Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
235. Seperti khayalan


__ADS_3

"Mama akan mendukung apapun keputusanmu. Asal membuatmu bahagia."


"Aku belum bisa Mama, jika hanya sekedar berteman mungkin Iya." Zahira mengelus perutnya yang masih sesekali terasa nyeri.


"Ya, pikirkan kebaikan anak-anak juga." Ayu menyelimuti Zahira, memberikan rasa aman dan nyaman. "Sebaiknya kau istirahat Sayang."


"Anak-anak?"


"Ada Papamu dan Radit di luar, mereka akan baik-baik saja." Ayu meyakinkan.


Zahira mengangguk, tak ada orang yang bisa di percaya selain keluarga. Senyumnya terukir sambil mulai memejamkan matanya.


Satu Minggu kemudian Zahira masih belum bisa bekerja, rasa nyeri dan lemas sering menyerang hingga terkadang membuatnya kesulitan tidur. Bahkan di pagi ini, rasa nyeri itu semakin melilit dan mengganggu. Zahira bangun dari tidurnya dengan meringis.


"Mama!" panggilnya, Ayu memang sengaja tinggal di rumah itu memastikan keadaan Zahira.


"Zahira." Ayu mendekati kamar Zahira dengan wajah khawatir.


"Mama!" panggilnya terdengar sedang meringis.


Ayu langsung membuka pintu, dan sangat terkejut ketika melihat Zahira sedang bertopang di ranjang dengan memegangi perutnya.


"Sayang." Ayu bingung harus memegang bagian mana, namun akhirnya membantu Zahira kembali duduk di ranjangnya. "Jia!" panggil Ayu sedikit berteriak ke arah pintu, dia yakin gadis itu dapat mendengarnya karena jarak kamar mereka tak begitu jauh.


"Jia!" teriak Ayu lagi.


Jia datang dengan terburu-buru.


"Siapkan mobil kita akan ke rumah sakit." Ayu meraih tas Zahira dan membantu Zahira berdiri.


"Mama!" Zahira meringis kesakitan.


"Pak Teddy!" teriak Ayu lagi, namun tak mendengar sehingga ia harus keluar sebentar. "Pak, tolong bawa Zahira, dia tidak bisa berjalan." pinta Ayu kemudian segera kembali masuk kedalam dengan terburu-buru.


Pria itu mengikuti Ayu ke kamar Zahira, tambak Nyonya besarnya sedang meringis kesakitan. "Maaf Nyonya." ucapnya lalu menggendong Zahira dengan segera.


"Lebih cepat Jia." pinta Ayu kepada bodyguard cantik itu, dia mengangguk mengerti, menambah kecepatan dengan mata tajamnya fokus ke depan.


"Mama!" Zahira kembali merengek menahan sakit, tangannya berpegang kuat dengan tangan Ayu.


"Kau mengalami kontraksi Sayang." Ayu semakin cemas.


Hingga beberapa saat setelahnya mereka sudah sampai di rumah sakit. Kembali sopirnya menggendong Zahira dengan segera, menuju ruang biasa dimana Zahira periksa.


"Nyonya!" Dokter Amelia langsung mendekati Ayu yang mengikuti masuk ke ruang periksa.


"Sepertinya dia mengalami kontraksi."

__ADS_1


"Baiklah aku akan menanganinya." Dokter Amelia masuk ke ruangan tersebut.


Tak berapa lama Dokter wanita itu keluar dengan beberapa suster mendorong Zahira, mereka menuju ruang operasi.


"Dokter!" Ayu benar-benar sangat khawatir.


"Kami akan melakukan operasi, Bayinya sangat lemah dan ibunya juga lemah." Amelia menatap Ayu sejenak. "Bisakah anda menandatangani berkas secepatnya, operasi harus segera dilakukan." ucap Amelia bingung, bahkan Zahira hanya sendirian tanpa siapapun. Selama ini hanya Anggara yang selalu mengurus semuanya.


"Ya, lakukan yang terbaik." jawab Ayu pelan dan sedih. Tubuhnya sedikit gemetar dengan kenyataan yang terkadang berubah tanpa di duga. Harus operasi artinya bayi itu lahir prematur, dan kemungkinan?


Membuat ia tertegun untuk kesekian kalinya, tak terbayangkan betapa beratnya kehidupan yang dialami Zahira putrinya. 'Kapan semua selesai ya Allah?'


Hingga beberapa saat setelah Ayu menyerahkan berkas operasi itu kembali, beberapa dokter juga suster masuk ke ruangan operasi. Mereka sudah siap.


