
Tak berapa lama, mereka sudah tiba di depan rumah dua lantai. Zahira menatap keseluruhan rumah itu dengan tanpa terlewatkan, ada rasa nyaman juga rindu menyeruak, dia ingin segera masuk berlari menuruni tangga dan melihat seseorang yang datang.
Langkahnya pelan menuju pintu besar rumah itu, dari depan ia dapat melihat bahwa di dalam sana ia sudah sangat hafal, bermain, berlari, merengek meminta gendong seorang David.
"Gendong yang tinggi Papa!" pintanya sangat manja, suara kecil anak kecil itu menusuk telinganya hingga membuat jatuh air mata.
"Putri kesayangan Papa." ucap David memeluk tubuh kecilnya kala itu.
"Zahira! Habiskan makanannya!" suara khas seorang wanita, sedang mendekat dengan piring dan sendok di tangannya.
Langkahnya terhenti.
Juga Ayu yang sedang berjalan tak sengaja melihat Zahira sudah melangkah di ruang tamu, wanita itu menjatuhkan ponselnya tanpa sengaja.
"Sayang ada apa denganmu?" David melihat istrinya mendadak kaku, tapi kemudian juga David ikut terkejut.
"Zahira!" ucap David sungguh heran mengapa putrinya sampai datang ke rumah itu.
Zahira menangis tanpa bicara, langkah pelannya kembali maju.
"Sayang!" Ayu dan David mendekat bersamaan, mereka menatap heran tapi Zahira semakin mendekat dan bibir mungilnya terbuka.
"Papa, Mama!" dua tangan halus itu membentang meraih dua orang di hadapannya, mereka berpelukan melepas rindu, air mata dari ketiganya menetes penuh haru.
"Akhirnya kau kembali." ucap David pelan, setengah berbisik ia menikmati momen penuh haru itu.
Sejenak lalu kemudian Zahira melepaskan pelukan mereka, nafas ibu hamil itu naik turun di tengah dada. Mata beningnya melihat tangga di belakang David dan Ayu, kaki kecilnya sangat hafal dengan setiap rasa dari satu-persatu anak tangga itu. Di atas sana, dia tidur dengan nyenyak tanpa ada yang mengganggu termasuk Raditya.
Radit!
ingatannya menerawang ketika mereka di besarkan bersama, mereka bermain bersama, anak laki-laki itu selalu mengalah walaupun Zahira nakal dan menangis, bahkan sikapnya lebih dewasa daripada Zahira yang lebih tua.
"Kau mau kemana Sayang?" Ayu menahan tubuh Zahira saat ia hendak melangkah naik ke atas sana.
__ADS_1
"Aku ingin ke kamarku Mama." jawabnya halus.
"Ah, kita duduk sebentar. Ke kamarnya nanti saja setelah kita minum teh, kau pasti lelah." Ayu sengaja menahannya.
"Aku tidak lelah, aku hanya ingin melihat sebentar." ucapnya tak ingin di cegah.
"Ta-, tapi!"
Suara langkah kaki menuruni tangga membuat semua orang menoleh, tak terkecuali Jia yang sudah pernah melihat orang itu. David yang bingung juga Ayu yang sangat khawatir, tapi tidak dengan Zahira.
Radit menatap Zahira sambil menuruni tangga, matanya tak berkedip juga tak berpaling dari wajah cantik sempurna itu. Semakin dekat semakin bahagia pula hatinya, semakin menuntut pula rindu di dalam hatinya, ingin sekali langsung memeluk erat dan mengecup pipi kiri yang berlesung pipi itu. Mata mereka beradu, senyum Radit menjadi hipnotis yang membekukan saraf-saraf di tubuh Zahira, pria itu menyambut kedatangan tak terduganya dengan tatapan kehangatan yang selalu terpancar mesra.
"Mau ke kamarmu?" tanya Radit, mata tajamnya tak melepaskan wajah Zahira.
Tapi ucapan dan suara Radit membuat Zahira tersentak, ia merasa sudah pernah mendengar ucapan itu, ia sering mendengar ucapan mesra itu. Ingin sekali ia bahagia dapat mendengarnya lagi.
