Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
276. Menjaga diri


__ADS_3

"Kuncinya dimana?" Jia berbicara sendiri, wajah cantiknya terlihat panik membuka laci dan melempar semua barang yang mungkin di sana kunci kamarnya bersembunyi.


"Bibi!" Teriak Jia menepuk dan memukul pintu hingga beberapa kali. Namun teringat jika Bibi Lastri tidak ada di rumah, dia sedang cuti tiga hari, dan sore nanti baru akan kembali.


"Sial!" Jia menendang pintu, dia mencari ponselnya, meraih jaket yang tadi di lepas sebelum beristirahat.


Beruntung ponselnya ada, Jia segera menghubungi bodyguard lainnya yang ada di depan.


"Mengapa tidak diangkat!" Kesalnya sudah berkali-kali mengulang panggilan dan mengulang lagi.


Biasanya mereka yang berjaga di depan akan sangat cepat mengangkat telepon.


Ternyata mereka sedang berbicara dengan Radit. pria muda yang sempat di larang masuk itu sedang menjelaskan banyak hal tentang Reza Mahendra.


"Tom, telepon berbunyi!" Seseorang kepada bodyguard muda yang juga menjadi sopir by yang sesekali menggantikan Teddy.


Pria itu segera masuk pos jaga mengangkat telepon yang sudah beberapa kali berdering.


"Halo!"


"Kenapa lama sekali? Cepat masuk dan keluarkan aku dari kamar, aku sedang terkunci. Nyonya di lantai atas, aku khawatir terjadi sesuatu padanya!" Teriak Jia sudah habis kesabaran.


"Baik Nona." jawab Tomy cepat, pria itu berlari sambil mengajak rekan lainnya masuk ke dalam.


"Ada apa Tom?" tanya seorang bodyguard lainnya.


"Nyonya di atas, Jia terkunci di kamar." ucapnya buru-buru.


Tanpa bicara lagi Radit masuk melewati dua orang yang tetap di posisinya, tak peduli apapun juga baginya Zahira lebih penting.


"Kalian buka pintu kamar, aku ke atas." Seorang bodyguard naik bersama Radit yang sudah lebih dulu berada di tangga.


Tentu Radit tak akan membuang waktu menuju kamar Anggara dan ingin tahu apakah Zahira baik-baik saja.


Pintu kamarnya tertutup, Radit berdiri dengan memasang telinga, begitu juga dengan seorang bodyguard Anggara yang bersamanya.

__ADS_1


Mereka saling pandang, lalu kemudian Radit membuka pintu.


Seseorang sedang duduk memandangi Zahira yang sedang tidur nyenyak, pria berperawakan tinggi dan gagah itu sedang memegang selimut Zahira. Dia menoleh melihat kedatangan Radit dan satu rekannya.


Radit masuk dengan langkah di buat sepelan mungkin, menatap tajam pada pria yang dengan tidak sopan masuk dan memegang selimut Zahira.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Radit menatapnya semakin menusuk.


Tak lama kemudian Jia dan yang lain juga sudah menyusul, wanita kurus dengan tatapan seperti elang itu langsung menendang Teddy dengan sekuat tenaga.


"Aku tidak melakukan apa-apa!" ucapnya memegangi perutnya yang baru saja di hantam kaki Jia.


"Apapun alasannya, sudah melanggar jika berani memasuki kamar Tuan Anggara!" bentak Jia.


"Aku hanya membenarkan selimut, tadi aku mengambil kunci mobil yang ketinggalan saat aku memberikan air putih untuk Nyonya, lalu melihat selimutnya terjatuh." jelas Teddy dengan wajah bersungguh-sungguh.


"Sudah kukatakan memasuki kamar Tuan Anggara saja kau sudah melanggar peraturan. Apalagi sampai memegang selimut dan melihat majikanmu sedang tidur tanpa penutup kepala!" Jia menunjuk Zahira yang mendadak bangun dengan keributan di kamarnya, benar saja dia tidak memakai kerudung, rambutnya tergerai bebas, halus dan indah.


Bodyguard yang lainnya menunduk takut, tak berani menatap Zahira, mereka berdiri di luar pintu.


Radit masih diam menatap lurus wajah pria yang tak melawan itu, hingga kemudian pria itu keluar dengan masih memegang perutnya, melewati Radit tanpa menoleh ataupun marah, dia seperti seorang laki-laki yang kecewa.


