
Kebiasaan berlari Satria yang tidak peduli apa saja di hadapannya membuat anak tampan itu lebih dulu menabrak seorang wanita yang lebih tua dari Ayu. Jatuh terduduk dengan memegang pinggulnya, dan wajah meringis mendongak ke atas.
"Maaf." Sadewa lebih dewasa dan terkendali, sempat berhenti meskipun hampir juga menabrak wanita itu. Ia membantu Satria untuk berdiri sambil meminta maaf.
"Ini bukan tempat bermain, kalian pikir pusat perbelanjaan ini milik kalian?" kesal wanita tersebut memang perutnya, mungkin sakit karena bertabrakan dengan Satria.
"Sayang." Zahira segera berlari memeluk kedua putranya. "Maaf Nyonya, putraku tidak sengaja." ucapnya dengan khawatir dan terburu-buru. Namun sepersekian detik berikutnya wajah cantik Zahira tampak terkejut.
"Mereka putramu." tanya Nyonya Carolin menatap mereka bertiga bergantian.
"Iya Nyonya, sekali lagi saya minta maaf." Zahira kembali sedikit membungkuk berkata dengan sopan.
"Ibu,,,sakit." rengek Satria masih memegang pinggulnya.
Zahira kembali memeluk dan mengusap-usap bagian yang sakit. "Itu sebabnya Ibu katakan agar tidak berlari." ucap Zahira halus.
"Sebaiknya tidak di biasakan bermain lari-lari seperti tadi, apalagi di pusat perbelanjaan seperti ini." ucap nyonya Carolina masih menatap kedua putra Zahira.
"Mereka berlari karena aku yang memanggilnya Nyonya, mereka cucu-cucuku." David tersenyum ramah.
"Oh." Nyonya Carolina tampak tertegun dengan kehadiran David dan Ayu.
"Benar, mereka tidak sendirian, mereka semua adalah orang yang menjaganya dengan setia." Ayu juga menyahut, mata sipitnya sedikit tajam, dia sedang menilai sosok wanita yang sepertinya di kenal putrinya.
"Ya, apapun itu. Tetap tidak baik jika berlarian di tempat seperti ini." ucap Carolina tersenyum se-ramah mungkin.
"Benar sekali. Maka dari itu sebagai permintaan maaf dari kami, mari kita minum kopi bersama." Ayu menunjuk sebuah meja khusus di lantai tiga tersebut.
Wanita bernama Carolina itu tampak berpikir.
"Ini Ibuku Nyonya, dan itu Ayahku." Zahira memperkenalkan Ayu juga David. "Mama, ini adalah ibu dari Mas Reza." Zahira juga memperkenalkan wanita tersebut.
"Oh seperti itu, senang bertemu denganmu Nyonya." Ayu mengulurkan tangannya.
Sedikit ragu, Nyonya Carolina membalas uluran tangan Ayu.
__ADS_1
"Kalau begitu mari kita minum kopi bersama, ini adalah pertemuan baik." Ayu melenggang menuju Meja lebih dulu, tak menerima penolakan.
Mau tak mau Carolina mengikuti Ayu dan duduk di meja yang sama.
"Senang bertemu dengan anda di sini." Ayu berbicara dengan santai, namun terlihat arogan dan menyelidik.
"Sama-sama, beberapa hari yang lalu putri Anda menemani putraku makan malam di sebuah Cafe." ucap Carolina menjelaskan pertemuan mereka.
"Aku tahu, Reza Mahendra menjemput putriku malam itu. Dia mengatakan jika ingin memperkenalkan Zahira dengan ibunya." Ayu menjelaskan yang sebenarnya.
"Benar sekali, tapi tidak begitu lama. Putrimu tidak bisa meninggalkan anak-anak berlama-lama, begitu alasannya." kali ini senyumnya sedikit memaksa.
"Ya, Reza tahu persis jika putriku sudah memiliki dua orang putra." Ayu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Mereka masih terlalu muda, biarkan mereka saling mengenal terlebih dahulu." sepertinya Carolina berusaha menjelaskan sesuatu yang sudah pasti dimengerti lebih dulu oleh seorang Ayu.
