
"Aku tak peduli." gumamnya, senyum sinis terbit dari sudut bibir Nyonya Carolina sambil menatap punggung Reza Mahendra berjalan hingga ke lantai atas.
Membiarkan putranya kesal dan merajuk, Nyonya Carolina tak ambil pusing. Baginya gadis pilihannya adalah yang paling baik.
Setuju atau tidak, restu orang tua memang menjadi sandungan bagi anak-anak. Tak sedikit hati anak-anak yang terluka karena tak mendapat restu orang tua, tak sedikit pula orang tua yang pada akhirnya kecewa karena anak-anak tak mendengarkan mereka. Semua bisa saling menyakiti karena sebuah hubungan yang terjalin atas nama 'Cinta'. Kita tak bisa memilih kepada siapa akan jatuh cinta, tapi cinta sendiri yang memilih, hati siapa yang akan menjadi tempat berlabuh.
Malam pukul 19:30. Reza Mahendra pergi ke rumah Anggara untuk menemui Zahira, wanita pujaan hati, janda cantik yang membuatnya resah karena cinta, gelisah karena rindu, Usia 33 tahun tak membuatnya malu, baginya ini adalah cinta pertama, pertama kali jatuh cinta dan punya tujuan untuk menikah.
Tiba di rumah besar itu, dua jagoan kecil sedang berdiri di halaman samping bersama Jia dan Hiko, mereka sedang belajar bela diri sambil bermain.
Reza mendekati mereka.
"Selamat malam Tuan Reza." Jia menyapa dengan sopan meskipun tanpa senyuman.
"Selamat malam." jawabnya tersenyum, kedua bola matanya langsung tertuju kepada dua anak laki-laki yang sudah berkeringat dan berdiri tak jauh darinya.
"Paman mau belajar bela diri?" tanya Satria mengelap keringatnya dengan tangan.
"Tidak, paman sudah bisa bela diri, walau sedikit." jawab Reza ikut mengusap keringat di kening Satria membuat rambutnya ikut basah.
"Kalau begitu Paman harus belajar lagi seperti kami. Ayah bilang, bela diri itu penting agar bisa menjaga ibu." ucapnya dengan mata bening penuh keyakinan, bagi Reza Mahendra itu sangat mengagumkan.
"Ya Sayang, sepertinya Paman memang harus belajar banyak, untuk membela dan menjaga ibumu."
Ucapan tak sengaja, membuat semua orang menoleh padanya.
"Maksud Paman, agar bisa seperti kalian, belajar bela diri untuk menjaga ibumu." Reza tersenyum aneh, mengusap tengkuknya sendiri.
"Itu bagus." Satria kembali mendekati Sadewa, mungkin dia percaya. Tapi tidak bagi dua orang dewasa Jia dan Hiko. Mereka tahu jika Reza Mahendra sedang gencar mendekati Zahira.
"Apa Nyonya kalian ada?" tanya Reza kemudian.
"Ada Tuan, tadi Nyonya sedang di ruang makan bersama Bibi." jelas Jia.
__ADS_1
"Terimakasih." Reza berbalik menuju pintu rumah Anggara, tujuan utamanya adalah bertemu Zahira.
"Non, ada yang datang." Bibi berbicara dengan mata melirik Reza yang sedang menuju ruang makan.
Zahira menoleh, kemudian tersenyum sedikit.
"Sayang, kau sedang apa?" Reza mendekat dan memegang kursi yang di duduki Zahira.
"Hanya mengobrol bersama Bibi." jawab Zahira sedikit mendongak, kemudian beranjak dan berjalan menuju ruang keluarga yang memang bersebelahan dengan ruang makan.
"Aku sengaja datang, karena besok aku harus pergi." ucap Reza lagi setelah duduk di sofa terpisah, namun berdekatan dengan Zahira.
"Pergi?" tanya Zahira sedikit heran.
"Ya, aku harus mengantar Mama pulang ke London, di sana lebih baik untuknya." jelas Reza.
"Di sini juga baik Mas, hanya keinginannya sedang tak sejalan denganmu. Apakah sebaiknya kau mengalah saja?" Zahira berkata dengan lembut sekali, membuat Reza tersentuh dan semakin sulit melepaskan Zahira.
