Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
199. Mencari bukti


__ADS_3

"Sebaiknya aku pulang!" Radit menahan tangan Merry.


"Tidak, kita makan malam dulu." ajaknya sambil terus menarik lengan Radit.


Mau tak mau Radit masuk ke dalam rumah Merry, ia mulai mengikuti kemana Merry melangkah.


"Mau mandi?" tanya Merry saat akan menuju kamarnya.


"Kau duluan saja, aku hanya ingin cuci muka." jawab Radit masih mengikuti Merry.


"Baiklah, di kamarku." jawabnya sambil membuka pintu kamarnya.


Tapi sejenak Radit berhenti, ia tampak sedang berpikir.


"Ada apa? Masuklah!" Merry tak merasa canggung.


"Aku takut ayahmu mengawasi kita, Radit melihat setiap sudut kamar mencari sesuatu.


"Tidak ada, kamarku bebas kamera." jelas Merry tersenyum.


"Tidak, aku tidak percaya." Radit mundur keluar namun kembali di tarik Merry.


"Tidak ada Radit, kameranya hanya ada di bagian luar." Merry kembali menjelaskan.


"Apa benar seperti itu?" tanya Radit penuh selidik.


"Benar." Merry meyakinkan.


"Artinya di kamarmu sangat bebas." jawab Radit kemudian masuk menuju kamar mandi.


"Bebas apanya?" Merry sedang berpikir sesuatu.


"Ya bebas, atau jangan-jangan kau sudah sering mengajak seseorang masuk ke sini." Radit menatapnya curiga.


"Astaga! Tidak ada Radit, sumpah demi apapun." Merry tidak ingin Radit berpikir macam-macam.


Radit tak peduli, ia berlalu menuju kamar mandi. Beberapa menit di dalam sana hingga akhirnya keluar dengan wajah segar dan rambut basah. Wajah segar itu tampan sekali, menggemaskan, dan sangat menggoda bagi Merry.


"Mandilah!" perintah Radit mengambil tissue dan mengusap wajahnya.


"Iya. Kau tunggu di sini saja." jawab Merry senang sekali, entah jika ia sedang berpikiran mesum.


Radit duduk di ranjang dan mengatur bantal, ia tak peduli Merry memperhatikannya. Lelah seharian bekerja ia butuh berbaring sejenak.

__ADS_1


Mandi dengan sabun mahal yang wangi, Merry selesai setelah hampir Tiga puluh menit didalam sana. Ia memastikan semuanya baik dan terlihat sempurna, hanya memakai handuk dan dan rambut di gulung, Merry keluar dengan jantung deg-degan.


Hati sudah tak sabar, bayangan bercinta yang panas membuat langkahnya sedikit terburu-buru. Tapi,...


Tampak seorang pria tidur menelentang di atas ranjang empuk Merry, tangannya di atas dada dan yang satunya menutup mata. Nafasnya sangat teratur, naik turun tanpa hambatan, Radit tertidur pulas.


Sayang sekali, untuk saat ini Merry harus bersabar. Wanita muda itu segera mengganti baju, dingin dan kecewa sedang dirasakannya bersamaan. Ia memilih pergi ke dapur, mungkin setelah Radit bangun bisa makan malam bersama.


Benar saja, setelah beberapa saat kemudian. Radit bangun dan mencari Merry di dapur, pria muda itu sengaja melihat langsung apa yang sedang wanitanya lakukan. Lama berdiri seperti seorang suami menyaksikan istrinya memasak, benar saja jika selama ini Merry tidak bisa memasak, namun kali ini wanita itu banyak berubah.


Sibuk dengan potongan sayur, nasi dan ayam goreng. Merry tak mengira jika Radit sudah lama berdiri di sana, hingga tak sengaja ia menjatuhkan sendok.


"Radit!" pekiknya salah tingkah.


"Sejak kapan kau pandai memasak?" tanya Radit mendekati Merry.


"Sejak di penjara, aku banyak membaca bersama teman-temanku." jawabnya menunduk.


"Aku ingin mencobanya." Radit mulai mengaduk sayur yang masih duduk diatas kompor menyala. Mencicipinya sedikit, dan mengangguk. " Enak!" ucapnya memuji.


"Benarkah?" Merry mendekat kegirangan, pujian itu membuatnya ringan.


