
"Apakah sudah siap?" tanya Ricky pada ponsel yang menempel di telinganya.
"Kami sudah di tempat, yang lain juga sudah di tempat masing-masing." rekan sesama asisten Ricky menjawab.
"Zahira juga sudah ada di hotel." Ricky menjelaskan.
"Kami masih mengawasi, sepertinya rumah mereka tidak kosong." lapor rekannya lagi.
"Aku tahu, berikan info ini juga kepada Ricko." perintah Ricky.
"Baik!"
Ricky memutuskan panggilannya, tampak dari kejauhan Zahira berjalan bersama Jia, senyumnya mengembang mendapat sapaan dan jabat tangan dari berbagai tamu yang datang.
"Selamat datang, terimakasih atas kehadirannya." begitu suara merdu Zahira menyapa mereka.
Tamu yang datang juga tak hanya berpasangan tapi ada yang sengaja datang sendiri, seorang yang masih sendiri atau juga yang sudah menduda.
"Selamat malam Nona Zahira!" seorang laki-laki yang sudah berumur enam puluhan mungkin, menyapa dengan ramah sekali.
"Selamat malam, terima kasih atas kehadirannya." Zahira menjawab dengan ramah sekali.
"Tak ku sangka istri tercinta Tuan Anggara kini harus berdiri tanpa dirinya. Semoga Nona selalu diberi kesehatan dan selalu bahagia." ucap pria itu lagi sangat ramah.
"Terimakasih kasih banyak, semoga sebaliknya, anda pun diberikan kesehatan dan kebahagiaan oleh Allah SWT." jawab Zahira sedikit menunduk hormat.
"Ini putraku, dia akan menggantikan aku nanti, jadi untuk pertemuan berikutnya dia akan mewakili perusahaan kami." pria itu meminta putranya lebih dekat dan berjabat tangan dengan Zahira.
"Selamat bergabung." ucap Zahira lembut ketika berjabat tangan.
"Terimakasih Nona, namaku Dimas." tatapan kagum ketika mata mereka bertemu.
"Hai!" Reza tak mau ketinggalan, pria tampan itu ikut menyapa anak pengusaha itu.
"Selamat malam Tuan Reza Mahendra." laki-laki tua itu menyapa, meminta putranya juga berkenalan.
"Selamat malam!" sahut Reza menatap tajam pada Dimas seraya berjabat tangan bergantian.
__ADS_1
"Silahkan duduk dan nikmati hidangannya." Zahira mempersilahkan keduanya. Sementara Reza tampak tak suka dengan putra rekan bisnisnya itu.
"Saingan mu banyak." bisik Jia dingin, sengaja membuat Reza kesal, senyum kecil terbit di bibir tipisnya.
"Aku akan menyingkirkannya satu persatu." jawab Reza tak mau kalah.
Jia tersenyum sinis, seraya melenggang pergi, sikap santai dan tatapan tajamnya menjadi daya tarik sendiri, melihat kiri dan kanan mengawasi sekeliling namun belum mendapatkan sasaran.
"Jangan macam-macam!" Reza mengingatkan.
Sementara Zahira menuju meja paling depan miliknya, Reza mengekor meski tak berani menggandeng wanita cantik itu tapi tetap terlihat bahwa mereka cukup dekat.
"Apa mereka akan datang?" tanya Zahira cemas, mata indahnya sedikit melirik ke seluruh ruangan.
Pasti datang, Radit ada di luar menunggu kedatangan Merry Sandra." jawab Reza menikmati mata indah yang masih tampak mencari sesuatu.
Zahira menautkan tangannya, jari-jari lentik itu bersembunyi di telapak tangannya sendiri, wajah cantik yang berusaha tenang tapi tetap terlihat gugup bagi seorang Reza.
"Lihat aku!" Reza meminta Zahira menatapnya.
"Harus bisa mengendalikan emosi." pesan Reza dengan senyuman lembut. "Ingatlah kita butuh bukti, bukan hanya sekadar pembalasan. Setelah buktinya di tangan kita, kau bisa menghukumnya seperti yang kau mau." ucap Reza lagi, tatapannya sungguh mendamaikan.
"Ya." Zahira menarik nafas dan sedikit tersenyum.
"Kau cantik sekali." ucap Reza dengan mata teduh tak berkedip.
