Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
291. Mulai jatuh cinta.


__ADS_3

"Kau akan menjadi kakak sepupuku, jadi biasakan untuk tidak tegang seperti itu." ucap Radit mengatai Jia.


"Iya." jawabnya hanya mengangguk.


Zahira tertawa sedikit, sungguh sikap bodyguardnya itu sangat lucu. Belum juga mencair saat berhadapan dengan orang luar.


"Payah sekali, apakah dia juga seperti itu saat bersama Akbar?" Radit kembali mengatai Jia.


"Tidak, dia tidak seperti itu. Jia baik dan hangat saat sudah dekat." jawab Zahira membela Jia.


"Ingat, kau adalah kakak ipar! Zahira juga adalah adik bagimu." ucap Radit lagi.


"Tidak, Satria dan Sadewa lah adikku nanti. Hubungan kami lebih jelas." jawab Jia datar.


"Kau pikir hubunganku dengan Akbar tidak jelas?" Marah Radit pada gadis itu.


"Ada apa denganmu, mengapa kau marah padanya?" Ayu datang menengahi.


"Dia bilang hubunganku dengan Akbar tidak jelas." Radit menunjuk Jia.


"Tidak, bukan seperti itu! Maksudnya hubungan Akbar dan Mas Anggara lebih dekat, jadi Jia memilih hubungan yang seperti itu." Zahira menengahi.


"Sudahlah, yang penting kita semua keluarga." Ayu mengajak Jia duduk di ruang tamu.


"Warna pakaianmu biru laut berpadu silver, kami sedang memesan pakaian yang berwarna senada." ucap Ayu kepada Jia.


"Bukankah semuanya sudah di rancang untuk semua keluarga?" tanya Jia menatap Ayu.


"Benarkah? Kalau begitu kami hanya perlu mencobanya. Aku harus menghubungi Ibu mertuamu." Ayu meraih ponselnya.


Radit tak ikut campur pembicaraan ibunya dan Jia, malah menarik tangan Zahira agar menjauh.


"Ada apa?" tanya Zahira pelan.


"Tidak ada, hanya ingin bicara berdua denganmu." Radit mengajaknya ke halaman belakang.


"Bicara apa?" tanya Zahira masih tak bersemangat, hatinya tertinggal di makam Anggara.


"Bicara tentang Ayra." jawab Radit membuka layar ponselnya, menekan beberapa tombol kemudian memperlihatkan kepada Zahira.


"Lihatlah, mereka sudah mulai akur." Radit mendekati Zahira dan melihat layar bersama-sama.


Sejenak Zahira terdiam melihat kebersamaan Ayra dan Reza, teringat saat pria itu menemani hari-hari menyedihkan ketika ditinggalkan Anggara.


"Syukurlah, ku rasa dia mulai menyukai Kak Ayra." ucap Zahira kemudian.

__ADS_1


"Ya, Ayra memang pantas di sukai dan dicintai." jawab Radit membuat Zahira menoleh.


"Kau juga menyukai Kak Ayra?" tanya Zahira tak berkedip menatap Radit.


"Aku?" tanya Radit menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, bukankah kemarin kau juga terlihat tak sabar menemui Kakak? Jangan bilang kau juga jatuh cinta padanya?" menatap penuh selidik.


Radit terkekeh kali ini, menyimpan ponselnya kembali dan duduk berhadapan dengan Zahira.


"Waktu itu aku sudah mengetahui Ayra hamil, dan aku curiga dengan Reza karena dia juga pernah datang ke rumah Nenek." jelas Radit menikmati wajah Zahira yang sedang menekuk.


"Benarkah? Mengapa kau tidak bilang padaku?"


"Karena saat itu kau masih membenciku, aku hanya bisa memandangi mu dan menjagamu dari jauh. Tidak bisa bicara sedekat ini, apalagi menyentuhmu." jawab Radit lagi menatap kagum Zahira.


"Tapi sekarang tidak lagi, aku tidak membencimu." Zahira memainkan ponsel di atas meja taman tersebut.


"Aku tahu. Sepertinya kita sedang kembali ke masa dimana aku sudah mengetahui kau bukan saudaraku, tapi kau menganggap ku adikmu. Kau bermanja sesuka hatimu, sedangkan aku harus menahan perasaanku dengan sekuat hatiku. Itu hal yang sangat menyiksa."


"Tapi berbeda, sekarang kita sedang memulai dari awal, dan aku sudah punya Satria dan Sadewa."