Zahira menatap semua orang bergantian, dia bingung dengan apa yang sedang mereka ributkan, pengaruh obat membuatnya belum sadar sepenuhnya.


Jia mendekati Zahira, gadis itu menarik selimut dan melihat bagaimana keadaan Zahira.


"Ada apa?" Zahira bertanya dengan wajah bingung.


Jia tak menjawab, menuju sebuah laci yang terkunci, membukanya dan mengeluarkan laptop berwarna hitam. Dia mengecek CCTV khusus di kamar itu.


Radit masih menahan nafas, ketika melihat layar, tapi kemudian mengembuskan nafas lega. Dia mendekati Zahira.


"Dia tidak melakukan apa-apa padaku." ucap Zahira ikut melihat layar laptop yang dinyalakan Jia.


"Belum, tapi lain kali jika ada kesempatan dia akan tertarik untuk melakukannya." ucap Radit terus memandangi Zahira.

__ADS_1


"Nona tidak mengunci pintu." Jia ikut bicara.


"Aku lupa." Zahira memang tidak menguncinya, dia sangat lelah dan mengantuk.


"Kau juga lalai, harusnya selalu mengunci pintu saat tidur apalagi sendirian. Laki-laki akan berpikiran berbeda jika melihat seorang wanita tidur tanpa mengunci pintu. Apalagi dengan status sepertimu, bahkan ada laki-laki yang berpikir jika kau memang menginginkannya." ucap Radit sedikit kesal.


"Aku tidak menginginkannya." jawab Zahira pelan.


"Sepertinya dia jatuh cinta padamu." Jia juga memandangi Zahira.


"Singkirkan pria itu sebelum cintanya menjadi setan, dia bisa lupa diri dan nekat untuk mendapatkan keinginannya." ucap Radit lagi.


"Apakah semua pria seperti itu?" tanya Zahira menatap jauh keluar jendela.


"Tidak semua laki-laki seperti itu!" Radit menyahut cepat, tapi kemudian menyadari sesuatu. "Suamimu tidak seperti itu." lanjut Radit, kemudian ia membelakangi Zahira. Entah apa yang sedang ia pikirkan sehingga dia berbalik dengan wajah sedih.


"Aku akan mengurusnya." ucap Jia membuka ponselnya menghubungi seseorang, dia berbicara di depan kamar Zahira.


"Jika tidak bisa menjaga diri, lebih baik pulang ke rumah saja. Paling tidak ada Mama yang akan menemanimu." Radit melangkah keluar bergantian dengan Jia yang sudah masuk kembali. Tapi pria itu terus melangkah menuruni tangga, mungkin dia lelah.


beberapa saat hening di kamar itu, mereka sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Jia." panggil Zahira kemudian.


"Menjadi janda itu sulit Nyonya, dan itu takdir bukan pilihan." Jia langsung berbicara, sepertinya itu adalah yang menjadi bahan pikirannya.


Zahira mendengarkan bodyguardnya tersebut.


"Seorang wanita akan kesulitan menjaga diri, karena seorang wanita itu adalah tulang rusuk, dia butuh dilindungi." lanjut Jia lagi.


"Pelindungku sudah tiada Jia! Aku tidak akan mendapatkan gantinya, jadi lebih baik aku tidak berniat menggantinya." jawab Zahira memandangi foto Anggara.


"Dia orang baik Nona, di surga dia memiliki banyak kebahagiaan, ada bidadari yang mengelilinginya, ada putrimu bersamanya. Dan hidupmu masih panjang, kau lebih muda dariku. Percayalah Tuan Anggara bukan orang yang egois, kebahagiaanmu juga kebahagiaan baginya."


"Kau memintaku menikah lagi?" tanya Zahira menoleh Jia.

__ADS_1


"Hanya ketika kau menyadari jika suatu saat kau butuh seseorang bersamamu. Yakinlah kesendirian seseorang seperti dirimu akan memancing kerumitan itu mendekat, banyak laki-laki yang akan mendatangimu. Berbeda jika kau sudah menikah, suamimu akan menjadi pelindung dan penjaga bagimu, seperti pagar rumah yang tinggi, tak ada siapapun yang akan masuk kedalamnya tanpa izin dan keinginannya."


__ADS_2