Tapi
Wanita itu menatap Zahira dengan senyum kemenangan sambil terus melakukan hal panas itu pada Raditya yang membelakanginya di sofa apartemen saat itu.
Hati Zahira bergemuruh hebat, jantungnya berdetak seakan mau meledak. Walau terdengar langkah kaki di belakangnya mendekat namun Zahira tak peduli, ia sedang menahan emosi juga kesakitan yang hadir tiba-tiba terulang kembali. Mata indahnya mengabur oleh air mata yang menyelimuti, meski sekuat hati untuk menahan tapi akhirnya butiran bening itu jatuh juga.
"Zahira." panggil Radit pelan sekali, jarak wajah yang sangat dekat membuat ucapan itu seperti berbisik. Tangan Radit terangkat ingin meraih tubuh yang ia rindukan.
Sadari sesuatu yang terasa bergerak di dalam rahimnya, mereka seolah tahu jika ibunya sedang merasa hampa. Tangan Zahira bergerak dan memegang perut besarnya, merasakan pergerakan tak terduga walau tak begitu kuat. Matanya beralih menatap benda-benda di belakang Radit, ia mengatur nafas dan sebuah akuarium mencerminkan seorang laki-laki gagah berdiri tanpa bicara ia sedang menatapnya sendu.
"Zahira!" panggil Raditya lagi, kali ini tangan Radit meraih satu tangan Zahira namun wanita itu menghindar.
Dia berbalik, berjalan sedikit lebih cepat membiarkan hijab juga pakaiannya sedikit melayang, hingga beberapa langkah tangannya terulur, menyelip di antara dua tangan Anggara dan memeluknya erat sekali.
Anggara tersenyum sedikit, membiarkan kepala Zahira terbenam di dada bidangnya. Tentu saja ia membalas pelukan hangat itu dengan penuh kasih sayang.
"Kau meninggalkanku." ucap Anggara pelan.
__ADS_1
Kepala berkerudung itu menggeleng, ia masih menikmati wangi khas pria dewasa itu hingga memejamkan mata.
"Zahira!" Radit meraih tangan yang bertaut di pinggang Anggara dengan gerakan sedikit memaksa. "Dengarkan aku, aku suamimu Zahira, tinggalkan dia!" ucap Radit dengan wajah memohon.
Zahira menarik tangannya, ia tak suka Radit memegang apalagi sedikit memaksa.
"Kau lupa jika kalian sudah berpisah." ucap Anggara, tangan kokohnya memegang dan membebaskan lengan kecil itu dari Raditya.
"Heh, aku tidak pernah menjatuhkan talak padanya. Lalu bagaimana kami bisa bercerai?" Radit masih bersikeras dengan pendapatnya.
"Bahkan akta cerai dari pengadilan sudah ada di tanganku." Anggara memeluk Zahira dan menjauhkan dari Radit.
"Itu kau yang membuatnya, kau bersama asistenmu itu merekayasa perceraian tanpa setahu diriku, juga Zahira." Radit tampak sangat emosi.
"Aku tidak merekayasa apapun."
"Bohong, kau menipu dan membuat semuanya seolah-olah aku yang bersalah."
"Kau memang salah."
"Aku tidak bersalah, aku hanya sedang terjebak dan aku ingin mempertahankan istriku, aku masih suaminya."
"Kau bukan suaminya." teriak Anggara tersulut emosi.
"Aku masih suaminya!"
"Kau bahkan sudah menganggapnya mati!" geram Anggara, pria dewasa itu mengajak Zahira pergi dari rumah David.
"Radit!" panggil Ayu menyadarkan putranya, terpaku dengan mata menatap kosong, wajah sendu namun dadanya bergemuruh hebat.
Radit menunduk, ia sedang memikirkan bahwasanya apa yang di katakan Anggara ada benarnya, Radit sudah menganggapnya mati!
"Aku bersumpah akan merebut istriku kembali!" Radit mengepalkan tangannya, ia benci sekali melihat pria tua itu mengendalikan Zahira, dia hanya memanfaatkan Zahira, dia hanya menipu Zahira. Pikiran kacau itu menguasai kepalanya, dia benar-benar ingin bermusuhan dengan Anggara.
__ADS_1