"Tentu saja Nyonya, putriku masih sangat muda, usianya 26 tahun, dan kalau boleh jujur, dia masih sangat mencintai almarhum suaminya. Jadi masih banyak waktu untuk Reza Mahendra berpikir jika ingin dekat dengan putriku. Sekaligus memberi waktu untuk putriku menentukan pilihan." ucap Ayu sedikit menekan bagian-bagian kalimatnya.
"Ah, itu benar sekali. Putri anda sangat cantik, sudah pasti banyak laki-laki yang menyukainya. Tapi sebagian dari mereka mungkin akan berpikir ulang jika mengetahui Zahira memiliki Dua orang anak."
"Ku rasa tak perlu dijelaskan lebih banyak. Kedatanganku ke Indonesia adalah akan menjemput putraku, untuk bertunangan dengan seorang gadis di London."
"Itu lebih baik, agar putra anda tidak mengganggu Putriku lagi." Ayu tersenyum memaksa, dengan tatapan menusuk. Sudah tentu tatapan seperti itu membuat Nyonya Carolina tak nyaman.
"Kalau begitu-"
"Mama." suara seseorang mengejutkan keduanya.
"Radit!" Ayu berdiri meminta putranya duduk, sudah tentu Radit baru saja tiba dari perjalanan dan langsung menyusul.
"Tidak perlu." ucapnya melirik lawan bicara ibunya, menatap tajam dari ujung kaki hingga kepala.
"Aku masih punya urusan di tempat lain, sebaiknya aku permisi." Carolina beranjak dari duduknya, tak mau berlama-lama dengan dua pasang mata yang kian lama kian ingin membunuhnya.
"Ya, hati-hati di jalan Nyonya." Ayu masih bertahan dengan sikap palsunya hingga wanita itu berlalu menjauh.
__ADS_1
"Apa Mama mengenalnya sehingga meminta membawa putranya pergi dan tidak mengganggu Zahira lagi?" tanya Radit.
"Dia ibunya Reza Mahendra." Ayu meraih tasnya dan meninggalkan meja mereka.
"Ma, apakah maksudnya wanita itu melarang Reza Mahendra dekat dengan Zahira?" tanya Radit lagi, dia sungguh penasaran dengan pembicaraan yang hanya di dengar separuh olehnya.
"Ya, dan Mama tidak suka." kesal Ayu terus berjalan menuju tempat dimana David dan Zahira sedang menemani anak-anak.
Radit hanya mengangguk-angguk, tentu dia juga tak suka jika Zahira mendapat penolakan. Dia sedang menatap wajah cantik Zahira, sambil berpikir jika dia harus melakukan sesuatu.
"Sebaiknya kau istirahat dan makan." Ayu menunjuk meja tak jauh dari tempat itu.
"Ya." Radit setuju, berbelok arah menuju meja yang dimaksud ibunya. Sementara Ayu bergabung dengan yang lainnya.
"Apa Nyonya Carolina sudah pulang?" tanya Zahira menatap wajah Ayu sedikit menekuk.
"Sudah." Ayu duduk di dekat Zahira.
Zahira memeluk lengan wanita yang sedang kesal tersebut.
"Mama tidak suka pada wanita itu." sedikit melirik Zahira.
"Memangnya ada apa? Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Zahir masih tersenyum.
"Ya, dan membuat Mama sedikit emosi. Sepertinya pertemuan tak sengaja ini membuat Mama memiliki penyakit baru." ujarnya melihat wajah cantik Zahira menyandar di bahunya.
"Penyakit apa?" Zahira merasa ibunya sangat kesal.
"Darah tinggi." ucapnya dengan wajah masih menekuk. "Jika menjadi besan maka akan berlanjut menjadi penyakit jantung dan membuat Mama segera mati." lanjutnya lagi.
Zahira terkekeh mendengarnya, sudah lama wajah Ayu tidak kesal seperti itu. Bahkan sangat lucu bagi Zahira.
"Mama serius." ucapnya datar.
"Aku tahu!" Zahira masih tertawa malah semakin lebar.
__ADS_1
"Sebaiknya kau pikirkan lagi untuk menikah dengan anaknya." ucap Ayu menatap Zahira serius.