"Mas, kita masih muda. Banyak cara untuk membuat diri sendiri bahagia. Sedangkan orang tua? Kita tidak tahu berapa lama lagi dia akan hidup? Mana tahu besok dia sudah pergi, atau lusa kita sudah tak bisa melihatnya lagi. Setelah semuanya terjadi kau akan menyesal. Egois tak pernah membawa hasil yang bahagia Mas Reza. Dan kesempatan tak akan datang dua kali."
"Justru karena kesempatan tak datang dua kali, aku tidak akan pernah melepaskan dirimu."
Jawaban yang tepat. Zahira menjadi pasrah mendengarnya.
"Besok pagi aku akan berangkat. Tidak lama, hanya sekitar satu Minggu. Itu juga aku akan mengunjungi ayahku pula di Singapura." jelas Reza lagi.
"Ayahmu tinggal di negara yang berbeda?" tanya Zahira sedikit penasaran.
"Ya! Aku hanya ingin melihat keadaannya, semoga dia sehat dan baik-baik saja.".
"Aamiin, tak ada rezeki yang lebih besar kecuali sehat." Zahira tersenyum manis sekaligus, memamerkan lesung pipi kesukaan Anggara.
"Benar Sayang." Reza menatap wajah cantik yang sedang tersenyum di hadapannya. Untuk sementara dia hanya bisa menikmati dari jarak meter. Berharap, juga berkhayal suatu saat akan dapat menyentuh dan menikmatinya tanpa jarak diantara mereka.
__ADS_1
"Hati-hati, sampaikan salamku kepada Ibumu Mas, walaupun beliau tak suka." Zahira tersenyum aneh, sedikit memaksa dan ragu.
"Aku tidak janji, aku tidak suka calon istriku di tolak." Reza tersenyum penuh pengertian.
"Di tolak atau tidak, kau harus menyampaikan salam ku."
"Ya." jawabnya mengalah. "Baiklah, aku harus pulang." Reza melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Hati-hati di jalan, untuk malam ini dan esok pagi." ucap Zahira hanya berbasa-basi.
"Terimakasih Sayang." Reza beranjak menuju pintu depan, berjalan sejajar dengan Zahira.
"Mau oleh-oleh apa?" tanya Reza kemudian setelah tak jauh dari mobilnya.
"Tidak ada." Zahira tersenyum lebar.
"Apakah seperti itu? bukankah seharusnya kau meminta sesuatu?" tanya Reza menatapnya dari samping.
"Sudahlah, lagipula kau pergi hanya sebentar. Setelahnya kita akan bertemu lagi dan bekerja bersama." Zahira mengantarnya hingga ke pintu mobil.
"Baiklah, aku akan menelepon mu setelah sampai di sana." sekali lagi menatap wajah cantik berbalut kerudung biru itu, satu minggu akan sangat lama baginya.
"Pulanglah." dan sekali lagi pula ia hanya tersenyum.
"Ya." Reza segera masuk ke dalam mobil, melaju pelan dan kemudian menghilang bersamaan ditutupnya gerbang rumah Anggara.
Zahira kembali masuk menuju kamar anak-anak, sepertinya mereka sudah selesai dan sekarang sedang mengganti baju.
Berbeda di jalan raya, Reza masih banyak berpikir. Ingatannya melanglang buana kembali pada masa Anggara masih hidup. Ia pernah mendengar Zahira merengek manja ketika pria itu akan pergi keluar kota. Meski hanya hitungan jam, tapi permintaannya banyak sekali.
'Mas, aku ingin di belikan tas, makanan khas di sana, dan apa saja yang bagus, oleh-olehnya harus banyak.'
Rengekan yang tak sengaja di dengar Reza kala itu, tak sengaja pula ia melihat bagaimana Zahira bergelayut manja dalam pelukan Anggara. Rasanya masih terlalu kecil harapan untuk memiliki Zahira seutuhnya. Jangankan memeluknya dan membiarkan dia bergerak manja dalam dekapan seperti yang dilakukan Anggara, ingin mendengarnya meminta sesuatu saja itu sangat tidak mungkin.
__ADS_1