknya, tidak akan ada yang bisa mengambilnya lagi.


"Ah itu pasti akan menyenangkan. Kalau begitu aku akan bersiap, berdandan yang cantik agar tidak kalah dengan wanita-wanita yang akan melirikmu di sana." Zahira begitu bersemangat, bangun lebih dulu menuju kamar mandi.

__ADS_1


Anggara yakin, David sudah bersiap menemui Zahira di hotel itu nanti.


__ADS_2