"Gantilah bajumu, ini bau bawang." tunjuk Radit di dada Merry, semakin membuat wanita itu ingin berteriak senang.


"Biar aku saja, aku akan menyiapkannya dan kau ganti baju. Yang agak tertutup!" pesan Radit.


"Aku tidak punya!" Merry merengek manja.


"Pakai kaos biasa. Aku tidak mau khilaf!" ucap Radit lagi.


"Mengapa tidak mau!" Merry mendekati Radit.


"Sudah, aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama." ucap Radit lembut.


"Baiklah." Merry berlalu menuju kamarnya.


Senyum tipis terukir di sudut bibir Radit, mematikan kompor dan menyiapkan makanan.


"Aku mirip sekali dengan suami ideal!" gumamnya sendiri, selama ini ia tak pernah melakukan itu. Dulu dengan Zahira hanya menikmati hari bahagia penuh cinta, belum sempat melakukan hal romantis dan menyenangkan, malah sudah harus berpisah.


"Apa sudah siap?" suara Merry membuyarkan lamunan singkatnya.


"Sudah." Radit duduk dan segera membuka piring, dia memang lapar karena hanya sarapan roti dan susu di pagi hari.

__ADS_1


"Aku bahagia sekali dengan semua ini." ungkap Merry, ikut membuka piring dan mengisinya dengan berbagai macam makanan.


"Aku juga tidak pernah seperti ini." jawab Radit terus mengunyah.


"Kau tidak takut memakan masakanku?" tanya Merry mengingat masa yang lalu.


"Tidak! Jika kau kembali menggunakan obat itu kau akan tanggung sendiri akibatnya." jawab Radit lagi tak berhenti mengunyah makanan.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan?" tanya Merry penasaran.


"Menghukummu hingga tidak bisa bangun." jawab Radit sedikit menggoda.


Merry tersipu, wajahnya mendadak panas membayangkan aktifitas yang dulu pernah dirasakannya. Sungguh itu membuat dia tergila-gila hingga saat ini tak pernah bisa lupa.


"Habiskan makanan mu!" perintah Radit, pria tampan itu sudah menghabiskan makanannya.


Merry mengangguk, senyum manis tak henti menghiasi wajahnya. Dia begitu bahagia, juga jatuh cinta.


"Kita ke kamar saja." pinta Radit setelah makan.


"Tapi meja masih berantakan." Merry menatap meja di depan mereka.


Radit menumpuk piring kotor dan menutup meja makan. "Besok saja, aku lelah." Radit mengajak Merry segera.


"Tidak usah pulang." pinta Merry lagi ketika sudah di dalam kamar.


"Bukankah kau sudah biasa sendirian?" Radit ikut menyandar di ranjang.


"Aku rindu sekali padamu." Merry memeluk tubuh gagah Radit dan menikmati harum keringat bercampur parfum di baju pria tampan itu.


Membiarkan Merry menikmati aroma wangi di dadanya, hingga kemudian tak lagi terdengar suara dan pergerakan dari mantan istri tersebut. Radit mulai memindahkan Merry ke posisi nyaman di ranjangnya. Dan mendadak listrik dibrumah itu padam.


Ponsel Radit berdering. "Bagaimana?" tanya Radit.


"Siap!" jawaban di seberang sana setelah hampir Tiga puluh menit dalam kegelapan. Dan detik berikutnya lampu menyala.


Radit mulai membuka lemari pakaian Merry, mencari sesuatu di sana hingga urutan paling bawah tapi tetap tak menemukannya. Pindah ke laci dan meja rias tapi tetap tak menemukan apa-apa. Sementara di luar beberapa orang juga masuk dan mencari sesuatu di ruang tamu dan kamar lainnya. Hingga hampir satu jam mereka semua sibuk mencari, Radit keluar dari kamar dan menemui orang-orang di luar.


"Bagaimana?" tanya Radit dengan wajah tegang.


"Tidak ada!" jawab mereka bersamaan.


"Baiklah, sebaiknya aktifkan kembali cctv-nya. Aku harus pulang." perintah Radit dengan wajah lelah dan kecewa.

__ADS_1


Ketiga orang itu mengangguk, dan keluar secepat mungkin. Begitu juga Radit, segera masuk dan mengatur posisi tidur memeluk Merry, hingga sesaat listrik kembali padam dan akhirnya menyala setelah beberapa menit kemudian.


__ADS_2