Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
68. Mengapa kau pergi


__ADS_3

Radit pulang dengan hati sedikit tenang, pria tampan itu masih memikirkan Zahira namun entah mengapa kali ini ia tak begitu menghawatirkan kesalahannya, ia berpikir Merry juga istrinya dan tidak salah jika satu waktu ia habiskan bersama, mengingat ada calon anak di dalam perut wanita itu, sedikit waktu untuk membahagiakannya bukanlah sebuah dosa.


Mobil memasuki halaman rumah David, Radit melihat sekeliling tak ada mobil ayahnya.


"Kemana Papa?" tanya Radit pada satpam yang berjaga, karena akhir-akhir ini David sakit, tak mungkin bepergian tanpa hal yang mungkin sangat penting.


"Tuan pergi ke rumah sakit Mas, kata pak polisi Non Zahira kecelakaan." pak satpam senior menjawab, pria yang sudah berumur itu menatap Radit dengan tatapan sulit diartikan.


"Kecelakaan dimana? Bagaimana keadaannya?" Radit mulai panik.


"Kecelakaan di jalan menuju kampusnya Non Zahira dan sudah di bawa ke rumah sakit, sepertinya rumah sakit terdekat Mas." jelasnya lagi.


Radit masuk kembali ke dalam mobilnya, ia melaju sedikit kencang dengan perasaan cemas.


'Apa yang terjadi pada Zahiraku? Sungguh aku berharap dia baik-baik saja. Lepas dari keras kepalanya yang tak mau menerima penjelasan dariku, dia tetaplah istriku, pasangan hidupku dari kecil hingga kini, walaupun aku sudah akan memiliki anak dari Merry, cinta ku hanya untuk Zahira seorang. Sayang, aku harap kau mau memaafkan aku setelah semua ini.'


Radit mengemudi dengan pikiran tak menentu, ia tak pernah berhenti memikirkan wajah cantik Zahira.


Sampai di rumah sakit Radit segera turun dan melihat ada mobil David terparkir di halaman depan. Ia segera masuk dan mencari keberadaan Zahira.


"Mas Radit!" suara sopir pribadi pak David menghentikan Radit yang baru akan bertanya.


"Pak, dimana Zahira, Papa dan Mama?" tanya Radit sudah tak sabar.


"Non Zahira ada di sana!" pria itu membawa Radit menuju kamar pojok yang sepi.


"Mengapa di sini?" Radit melihat seluruh kamar tampak sepi, hanya ada dua polisi yang masih setia berjaga.


"Anda siapa?" tanya Polisi pada Radit.


"Saya suami dari pasien bernama Zahira." jawabnya masih terlihat bingung.


"Oh, istri anda ada disini." polisi itu membuka pintu dan mempersilahkan Radit masuk.

__ADS_1


Radit melangkah masuk dengan perasaan tak menentu, hingga berhadapan dengan sosok yang di selimuti kain putih yang polos.


"I_ini." Radit sangat gugup juga takut.


"Ini adalah jenazah istri anda." jawab polisi yang sudah sangat dewasa itu pada Radit.


"Tidak mungkin Pak, istriku..., dia.., dia!" Radit membuka kain penutup itu dan membuat ia lebih terkejut.


"Ini bukan istriku!" teriaknya histeris.


"Maaf, ini istri anda yang ikut terbakar bersama mobilnya BMW keluaran 2003." tegasnya lagi.


"Tidak, tidak mungkin. Istriku masih hidup dia tidak mungkin meninggalkan aku." Radit mulai tak terkendali, air matanya turun deras tanpa permisi. Mata sipitnya semakin kecil dengan uraian air mata serta tangisan memilukan dari seorang suami yang kehilangan istri.


"Itu barang-barang yang kami temukan." polisi itu menunjuk cincin dan Bros milik Zahira.


Radit menatap benda yang terbungkus plastik itu, meraihnya dengan tangan bergetar. Tangisnya kembali pecah menyaksikan namanya terukir indah di dalam lingkaran pengikat cinta mereka. Ia juga menatap cincin di jarinya, masih melekat erat dengan nama gadis cantik itu terukir indah di dalamnya, melingkar di jari manis, seperti halnya cincin pasangannya melingkar di jari manis itu hingga ajal menjemput.


