
Hingga sore hari Zahira masih belum sadar, walaupun dokter mengatakan Zahira akan baik-baik saja, tapi kondisi tidur panjang hingga hampir sepuluh jam membuat semua orang khawatir.
"Ini sudah hampir isya, mengapa Zahira belum sadar?" Ayu tampak gelisah dengan sesekali mengusap air mata.
"Sabar, dokter mengatakan jika orang yang pernah melakukan operasi besar di kepalanya akan sering mengalami pingsan atau tidur panjang. Bahkan dulu dia pernah tidur berbulan-bulan, Anggara sampai kurus dibuatnya." Ricky tersenyum tipis mengingat hal yang pernah dia jalani bersama sahabat sekaligus atasannya.
"Aku tidak sekuat itu." jawab Ayu kembali mengelap air matanya dengan tissue.
"Kau harus kuat karena suaminya sudah tidak ada." Ricky menatap pintu kamar rawat Zahira.
Ayu semakin menangis, tentu saja dia harus kuat. Namun terlalu banyak yang di lalui Zahira sehingga dia yang tak sanggup membayangkannya.
Terdengar langkah terburu-buru, ternyata David baru saja datang dari kantor polisi setelah setengah hari menghilang. Dan belum berhasil membawa Radit bersamanya.
"Bagaimana dengan Radit?" Ayu sangat ingin putranya kembali, dalam situasi seperti ini dia butuh semua orang bersamanya.
"Radit masih di sana, mereka akan menahan Radit selama dua puluh empat jam. Apakah Zahira sudah sadar?" tanya David menatap wajah semua orang masih tampak tegang.
"Belum." jawab Ayu kembali menunduk.
David berlalu melewati mereka semua, ia ingin segera melihat Zahira. Benar saja Zahira masih tertidur lelap, atau entah apa namanya, jika pingsan mengapa lama sekali, harusnya dia sudah sadar. David tidak tega melihat putrinya dengan wajah lebam di sisi kiri dan menutup mata tanpa bergerak hingga hampir sehari, David mendekati Zahira.
"Bangun Nak." David memegang ujung kaki yang tertutup selimut.
"Lihat Papa. Papa sangat menyayangimu melebihi Radit anak Papa, dia sering berdebat dengan Papa karena Papa selalu membelamu. Kau tahu Papa adalah laki-laki kedua yang menggendong mu setelah Aldo ayahmu, baru setelahnya Anggara suamimu. Sekarang ayahmu dan suamimu sudah tak ada, tinggal Papa saja yang masih bertahan hanya untuk melihat dan ingin menyaksikan kau bahagia. Maka dari itu bangunlah! Papa menunggumu, anak-anak juga menantimu, mereka pengganti dua laki-laki yang selalu mencintaimu meskipun sudah tiada. Bangun dan lihatlah, wajah Satria yang seperti ayahmu, wajah Sadewa seperti suamimu. Jangan tidur terlalu lama." David terus memegangi kaki Zahira dengan mata hitam pekatnya mulai berkaca-kaca.
"Anak Papa yang manja." ucapnya lagi duduk di samping Zahira, tangan lentiknya terlihat masih sama, kecil dan halus walaupun sudah dewasa. Tangan yang selalu memeluk lengan David, menggenggam jari David saat masih anak-anak dia selalu ingin ikut kemana David pergi.
Jarinya bergerak.
David melihatnya sekali lagi, memastikan jika itu bukan salah lihat.
Benar jarinya bergerak, David menggenggam jari Zahira yang terasa dingin, melihat dahinya yang mulai mengernyit ingin membuka mata.
__ADS_1
"Zahira." panggil David lagi.
Mata beningnya mulai terbuka, perlahan hingga beberapa detik berikutnya ia menatap David.
"Papa." panggilnya pelan, kemudian menoleh ke samping, memandangi air minum di atas meja.
"Kau haus Sayang." David mengambil gelas dan menuang air mineral untuk Zahira.
David membantunya sedikit mengangkat kepala, agar bisa minum dengan lebih banyak.
David terus menatap wajah Zahira, menunggu apa yang akan dia katakan.
"Aku sayang Papa." ucap Zahira pelan, setelah David kembali meletakkan kepalanya di bantal yang lebih besar.
