Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
203. Zahira sakit


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Ricky di di siang itu, ia melihat Zahira keluar dari ruangannya membawa tas.


"Aku ingin pulang Om, ingin istirahat di rumah." jawab Zahira dengan wajah lelah.


"Kau sakit? wajahmu pucat." Ricky menatap khawatir.


"Sedikit." Zahira memegang kepalanya.


"Aku akan mengantarmu ke dokter!"


"Tidak Om, sebentar lagi pak Reza Mahendra akan datang, sebaiknya Om menemuinya. Biar aku pulang bersama sopir saja." jawab Zahira masih berdiri.


Benar saja, tidak lama setelahnya sopir Zahira datang bersama Lili yang juga akan mengantarnya hingga ke bawah.


"Hati-hati, maaf aku tidak bisa mengantarmu." ucap Ricky lagi ketika Zahira akan masuk lift.


"Yang lebih penting adalah rencana kita, Om tak perlu terlalu menghawatirkan aku." jawab Zahira berusaha menguatkan diri.


"Jaga Nyonya dengan baik." perintah Ricky pada sopir Zahira.


"Iya Tuan." mengangguk dan segera masuk ke dalam lift bersama Lili dan Zahira.


Sedangkan di tempat lain, Radit baru saja selesai dengan laptop berwarna putih milik Aldo, ayahnya Zahira. Wajah tampannya berukir senyum dan hembusan nafas lega setelah hampir dua minggu mempelajari semua data milik ayah Zahira tersebut, akhirnya ia berhasil, tentu itu menjadi nilai lebih untuk Radit, dia akan mengalahkan laki-laki mana saja yang akan menjadi saingannya untuk mendapatkan Zahira lagi.


"Kau mau kemana?" David melihat Radit beranjak dengan meraih jas berwarna coklat miliknya.


"Aku harus ke kantor Anggara, kami sedang berjanji untuk bertemu di sana." Radit merapikan jasnya dan meraih kunci mobil.


"Pergilah!" David menggantikan duduk di sofa.


"Papa harus doakan aku, mudah-mudahan hari ini aku punya kesempatan untuk berdua dengannya. Dan dia tidak marah lagi." ucap Radit dengan tersenyum kepada David.


"Hah, perbaiki otakmu jika ingin mendapatkan Zahira lagi." David menggeleng.

__ADS_1


"Aku rasa dia akan menyukainya nanti." Radit tertawa sangat yakin.


Pukul Dua siang itu Radit tiba di kantor Anggara, sengaja datang belakangan ia lebih suka mendapati Zahira sedang duduk santai daripada harus menerima amukan seperti kemarin lalu. Lagipula Radit harus pandai-pandai mengambil hati Zahira, selain sedang bersedih dia juga sedang mengandung, emosinya sering tidak stabil, dan mood yang cepat berubah, itu yang akhir-akhir ini ia pelajari.


Pria tampan itu turun dengan langkah pasti, tanpa menoleh langsung menuju lift. Tentu saja selalu datang dengan penampilan terbaik, mana tahu dapat perhatian dari wanita pujaan.


"Selamat siang Om!" sapa Radit setelah membuka pintu ruangan Ricky yang memang sedikit terbuka.


"Selamat siang menjelang sore, kau terlambat!" jawab Ricky.


"Terlalu lama berdandan." sahut Reza. Namun akhirnya hening, sepasang mata Radit memaksa terbuka lebar melihat pemandangan yang sangat tidak mungkin.


"Kau!" Radit melihat penampilan Reza dari atas hingga ke bawah. Namun karena rasa kesal Radit meraih kaca mata hitam yang menutupi mata Reza dan melihat lagi dengan tak bisa berkedip.


"Kau sangat tidak sopan!" Reza kesal dan kembali merebut kacamata dari tangan Radit.


"Tidak,..Tidak! Kau tidak bisa seperti ini, aku tidak mau Zahira terbawa suasana hanya karena melihat penampilanmu yang sama seperti mendiang suaminya. Cepat rubah penampilanmu!" Radit menunjuk pakaian Reza.


"Tapi tidak seperti ini!" Radit menatap kesal, ia sungguh tidak rela Zahira sampai melihatnya.


