
"David, aku akan pergi ke Malaysia siang ini. Aku mendapat kabar jika Radit sudah mulai bisa di ajak bicara, aku harus ke sana melihat keadaannya." Ayu berbicara pada David di pagi itu.
"Kau tidak bisa pergi, bukankah nanti siang kau ada rapat bersama rekan bisnismu termasuk Anggara." David menatap Ayu sekilas.
"Ah, aku hampir lupa. Lalu bagaimana dengan Radit?" ucapnya bingung.
"Besok saja kita pergi bersama." usul David pada istrinya.
"Baiklah. Apa sebaiknya kau ikut David?" tanya Ayu pada David sebelum ia berangkat.
"Aku sedang malas kemana-mana, lebih baik aku kekantor, lagi pula perusahaan Zahira tidak butuh rapat tahunan untuk mendapatkan proyek baru." David sangat yakin.
"Kalau begitu aku pergi sendiri, setelahnya aku akan pulang." Ayu menenteng tas kecil mewah miliknya.
"Hati-hati." ucap David ketika tangan Ayu meraih tangan dan mengecup pipi David.
"Iya."
Pagi itu di Hotel Anggara, ruangan besar itu sudah di penuhi semua peserta rapat. Terdiri dari banyak pimpinan perusahaan besar juga menengah, dan pimpinan rapatnya selalu Anggara, pria itu pemilik saham terbesar dan terkaya di banding yang lainnya.
"Selamat pagi!" sapa Anggara tersenyum dengan wajah segar dan tampan.
"Selamat pagi Tuan Anggara." serentak mereka menjawab sapaan ringan dari seorang bos besar itu.
Waktu berjalan perlahan, hingga akhirnya rapat selesai dengan sedikit obrolan ringan kali ini, menikah beberapa hari membuat sosok Anggara berubah menjadi lebih hangat.
"Aku dengar kau sudah menikah Tuan Anggara?" salah satu pria berkepala botak bertanya, pria itu duduk tepat di samping Anwar.
"Ya, itu benar. Maaf tidak dapat mengundang kalian semua karena memang hanya di lakukan secara sederhana dan kekeluargaan saja." Anggara tersenyum penuh wibawa.
"Oh, sayang sekali padahal kau adalah pengusaha hebat, dari segi keuangan dan persiapan tentunya bukan masalah." pria itu berkata lagi.
"Istriku orang yang sederhana, tidak ingn pernikahannya terlalu mewah." jelas Anggara dengan wajah yang terlihat amat bahagia.
__ADS_1
"Anda beruntung sekali, ku kira wanita seperti itu sudah punah di dunia ini." dia tergelak di iringi yang lainnya.
"Mungkin karena dia menikah dengan wanita yang sangat cantik, sehingga tak memperbolehkan semua orang melihatnya, bahkan media sedang di buat penasaran dengan wajah dan namanya." Mereka terlihat bersemangat membahas pernikahan bos besar itu.
"Benarkah?" yang lain semakin penasaran mendengarnya.
"Benar! Aku hadir di pernikahannya hari itu." salah satu pria muda menjawab, membuat iri yang lain karena sebagian besar mereka tidak di undang.
"Istriku biasa saja, hanya bagiku dialah yang paling cantik." jawab Anggara semakin menghangatkan suasana.
"Benar sekali." ada saja yang menyahut, namun mereka yakin jika istri Anggara pastilah sangat cantik.
Ayu masih tak angkat bicara, wanita itu hanya ikut tertawa dengan mata sipitnya tak berhenti memperhatikan Anggara. Mengapa hari ini Anggara sebahagia itu? Tak biasanya pria pendiam itu menjadi ramah dan banyak bercerita, sepertinya dia sangat bangga menikah dan memiliki istri yang belum di publikasikan olehnya, Ayu sungguh-sungguh penasaran. Dan anehnya Anggara tak terlihat menatap ke arahnya apa lagi menyapa seperti biasa.
Ruangan sudah mulai sepi, selesai berjabat tangan masing-masing mereka pamit undur diri. Tak kecuali Ayu tentunya, wanita itu mendekat dan berjabat tangan seperti yang lain.
"Mengapa tak memberi kabar jika kau sudah menikah?" tanya Ayu memberanikan diri.
