Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
151. Takut dengan kenyataan buruk


__ADS_3

Pertempuran sehabis subuh itu menyisakan lelah di tubuh keduanya. Mendung dan gerimis halus membuat suasana menjadi sangat pas untuk menghabiskan hari libur di dalam kamar yang nyaman di rumah besar Anggara.


Wajah putih bersih nan cantik masih terlelap dengan nafas teratur menggelitik di telinga Anggara, pria tampan itu sengaja menyembunyikan wajahnya diantara bahu dan leher Zahira, tidur lebih rendah, memeluk mesra dengan wangi nafas yang ikut terhirup ketika ia juga menarik nafasnya, menjadi kesenangan tersendiri bagi pria dewasa itu di beberapa waktu terakhir ini.


Tangan halus itu terangkat, meraba wajah yang setia menempel, mengelusnya sejenak hingga terasa bulu-bulu kasar di sekitar bibir dan dagu Anggara menusuk di jemari halusnya. Dia membuka mata, menoleh dan menatap wajah tampan itu sedari dekat.


Senyum manisnya terbit, bibir merah itu tertarik indah dengan mata yang sengaja tidak ia buka semuanya. Mengelus dan mengusap wajah tampan yang selalu memujanya setiap waktu.


Tiba-tiba tangan kecil itu tertangkap dan Anggara langsung menggigit jarinya.


"Awh." tidak sakit tapi itu cukup membuatnya terkejut.


"Aku ingin memakanmu." ucap Anggara dengan suara beratnya, mata cokelatnya masih belum terbuka.


"Aku lapar!" rengeknya manja, mencoba menarik jari yang tertangkap, kini di genggam semakin erat.


"Sebentar Sayang." ucap Anggara masih memejamkan matanya dengan nafas teratur.


Zahira menarik tangan Anggara untuk mengelus perutnya. "Mereka sudah meronta-ronta ingin makan." ucapnya lagi.


Mendadak mata yang tertutup itu terbuka lebar, beranjak dari posisinya menjadi lebih dekat dengan perut yang bergerak seperti gelombang. "Mereka kuat sekali!" Anggara keheranan dibuatnya. Pria dewasa itu terus mengusap memberikan kehangatan pada tiga orang sekaligus. Zahira menyukai sentuhan itu.


"Ini sudah hampir tujuh bulan, sebentar lagi aku akan benar-benar menjadi seorang ayah." Anggara memeluk, mengusap dan mengecup tempat mereka bergerak.


"Sekarang saja kau sudah menjadi Ayah." jawab Zahira, tangan lentiknya mengusap kepala Anggara.


"Terimakasih Sayang." ucapnya begitu bahagia.


"Untuk apa? Bahkan aku sangat menginginkan anak-anak kita cepat lahir ke dunia. Sempat putus asa karena harus menerima kenyataan Radit mempertahankan Merry karena anaknya, aku merasa tidak berguna. Dan hanya kau yang mau menerima aku, harusnya akulah yang berterimakasih padamu."


"Aku menginginkanmu Zahira Sayang, untuk menjadi istriku, juga ibu dari anakku." jawab Anggara tulus.


"Aku tidak tau alasanmu, bukankah di luar sana banyak wanita yang lebih baik daripada aku? Dan sudah tentu mereka tidak akan menolak."


"Aku hanya tidak ingin kau menolakku." jawab Anggara menghirup wanginya lengan halus Zahira.

__ADS_1


"Kapan aku menolak?" tanya Zahira tertawa menggoda.


"Ah, benar juga. Istriku selalu meminta." bisiknya menggelitik telinga Zahira.


"Mas, aku lapar!" teriaknya sambil tertawa.


"Aku juga lapar Sayang." Anggara terus saja memeluk erat, sesekali menggelitik dan membuat Zahira tertawa lepas, suara bahagianya terdengar hingga keluar.


Jia yang baru saja memasuki lantai dua langsung menghentikan langkahnya. Bibir tipisnya tertarik, tersenyum mendengar tawa yang tak biasa, tawa bahagia begitu lepas dari kamar majikannya.


"Ada apa?"


Suara laki-laki di sampingnya membuat ia kembali memposisikan bibirnya hingga sedikit mengerucut.