"Mas Anggara mendengarnya." jawab Zahira tertawa, membalas godaan Reza yang tidak pernah habis.
"Benarkah?" Reza menoleh ke kiri atas juga ke kanan atas. "Maaf, aku jatuh cinta pada istrimu." ungkapnya kembali menatap wajah Zahira.
Zahira menggeleng pelan, tak ingin menanggapi candaan yang kadang membuatnya salah tingkah. Membiarkan Reza berbicara sesuka hatinya.
"Nyonya! mereka sudah datang." Jia duduk di samping Zahira.
"Kalau begitu tetaplah disini." Reza menunjuk meja yang sedang mereka tempati.
Di luar Hotel Anggara Utama, Radit masih duduk di dalam mobil sambil mengaktifkan laptop berwarna putih milik ayah Zahira, sengaja dia bawa untuk selalu mengawasi keadaan rumah Merry dimana anak buah Anggara sedang ada di ketiga tempat, rumah Merry yang baru, Rumah Anwar yang sedang mereka tempati, dan Rumah Daniel.
__ADS_1
"Rumah Anwar di jaga!" ucap Radit menginformasikan kepada rekannya di seberang sana. Sebuah anggukan terlihat dari orang-orang di layar laptop Radit.
"Rumah Daniel juga ada beberapa orang, tapi mereka tidak siaga. Utamakan rumah Anwar, dan buka brangkas di kamarnya, kodenya akan ku kirimkan." ucap Radit lagi.
Sejenak kemudian Radit melihat sebuah mobil hitam baru saja datang. Tampak Merry keluar bersama Anwar, matanya melihat keadaan kemari mencari seseorang. Radit tersenyum tipis, menutup laptopnya dan keluar dari mobil.
"Kau sudah datang?" Radit mendekati Anwar juga Merry.
"Radit!" Merry segera berlari mendekati Radit yang masih berdiri di samping mobilnya.
Radit tersenyum manis, sedikit melirik Anwar yang menatap sinis padanya. Membiarkan laki-laki tua itu membencinya, karena memang benar Radit ingin mereka berdua di hukum.
"Ayo masuk bersama Papa." Anwar tidak percaya juga tidak suka dengan kehadiran Radit.
"Aku ingin bersama Radit." Merry terus bergelayut manja di bahu Raditya, ia tak peduli apapun juga yang terpenting bisa bersama Radit.
"Kita harus masuk, atau jika tidak kita pulang saja!" kesal Anwar.
"Tidak Papa, aku akan masuk tapi bersama Radit, karena hantu itu tidak akan datang jika ada Radit bersamaku." Merry semakin mengeratkan pelukannya di bahu Raditya.
"Tidak ada hantu Merry, Papa membawamu ke sini untuk membuktikan bahwa hantu itu tidak ada!" geram Anwar meraih tangan putrinya.
"Masuklah, aku ada di belakangmu." Radit memberi pengertian. Sedikit mengalah agar Anwar tidak semakin kesal, jangan sampai dia pulang dan rencana mereka belum selesai.
Di rumah Anwar, Ricko sudah berada di dalam rumah itu dengan beberapa orang anak buahnya. Beberapa orang-orang Anwar tampak berdiri tegap siap berkelahi.
"Lebih baik kalian duduk manis, dari pada patah sia-sia." ucap Ricky dengan gaya sombongnya.
"Kami bukan pengecut!" balas anak buah Anwar dengan wajah tak kalah sombong.
"Kalian memang bukan pengecut, tapi bos kalian itu yang pengecut. Jadi percuma kalian menjadi pahlawan untuk orang pengecut seperti Anwar, lebih baik menyerah dan duduk santai, biarkan kami menggeledah rumah ini. Lagi pula CCTV sedang mati, jadi kalian aman, tidak akan ketahuan!" bujuk Ricko dengan tingkah konyol ciri khas dirinya.
"Kami tidak percaya." seorang bodyguard menjawab, langsung memukul tapi meleset.
"Baiklah! Jika kau yang meminta maka kita akan menari bersama-sama." Ricko membalas pukulan pria tinggi besar itu dengan satu tinju melayang dan mengenai wajahnya.
Perkelahian di rumah Anwar tak bisa di hindari lagi, Meja ruang tamu sudah pecah berantakan, juga beberapa miniatur sudah hancur tak karuan.
__ADS_1