"Hanya acara sederhana." jawab Anggara singkat juga tidak terlihat ramah.
"Bahkan jika aku menyukaimu, tidak akan membuat nyawa gadis itu kembali." jawabnya dengan tatapan es.
"Ku harap kau tidak lupa bahwa aku ibunya." Ayu mencoba mengingatkan.
"Aku tidak lupa, sama sekali tidak lupa termasuk ketika mobil yang sudah berumur dua puluh tahun itu terbakar habis bersama seorang gadis." Anggara sedikit tersenyum.
"Kau pikir aku tidak bersedih, aku membesarkannya hingga dewasa, dan sekarang harus kehilangan itu sungguh-sungguh menyakitkan. Kehilangan seorang putri, dan putraku mengalami depresi, apa itu tidak cukup membuat aku sangat menderita? Kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya."
"Aku mengerti! Yang aku tidak mengerti kalian sama sekali tidak merasa bersalah dengan peristiwa mengerikan itu. Bagaimana jika sebaliknya, putramu yang hangus terbakar dengan membawa luka hati karena istrinya sudah hamil dengan pria lain?" Anggara sudah tak dapat menahan emosi.
Mata coklatnya beralih pandang pada pria yang menunduk tak berkutik di mejanya. "Bagaimana jika putrimu yang harus meregang nyawa ketika suaminya tidur berdua dengan wanita lain, apa kau tidak sadar putrimu sudah keterlaluan? Tidakkah kau mengajarinya menjadi orang yang baik, tidak menjadi wanita murahan!" bentaknya membuat beberapa orang terdiam.
"Maaf, itu di luar kendaliku. Aku bahkan tak pernah mengurusnya setelah dia melakukan kesalahan itu." jawab Anwar memberanikan diri.
__ADS_1
Anggara mendelik tajam kepada Ayu, bibir tipisnya tersenyum sinis. "Kau bahkan memeliharanya."
Ayu sudah tak mungkin menjawab dan berdebat dengannya, dia berlalu dengan menahan sesak di dalam dadanya.
"Kita sudah selesai, aku permisi." Anggara meninggalkan ruangan dengan beberapa orang masih tak berani beranjak. Untuk pertama kalinya mereka melihat kemarahan Anggara.
Sedangkan Anwar tak berani mengangkat wajahnya, pria itu sungguh malu kenyataan tentang putrinya di buka di depan rekannya yang lain. Tapi tak hanya malu, dia juga bangga dengan kemarahan Anggara, seakan memberitahu rekannya bahwa saat ini dia sedang berbesanan dengan keluarga David, keluarga dengan Dua perusahaan besar yang cukup disegani, tentu dapat mengangkat popularitas dirinya di dunia bisnis.
*
Sedangkan di tempat lain, gadis itu sedang menikmati berbelanja bersama seorang wanita Lima puluh tahunan, tangan kecilnya sibuk meraih berbagai keperluan dirinya.
"Tidak yang ini Non, kita akan mencari tas yang lebih bagus." tangan wanita yang sudah berumur itu menahan tangan Zahira saat meraih tas cantik di dalam sebuah kaca.
"Ini bagus Bibi."
"Tapi ada yang lebih bagus." Bibi tersenyum.
Mereka menuju toko berdindingkan kaca yang penuh dengan tas terpajang di dalamnya.
"Ambilah sesuka hatimu." ucap Bibi padanya.
Zahira mendekat dan mengambil tas yang terpajang paling depan, senyum bahagia mengembang menatap tas yang begitu cantik dan elegan, dia menyukainya.
"Kita pulang Bibi." ajaknya sudah puas berkeliling di pusat perbelanjaan raksasa itu.
"Ayo." bibi juga mengikuti langkah Zahira keluar dari sana.
"Dia belum bayar!" wanita itu berteriak menunjuk Zahira sehingga membuat heboh semua pengunjung juga sejumlah keamanan yang berjaga di pintu keluar, mereka berkerumun mengepung Zahira dan Lastri di ambang pintu.
Berpuluh tatapan tajam juga menghina terlihat menghakimi kedua orang beda usia itu, namun tak terlihat kekhawatiran di wajah wanita tua yang malah tersenyum menoleh wanita yang sedang merasa menang.
*
__ADS_1
*
*