"Zahira! Maafkan aku." ucapnya terduduk lesu, pria itu menangis pilu menggenggam kedua benda milik istrinya, istri cantik kesayangannya.


"Zahira, mengapa kau tega meninggalkan rasa bersalahku yang begitu besar ini. Harusnya kau menghukumku, memukulku, juga menyakitiku. Balas aku Zahira, bangunlah dan bunuh saja aku."


Pria itu terus meratapi kepergian Zahira hingga berjam-jam sendiri di dalam sana, berharap yang ada di hadapannya bukankah Zahira, tapi kenyataan jelas berbeda, dia sudah tiada.


"Radit!"


Ayu masuk dengan wajah sembab penuh air mata, wanita itu mendekati putranya yang masih berlutut di hadapan jenazah Zahira.


"Mama, dia pergi meninggalkan aku, dia membawa rasa sakit dan kecewa karena diriku, dia menangis kemarin dan sangat membenciku." ucapnya masih terisak.


"Mama juga merasa bersalah karena tidak bisa menjaganya nak, Mama gagal membuat dia bahagia." ucap Ayu tak kalah pilu.


"Aku bersalah Ma, baiknya akulah yang mati, bukan Zahira." ucapnya lagi.

__ADS_1


Jelas terbayang di matanya kisah belasan tahun mereka habiskan berdua, Zahira kecil yang cantik dan lincah, Zahira kecil yang menjadi rebutan teman-teman di sekolah, hingga mereka beranjak dewasa dan gadis itu semakin cantik saja, lalu berakhir dengan jatuh cinta yang nyata.


Gadis berlesung pipi dengan suara lembut dan halus, wajah cantik mendamaikan siapa saja yang melihatnya, dengan sejuta sikap manis dan beribu kemanjaan, dia selalu membuat Radit bahagia dengan menatap dan menyebut namanya.


"Zahira!" panggilnya tak kuasa menahan sakitnya kehilangan.


"Kita harus mengurus pemakaman Zahira, Papamu terkena serangan jantung dan masih di rawat. Mama bingung harus bagaimana?" Ayu menangis lagi, tubuh semampai itu kian bergetar dengan wajah yang semakin pucat.


"Nyonya, apa sebaiknya saya pulang lebih dulu untuk menyiapkan segala sesuatu di rumah?" tanya sopir yang selalu setia itu.


"Tolong pak, katakan pada yang lain untuk mengurus semua keperluan pemakaman Zahira, sungguh aku bingung dan tidak tau harus bagaimana." ucapnya lemas sekali.


"Baik Nyonya." jawabnya sopan.


Sementara di lokasi kecelakaan, tampak beberapa polisi masih sibuk memasang garis berlapis dengan berbagai kayu dan besi untuk menghadang dan mencegah terulangnya kecelakaan untuk sementara. Jalan yang memang sudah rusak dan pagar yang sudah hancur itu sering kali di singgahi mobil dan tak sedikit yang melaju hingga ke dalam jurang di bawah sana.


Anggara


Pria itu terduduk lemas enggan beranjak dari bangkai mobil yang sudah gosong itu, ia mencoba mencari apa saja yang mungkin tersisa namun sia-sia, tak ada yang tersisa selain kenangan.


'Setelah semuanya selesai, aku yang akan datang padamu.'


Suara lembut itu masih terngiang dan senyum manisnya masih begitu dekat membayang, menghiasi pelupuk mata Anggara.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit, mungkin mereka akan mengemas jenazah dan bersiap untuk di makamkan." ucap Ricky yang selalu setia.


"Aku tidak percaya dia sudah pergi." jawab Anggara masih tidak terima.


"Aku juga tidak percaya." bahkan kemarin dia bilang padaku untuk terus membantunya hingga ketok palu." jawab Ricky.


"Dia sudah berjanji akan datang padaku setelah hari itu terjadi." Anggara menunduk bersedih.


"Kita lihat ke rumah sakit." ajak Ricky lagi.

__ADS_1


"Aku merasa dia masih di dunia ini, aku tidak mau memakamkannya, dia bukan calon istriku." ucap Anggara masih tak beranjak.


__ADS_2