"Dok, aku ingin bertemu putriku sebentar." Ayu memohon.


"Ya, silahkan." Dokter Amelia mengizinkan.


Ayu segera masuk, ingin memberi semangat atau apapun itu, yang terpenting baginya harus tahu keadaan Zahira saat ini.


"Mama." panggil Zahira dengan wajah khawatir.


Ayu meraih tangan Zahira memegang dan menempelkan ke wajahnya. "Tidak apa-apa Sayang, semua akan baik-baik saja." ucap Ayu juga menutupi kekhawatirannya.


"Aku takut bayiku-"


Zahira mengangguk, sedikit lega Ayu selalu bersamanya.


"Mama akan menjagamu di luar." ucap Ayu lagi.


"Ya." Zahira mengangguk.


...***...


"Sayang."


Senyum manis nan hangat mengembang menyejukkan. Dia mendekat dengan langkah tegap, gagah, tampan dan bercahaya.


"Mas!" Zahira terpana dengan penampilan sempurna, pria tampan yang selalu dirindukan setiap harinya.


Dia semakin mengembangkan senyum.


"Mas, aku rindu sekali." tangis Zahira tanpa mengalihkan pandangan di wajah yang sangat tampan melebihi ketika dia masih hidup.


Dia hanya tersenyum, menatap penuh kasih sayang, mesra dan juga penuh kerinduan.


"Mengapa baru sekarang kau datang, aku sendirian." ucap Zahira lembut sekali, membenarkan jas berwarna silver kesayangannya.

__ADS_1


"Aku tahu Sayang." dia masih tersenyum dan memandangi wajah sendu Zahira, sepertinya dia tak pernah berkedip.


"Mas." panggil Zahira lagi, mengelus dadanya, tempat terdamai yang selalu menjadi favoritnya.


Terdengar suara bayi menangis, membuat mata penuh cinta itu mengalihkan pandangannya.


"Dia putri kita Mas." Zahira masih tak menurunkan tangannya di dada itu.


Dia melangkah mendekati bayi perempuan yang menangis. Menggendongnya pelan seperti saat menggendong Satria dan Sadewa. Seketika suara tangisnya mereda.


Zahira mendekati keduanya, sedih, rindu dan haru ketika menyaksikan pemandangan yang begitu menghangatkan hatinya. Zahira kembali menangis.


Anggara berbalik, menatap wajah sedih kesayangan itu lebih dekat.


"Bawa aku Mas." Zahira memeluknya erat, namun terasa hambar tak sehangat dulu.


"Kau masih sakit Sayang." dia duduk di ranjang diikuti Zahira duduk di sebelahnya.


"Aku tidak mau berpisah denganmu." air matanya tak henti turun dan mengalir.


Dia meraih bahu Zahira dan memintanya tidur di pangkuan. Satu tangan menggendong bayi, satu tangan memeluk dan mengusap rambut Zahira.


"Tidurlah Sayang, biar aku yang menjaga anak kita, kau sudah sangat lelah." ucapnya halus dengan usapan lembut membuat Zahira merasa nyaman.


'Rasanya damai sekali, telapak tangan yang halus itu terus mengelus. Rindu yang membuncah itu sedikit menemukan tempat, namun hati seolah teriris perih bukan kepalang. Entah apa yang terjadi sehingga sedihnya begitu menyiksa, hingga perutpun bergetar menahan tangis yang tak kunjung keluar suaranya.'


"Sayang."


Suaranya masih terdengar, berat dan penuh cinta.


"Sayang, bangun."


"Bangunlah Sayang, jangan seperti ini."


Sayup terdengar dan kemudian menjauh, samar terlihat sosok tinggi, tampan dan gagah itu keluar dengan membawa bayi yang juga tersenyum menatap wajah tampannya.


"Mas." Zahira memanggilnya. Tapi sepertinya tak di dengar.


"Mas!" pekiknya namun tetap tak di dengar, langkah semakin jauh, semakin samar di pandang dengan mata terbuka.


"Mas!" teriakan beserta tangisan serentak terdengar, Anggara menoleh, tersenyum dan kemudian semakin mengabur hilang seperti sebuah khayalan.


"Mas." lirihnya terus menangis, air matanya sudah membanjir.


"Sayang bangunlah, jangan seperti ini." kali ini bukan suara Anggara, tapi suara Ayu, ibunya.


"Sayang." suaranya terdengar khawatir, namun kembali mencari keberadaan Anggara. Matanya melihat sekeliling walau tak menemukan apa-apa, dia kembali menangis, memanggil-manggil Anggara dengan bingung.

__ADS_1


__ADS_2