David tersenyum penuh haru, mendadak matanya terasa pedih ingin mengeluarkan air mata lebih banyak.
"Papa akan memberi tahu Mama." David bergegas keluar memanggil Ayu dan memberitahu semuanya.
Sedangkan di kantor polisi dua orang pria tampan itu menyandar di dinding berseberangan. Mereka tak bicara bahkan enggan saling melihat.
Radit melihat keluar pintu tahanan, memanggil petugas beberapa kali.
"Ada apa?" seorang Polisi menghampiri Radit.
"Bisakah aku dipindahkan ke sel yang lain saja." pinta Radit.
"Tidak bisa, kecuali jika kau ingin tinggal lebih lama." jawab seorang polisi wanita lagi mendekati Radit.
"Baiklah." Radit kembali duduk dengan pasrah.
"Besok kau bebas jadi tidak usah mencari perhatian." ucap Reza menatap tak suka.
"Aku tidak suka berada dalam satu ruangan bersama pengecut seperti dirimu." Radit tak mau menatap Reza.
__ADS_1
"Aku tidak pengecut, hanya sulit bagiku menerima kenyataan bahwa kesalahanku akan memisahkan kedekatanku dengan Zahira." jawab Reza lebih tenang.
Radit menolehnya, sedikit heran pria itu kini seperti sedang merenungi diri sendiri.
"Kau pernah berada di posisiku bukan? Aku yakin hingga sekarang kau masih menyesalinya." jelas Reza lagi.
"Itu berbeda." jawab Radit.
"Kau pasrah saat kau mengira bahwa Merry mengandung anakmu." Reza masih menyambung ucapannya, matanya menatap lurus memandangi gambar tikar lusuh yang terbentang di tengah-tengah mereka.
"Tentu saja. Yang membuatku semakin menyesal adalah ternyata aku di tipu." Radit menarik nafas berat.
"Ya." Reza tersenyum getir.
"Tapi Ayra benar-benar mengandung anakmu. Dapat ku lihat dia sangat membencimu dan tubuhnya bergetar saat mengingat kau melakukannya." Radit menatap wajah Reza dari samping.
Pria itu diam tak menjawab, matanya masih fokus dengan satu titik yang menjadi objek berpikirnya.
"Aku rasa dia tak akan berbohong tentang kehamilannya. Tapi sayangnya dia sangat membencimu." Radit tersenyum sinis.
Reza menoleh Radit, mendadak nafasnya semakin berat mendengar ungkapan Radit.
"Jika ayah dari anak Ayra bukan dirimu, aku akan bersedia menikahinya walaupun aku hanya mencintai Zahira saja. Tapi menjadi tidak rela karena kau yang menabur benihnya, maka akan lebih baik kau yang menikahinya. Jangan biarkan anakmu di besarkan oleh orang lain, aku yakin banyak laki-laki yang mau menikahinya, dan ku dengar dia memiliki kekasih yang akan datang kemari."
"Aku tidak mencintainya." Reza menunduk sedih, hatinya kembali gelisah mengingat dia ingin sekali mendapatkan Zahira.
"Kau akan mencintai anakmu nanti." Radit menjawab Reza dengan yakin.
Kedua pria itu saling menatap, mencari keyakinan dan jalan keluar di wajah lawan bicara masing-masing.
"Kau akan mengejar cinta Zahira lagi?" Reza menggeleng, dia masih tidak ikhlas.
"Terlepas dari semua itu, aku adalah saudaranya. Dia tak akan bisa jauh dariku, aku juga tidak yakin akan ada laki-laki lain yang bisa memiliki hatinya. Aku saja masih kalah jauh dibandingkan Anggara."
__ADS_1
Reza juga tahu hal itu, bahkan kedekatannya hanya karena dia sering mencoba menjadi semirip mungkin dengan suaminya. Zahira hanya rindu pada Anggara, bukan sebenarnya menginginkan Reza. Terlalu egois jika hanya karena mirip dia malah ingin memiliki. Dan karena mirip pula Reza melampiaskan rindunya kepada Ayra di malam itu. Sepertinya, karma sedang singgah kepada Reza Mahendra.