Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
163. Siapa Daniel?


__ADS_3

Hingga setelah makan malam, Dua jagoan mereka tak di izinkan keluar dari kamar, mereka sudah tidur setelah lelah bermain dan saling melempar bantal di kamar miliknya. Dua bocah tampan itu tertidur dengan menelentang memperlihatkan wajah tampan dan bibir merah menggemaskan.


"Mereka sudah tidur?" tanya Zahira melihat anak-anaknya tidak berteriak atau tertawa.


"Iya Nyonya." Suster itu mengangguk.


"Terimakasih sudah menemani mereka." ucap Zahira menggantikan suster untuk menjaga Dua putranya.


"Aku menyukainya, Nyonya tidak perlu berterimakasih." jawabnya tulus.


"Istirahatlah, lagi pula mereka sudah tidur."


"Terimakasih Nyonya." suster Nisa undur diri meninggalkan kamar anak-anak itu.


Zahira menatap wajah-wajah tampan itu satu persatu, wajah-wajah tampan itu mendamaikan hatinya setiap kali memandangi wajah polos mereka. Tidur dengan pulas tanpa memikirkan hal apapun, jauh berbeda jika di siang hari, mereka sangat aktif dengan segala aktivitas dan permainan apa saja. Sesekali mereka berteman dengan orang dewasa seperti para bodyguard, Hiko yang baru Dua tahun bekerja menggantikan Jia yang saat ini sengaja di kirim Anggara untuk mendalami ilmu bela diri juga berlatih banyak senjata di Jepang tempat Hiko sebelumnya, anak-anak Zahira menyukai pria berdarah campuran Jepang-Indonesia itu, terlebih lagi jika sedang menyaksikan Hiko berlatih bela diri.


"Sayang!"


Suara berat Anggara membuat Zahira menoleh, tangan halusnya sedang mengusap dan membelai kedua putra mereka. "Iya Mas." jawabnya halus dan merdu.


"Mereka sudah tidur?" Anggara mendekati, mengecup kening anak-anaknya bergantian.

__ADS_1


"Mereka kelelahan, tak pernah mau diam." suara Zahira yang semakin menampakkan kedewasaan itu membuat Anggara selalu bahagia, merdu, lembut dan menenangkan hati.


"Mereka terlalu pintar sehingga sulit di bohongi seperti anak-anak lainnya yang mungkin bisa di takuti dengan suatu mitos atau karakter film. Jadi tak ada pilihan selain mengatakan semuanya dengan jujur."


Anggara mengusap pucuk kepala Zahira, ia tahu jika istri tercintanya terkadang lelah dan pusing dengan banyaknya pertanyaan dari si kembar yang pintar, mereka tidak terima jika jawaban yang mereka dapat tidak sesuai dengan hal yang sebenarnya. Di usia Lima tahun anak kembar mereka sudah bosan bersekolah di sebuah taman kanak-kanak, dan lebih tertarik bersekolah dan berteman dengan anak Sekolah Dasar. Sepertinya anak-anak mereka akan mengikuti jejak ayahnya, bersekolah dengan pendidikan khusus untuk para jenius. Tentu saja Anggara sudah mengerti akan kebutuhan anak-anaknya, dan menyiapkan segala sesuatu sesuai dengan IQ bocah kembar itu.


"Aku sangat bersyukur memiliki mereka." ucap Zahira masih membelai tangan kecil halus anak-anaknya.


"Dan tidak terlalu bersyukur memiliki aku?" tanya Anggara dengan tersenyum, sedikit bercanda namun itu benar hatinya berkata.


"Tentu saja karenamu mereka ada, suamiku yang memberiku segalanya. Aku bukanlah apa-apa jika bukan kau yang mencintaiku. Aku hanya seorang wanita lemah tak bisa melakukan apa-apa kala itu, dan hanya kaulah yang bisa menutupi kelemahanku, membuatku berharga dan menjadikan aku orang paling bahagia di dunia ini." Tangan halus nan lentik itu terulur menyentuh wajah Anggara yang beberapa tahun lalu masih tampak mulus, kini lebih sering terlihat dengan bulu-bulu pendek menggoda. Ya, semenjak dekat dengan Zahira, dan menikah dengan Zahira, Anggara jadi lebih peka dengan penampilan yang membuat istrinya senang dan puas disaat sedang bercinta. Dia adalah sosok yang dewasa, pintar dan mengetahui apa yang disuka atau tidak disukai istrinya.