"Sudah! Zahira tidak ada di kantor, dia sudah pulang sejak tadi. Dia sakit!" Ricky melerai perdebatan mereka.


"Sakit!" ucap kedua pria tampan itu bersamaan.


"Ya! Dia sedang tak enak badan." Ricky kembali duduk santai.


"Tapi aku butuh pakaian Anggara, aku akan memakainya dan meninggalkan jejak." Reza tampak kecewa.


"Kalau begitu kita akan datang ke sana, sekalian aku tidak tenang memikirkan keadaannya saat ini." usul Ricky yang sontak membuat dua laki-laki itu bersemangat.


"Setuju!" jawab Reza tersenyum penuh arti, namun tidak dengan Radit. Dia benar-benar tidak suka dengan penampilan baru Reza yang berusaha semirip mungkin dengan Anggara. Belum lagi memang perawakan tinggi, lengan yang tidak terlalu berotot namun sangat pas dikatakan gagah, itu memang hampir menyerupai Anggara. Bedanya kemarin Reza lebih menata rambutnya dengan gaya kasar, sedikit acak dan terlihat lebih seperti anak muda, sedangkan Anggara lebih rapi dan penuh wibawa. Hidung mancung dan sengaja memanjangkan bulu di sekitar wajahnya agar terlihat mirip, dia pandai sekali membaca penampilan Anggara hingga sangat detail.


Tak sampai satu jam mereka sudah sampai di kediaman Anggara, rumah besar dan mewah itu tampak ramai dengan suara Sadewa juga Satria, mereka bermain bola bersama Hiko, sesekali merebut bola dengan gerakan bela diri.

__ADS_1


Namun belum lagi Radit sempat keluar, Hiko sudah membawa mereka masuk tak mengizinkan bertemu siapapun. Kecewa! tentu saja, tapi ia akan tetap sabar hingga kemudian di izinkan untuk bertemu dan memilikinya.


"Ayo masuk!" Ricky mengajak kedua rekan beda usia itu masuk ke rumah Anggara, mereka tak menunggu di lantai dasar, malah langsung menuju lantai Dua dimana seluruh pakaian Anggara di simpan di sana.


"Tuan!" Bibi Lastri keluar dari kamar Anggara yang dulu.


"Aku butuh pakaian Anggara." Ricky masuk diikuti kedua rekannya. Sepertinya Bibi melarang tapi terlanjur mereka semua masuk.


"Ah, ini dia!" Ricky meraih pakaian Anggara yang masih di gantung seperti saat dia masih hidup. Reza memakainya dan benar saja ukuran mereka sama.


"Om!"


Suara terkejut dari Zahira, ternyata dia ada di sana, baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan lemas.


"Zahira!" Ricky mendekat, namun ia merasa jika Zahira sedang fokus dengan pria yang sedang memakai pakaian suaminya.


Wajah cantiknya kembali sendu, mendung menyelimuti bening matanya. Langkah pelan itu mendekat, dengan bulir bening ikut terjatuh bersama gerakan kakinya.


Tatapan seakan menemukan sosok yang dirindukan, tentu membuat Reza Mahendra berbunga-bunga, mana tahu bisa menarik perhatian Zahira dan menciptakan hubungan serius.


"Mas Anggara!' ungkapnya di dalam hati, entah karena apa, mendadak mata beningnya mengabur, rindu dan lelah tentu sudah menumpuk membuatnya tak bisa berpikir atau mengingat siapa saja selain hanya Anggara. Tak bisa menahan lagi Zahira hampir terjatuh dan terlihat menghambur memeluk Reza.


"Zahira dia bukan-!" teriakan Radit terhenti karena Ricky menutup mulutnya.


"Mas!" ungkapnya menutup mata, tangan halusnya memegang bahu Reza dengan kepala bertumpu di dada bidang berbalut jas suaminya.


Sikap serba salah, juga takut mendapat protes dari rekan kerja lainnya. Reza Mahendra tampak ragu namun akhirnya tangan kokoh itu memeluk Zahira.


Tangisnya pecah menggema, Benar selama ini ia tak punya tempat untuk mengadu, bahkan hanya sekedar bersandar.


Dan entah mengapa, dunia menjadi gelap ketika merasakan hangatnya pelukan Anggara.


"Bawa aku!" lirihnya kemudian tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2