"Tapi bagiku sama saja, aku harus kembali berjuang untuk mendapatkan cintamu seperti dulu. Aku jatuh cinta lebih dulu." Radit mengelus jari Zahira yang sedang bermain ponsel di atas meja.


"Tentu saja masih sama, tidak ada yang berubah meskipun dunia sudah berbeda arah. Aku masih tetap mencintaimu, selalu dan selamanya akan seperti itu."


Keduanya saling memandang dan tersenyum, meskipun hatinya sudah tak utuh, tapi Radit membuatnya nyaman.


"Kita akan menikah tiga Minggu lagi, setelah Akbar dan Jia."


"Itu terlalu cepat!" Zahira melebarkan matanya.


"Bagiku terlalu lama, kau ingat aku bukanlah tipe laki-laki yang sangat sabar menunggu kata-kata sah untuk segera memelukmu sepanjang malam."


"Kau masih saja mesum!" Zahira bergidik ngeri membayangkan saat dulu Radit sangat gila, tak membiarkan dirinya beristirahat.


"Ku rasa kau masih mengingatnya." Radit sengaja menggoda Zahira, kemudian tertawa senang melihat wajah Zahira yang bersemu merah.


"Tidak, aku sudah tidak ingat." kesal Zahira membuang pandangannya ke arah lain.


"Baiklah, nanti aku akan mengingatkanmu." Radit terus saja menggodanya.


...***...


Hari pernikahan Jia dan Akbar sudah tiba, Wajah tenang Jia mulai mengendur ketika kata-kata sah terucap bersamaan dari para undangan.

__ADS_1


Senyum menghias dari kedua pihak keluarga, tak terkecuali Zahira yang dengan penuh haru memeluk Jia begitu erat.


"Terimakasih Nyonya, kau malah berdiri sebagai keluargaku." ucap Jia meneteskan air mata.


"Aku hanya berdiri sebagai keluarga, kau berdiri bertaruh nyawa untukku Jia. Tentu ini tak seberapa."


Mereka berpelukan begitu lama.


"Aku akan selalu bersamamu." jawab Jia di sela isak tangisnya.


"Sebagai keluarga." bisik Zahira lagi.


Semua orang berkumpul hari itu, tak terkecuali Ayra dan Reza Mahendra.


Penampilan Ayra yang tak biasa membuat pria itu semakin menempel tak melepaskan walau sebentar.


"Bisa tidak kau menjauh saja, aku tidak nyaman terlalu dekat seperti ini." Ayra mendorong pinggang Reza agar menjauh.


"Tidak, aku tidak mau jauh-jauh darimu. Lihat pakaianmu, mengapa terbuka sekali di bagian itu." Reza menunjuk dada Ayra yang tampak sedikit terbuka.


"Ini biasa saja! Ku rasa otakmu yang sedang bermasalah." Ayra mengerucutkan bibirnya.


"Tentu saja, aku sudah pernah ada di sana. Mana mungkin aku tidak gelisah saat bagian itu kau pamerkan kepada orang lain." Reza menunjuk dada Ayra.


"Tidak usah pakai telunjuk!" kesal Ayra menepis tangan Reza dan menurunkannya.


"Baiklah, kalau begitu pakai bibir saja." Reza mulai jahil melingkarkan tangannya seakan ingin memeluk Ayra.


"Dasar mesum." Ayra berdiri dari duduknya, memancing mata beberapa orang yang duduk tak jauh dari mereka.


Reza tersenyum menang, ikut berdiri dan mengajak Ayra di pergi masuk ke mobilnya.


"Kita mau kemana?" tanya Ayra masih sangat kesal.


"Pulang." jawab Reza membukakan pintu mobil.


"Tapi acaranya belum selesai." Ayra menunjuk di pesta tersebut masih ramai.


"Biarkan saja, daripada semakin banyak laki-laki yang melirik dadamu." Reza meminta Ayra duduk dengan hati-hati.


"Tidak ada orang yang melihat dadaku, justru kau yang selalu melirik kearah sana." Ayra membuang pandangannya, tak mau menatap wajah tampan Reza yang semakin jahil menatapnya.


"Sebelum orang-orang melihatnya, alangkah baiknya jika aku yang menyaksikannya."


"Harusnya kau tidak selalu melihat ke arah itu, kau tahu itu tidak sopan!" marah Ayra lagi, bibir merahnya semakin mengerucut membuat gemas laki-laki di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2