"Aku sangat mencintaimu, terlebih lagi saat ini, kau sudah memberiku Dua orang putra hebat ini untukku. Rasanya aku ingin memberikan nyawaku padamu." Anggara merayunya dengan tulus, ungkapan hati yang selalu mencintai dengan segenap jiwa.


Kedua pasang mata itu saling menikmati, seolah sedang mengukur kedalamnya masing-masing. Larut dalam rasa yang penuh gelora tanpa di minta bibir mereka bertaut mesra, pria dewasa yang masih terlihat gagah dan menggoda itu memberikan kemanjaan tersendiri ketika sudah memulai sentuhan lembut di wajah cantik Zahira.


Tangan kecil Zahira melingkar mesra di pundak Anggara, sekali gerakan pria itu sudah membawanya menuju kamar luas milik mereka yang sejak memiliki Dua putra itu berpindah di lantai dasar. Melanjutkan rasa yang selalu di selimuti kerinduan tak bertepi walaupun selalu melakukannya di setiap hari. Menciptakan rasa cinta yang semakin menggebu tak pernah berkurang seiring berjalannya waktu.


"Rasanya aku ingin memiliki anak perempuan yang cantik seperti dirimu." ucap Anggara di sela sentuhan hangat yang memanjakan tubuh molek istrinya.


"Aku tidak pernah menolaknya Mas, hanya Allah belum memberi kepercayaan lagi kepada kita." Lagi-lagi suara Zahira yang lembut menggemaskan itu semakin membuat pria dewasa itu semakin tak terkendali.

__ADS_1


"Kita akan berusaha lebih keras." bisiknya seakan menahan sesuatu.


"Aku selalu siap untuk membuatmu bahagia." Selain pandai membuat seorang Anggara terbakar api cinta, Zahira benar-benar membuatnya menggila.


"Aku mencintaimu Sayang." Lepas dari rasa yang hampir membuat otaknya meledak, pria itu ambruk di samping tubuh indah Zahira, masih tak mau melepaskan pelukan meskipun sudah berkeringat di sekujur tubuhnya.


Zahira tersenyum bahagia menyaksikan wajah tampan itu tampak begitu lega, semakin membuat ia mencintai Anggara.


"Mas!" panggilnya pelan dan halus.


"Hem." jawab Anggara memejamkan mata, namun sebuah kecupan tak lupa ia berikan di kening mulus Zahira.


"Boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Zahira dengan suara lembut.


"Boleh, Kau ingin bertanya apa?" Anggara masih enggan membuka mata, membiarkan Zahira yang cantik memainkan jarinya di dada Anggara yang sedikit berbulu halus.


"Om Daniel itu anak kakek, tapi mengapa tinggal di luar negeri?" tanya Zahira pelan.


Pertanyaan yang membuat mata pria itu terbuka lebar, namun kemudian memandang wajah dalam pelukannya dengan serius. "Dia adalah anak dari selingkuhan Nenekku dengan seorang laki-laki berdarah Jepang." jelas Anggara belum melanjutkan kata-katanya meski ia masih terlihat ingin bicara.


Hening sejenak.

__ADS_1


"Kakek mengetahui jika Nenekku memiliki hubungan gelap dengan pria lain, sehingga mengusirnya dan lebih memilih hidup hanya berdua dengan Mama. Hingga akhirnya Mama menikah dengan pria biasa, namun cintanya luar biasa. Mereka hidup bahagia jauh dari kata selingkuh apalagi bertengkar, mereka nyaris tak pernah bertengkar. Boleh di katakan pernikahan mereka sangat bahagia seperti kita. Saat itu aku seusia putra-putra kita, dan entah apa sebabnya ibu meninggal tanpa bekas apapun, tidak sakit, tidak juga terluka, saat itu bertepatan dengan peresmian sebuah restoran milik Mama, dan hari pernikahan Papa dan Mama yang ke Tujuh tahun, semua anggota keluarga hadir termasuk Paman Daniel. Semenjak itu Papa menjadi depresi dan sakit-sakitan, ia selalu saja bersedih atas meninggalnya Mama yang sampai saat ini masih tidak tahu penyebabnya. Satu hal yang masih menjadi dugaanku adalah hadirnya paman Daniel."


__ADS_2