"Mereka sedang bahagia, sebaiknya kita kembali kebawah." Akbar memberi saran untuk wanita cantik itu.


Jia tak menjawab, ia berbalik menurut saran Akbar.


"Apa kau tidak ingin hidup bahagia seperti Zahira?" tanya Akbar di sepanjang menuruni tangga.


"Maksudku bukan itu Jia!" Akbar menghentikan langkahnya, juga tangan kekar itu meraih lengan Jia.


Jia tak bergeming, tidak terbiasa menerima sikap lembut seorang lelaki, tapi tak mampu menolak saat ini. Sepuluh hari ia di rawat, Sepuluh hari pula pria itu menemaninya.


"Menikahlah denganku." ungkap Akbar lagi.


"Aku belum siap." jawab Jia tegas.


"Apa yang membuatmu belum siap? Apa kau tidak yakin padaku?" Akbar sungguh ingin mendengar alasan yang tepat, bukan alasan yang di buat-buat.


"Aku masih punya tanggung jawab terhadap ibuku. Dan lagi, Nona masih butuh pengawal yang setia. Aku belum siap berhenti bekerja, aku masih ingin menemani Nona muda hingga ia melahirkan dan menjaga anak-anaknya. Aku belum bisa fokus dengan aktivitas rumah tangga, sedangkan laki-laki kaya seperti dirimu menginginkan istri yang sepenuhnya di rumah, menikmati hari dan membesarkan anak di rumah saja." Jia menjelaskan semua isi hatinya.


"Tidak begitu Jia, jika kau ingin bekerja aku tak akan melarang. Namun iya, aku ingin kau bekerja yang lebih membuatku tenang, tidak sebagai bodyguard yang mempertaruhkan nyawa seperti kemarin." ucap Akbar khawatir.


"Itulah kehidupanku, sebaiknya kau tidak masuk di dalamnya jika kau tidak suka dengan pekerjaan yang membuatku bertaruh nyawa. Aku dan dirimu jelas berbeda."

__ADS_1


"Kita sama saja Jia, tidak ada yang berbeda. Sungguh aku ingin menyayangi dan melindungimu dengan caraku. Meskipun kau bisa melindungi diri sendiri, tapi bagiku seorang wanita tetap membutuhkan pendamping yang bisa membuatnya aman."


"Aku masih nyaman dengan kehidupan ku di rumah ini, aku baru saja merasa punya teman juga saudara setelah Nona muda datang. Dan aku belum memikirkan untuk menikah." jawab Jia tegas.


"Apa artinya kau tidak menyukaiku Jia?" tanya Akbar sedih.


"Aku menyukaimu. Tapi kita jauh berbeda." Jia meninggalkan Akbar yang masih terpaku di tengah tangga.


Sepertinya hari ini langit juga akan menjadi gelap, patah hati membuat matanya berkabut, gairah hidupnya menghilang.


"Bagaimana caranya membuatmu mengerti Jia?"


*


"Bisakah umi menungguku sebentar?" ucap Radit setelah Nurul selesai berbicara dengan saudara sepupunya.


"Radit nak kemane?"


"Aku ingin menanyakan sesuatu pada dokter yang baru saja keluar, sekalian kita sudah di sini. Jika harus sengaja maka aku tidak akan punya waktu Umi." jelas Radit.


"Baiklah, Umi tunggu di dalam." Nurul, menunjuk pintu ruangan rawat saudaranya, tampak dari pintu yang terbuka itu beberapa orang masih berbincang.


"Ya." Radit mengangguk.


Berjalan menuju ruangan dokter yang menangani saudara jauh Nurul, Radit tampak ragu setelah berada di depan ruangan.


Pintu terbuka.


"Ada yang bisa saya bantu?" seorang perawat keluar dari ruangan dokter spesialis itu.


"Ingin bertemu Dokter Novan." jawab Radit cepat.


"Silahkan masuk, kebetulan Dokter sedang tidak ada tamu." jawab perawat itu ramah.


"Terimakasih." Radit mengangguk, tangannya sudah memegang handle pintu. Memejamkan mata sejenak membuang keraguan, menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.

__ADS_1


"Sebaiknya aku masuk! Tidak ada yang perlu di takutkan." ucapnya sendiri. Walau jauh di dalam hati ia sedang takut.


__ADS_2