
"Iya benar." Anggara ikut menjawab.
"Tap_"
"Sudah sayang istirahat saja ya, besok kita akan jalan-jalan sesuai saran dokter." dia takut Zahira mengatakan tidak, ah, seorang Anggara akan malu.
"Jangan lupa makan teratur, kau memiliki asam lambung, itu juga salah satu penyebab sesak." ucap dokter itu.
"Terimakasih." Anggara tak ingin basa-basi, dia mengenal Dokter itu sejak lama.
"Saya permisi." dokter itu seakan mengerti Anggara hanya ingin berdua saja dengan gadis cantik itu.
"Mari saya antar ke depan." Ricky tersenyum dan mengantarnya dengan sopan.
"Kau baik sekali." dokter muda itu menggoda Ricky.
"Dari dulu aku memang baik, tapi kau tak mau melirikku." ucap Ricky, masih terdengar oleh Anggara dan Zahira.
"Dia menyukaimu." ucap Zahira.
"Aku menyukaimu." Anggara duduk di dekat Zahira menyandar, menatapnya penuh cinta.
Kali ini wajah cantik itu merona, entah mengapa rasa nyaman yang di berikan Anggara membuatnya sedikit melupakan kesedihan. Mungkin memang lebih baik di lupakan, lebih baik tidak usah di kenang jika hanya membuat jatuh air mata.
"Om, bisakah aku minta sesuatu?" Zahira menatap wajah tampan itu.
"Apapun itu." jawabnya lembut.
"Carikan aku teman, aku butuh teman." pintanya masih menyandar lemas.
"Itu mudah, nanti akan ku kirimkan bodyguard wanita dan dua orang lagi untuk mengurusmu. Atau, kau tinggal saja di rumahku, kau tidak akan kesepian di sana, ada taman bunga yang indah dan luas untuk kau lihat dan nikmati setiap hari, kau bebas memilih teman siapapun maumu, bahkan kau bisa menunjuk beberapa orang sekertaris atau artis untuk selalu bersamamu." sungguh pria itu tidak main-main.
Zahira menggeleng, "Aku masih istri orang Om, berbeda jika aku sudah sendiri. Aku akan bebas datang padamu." jawabnya jujur, dia butuh Anggara.
"Aku sudah tidak sabar menunggumu datang ke rumahku." jawabnya tak henti menatap wajah cantik berkerudung merah muda.
"Kau tahu apa yang paling nikmat di dunia ini?" tanyanya lembut.
"Apa?"
__ADS_1
"Saling mencintai dalam dosa." jawabnya menunduk.
"Maaf, aku tidak bermaksud membawamu dalam dosa. Aku sudah mencintaimu sejak lama, dan aku sudah tidak sabar menunggu ikatanmu itu lepas dan bebas. Aku ingin kita menikah dan membuatmu bahagia, berjanjilah untuk membebaskan dirimu dari rasa sakit itu, jangan menangis lagi."
"Aku sedang menghindar dari rasa sakit itu, kau hanya aku jadikan tempat berlari." jelas Zahira.
"Aku menunggumu dengan segenap hati, seperti ayahmu yang sangat meyakini bisa membuat ibumu jatuh cinta dan membawanya sehidup semati." jawab Anggara penuh haru, ia tak akan menyerah seperti yang di lakukan Aldo pada wanita yang pernah dicintainya, ibu dari Zahira.
"Apa ibu tidak mencintai ayahku?" Zahira begitu ingin tahu.
"Awalnya, tapi setelah menikah bahkan ia enggan jauh sedikit saja dari ayahmu. Ayahmu pecinta sejati, dia adalah pria yang penuh kharisma, bahkan membuat seorang wanita tergila-gila padanya dan menjerat ayahmu dengan pilihan yang sulit, hingga ia pernah menikah tapi hanya beberapa jam saja dan langsung bercerai setelah ibumu aku bebaskan di penjara, saat itu ibumu sedang mengandungmu. Aku sangat kagum pada ayahmu, salah satu yang membuatku iri adalah lesung pipi yang kau miliki ini, aku sangat menyukainya." Anggara menunjuk pipi sebelah kiri milik Zahira.
"Kau banyak menolong ayah dan ibuku." Zahira semakin kagum dengan pria tampan di hadapannya.
"Ibumu pernah menyelamatkan aku, akulah yang berhutang pada ibumu." ucap Anggara tersenyum.
"Aku rasa itu adalah masa-masa yang indah." Zahira membayangkan berada di masa itu.
"Seindah aku melihatmu." jawab Anggara, pria itu merayu walaupun ia sedang mengatakan yang sebenarnya.
"Saat itu kau pasti sangat tampan." Zahira membayangkan lagi.
Gadis itu menunduk, ia tak berani menatap wajah tampan yang sedang menatapnya. Mengobrol dengannya bisa mengurangi sedikit demi sedikit beban berat itu, paling tidak untuk saat ini, walau jarak dan batasan masih harus tetap selalu ia jaga, tapi tidak ia pungkiri hatinya merasa aman bersama pria dewasa itu.
Pria itu tampak mengetik sebuah pesan di ponselnya, jari-jari halus dan seksinya begitu indah menekan layar ponsel itu, Zahira hanya memperhatikan tanpa mengatakan apapun.
"Ponselmu tidak aktif?" Anggara tak melihat ponsel gadis itu.
"Rusak." jawabnya singkat.
Anggara tersenyum, dia tahu itu tidak rusak, tapi sengaja di rusak oleh pemiliknya.
"Nanti akan ku belikan yang baru." ucapnya tersenyum.
"Om!" panggilnya pelan.
"Iya." Anggara begitu lembut semenjak akhir-akhir ini.
"Bisakah kau hubungi kak Tina, aku butuh akses keuangan perusahaan." ungkapnya serius.
__ADS_1
"Kau butuh uang?" tanya Anggara.
Zahira diam, sudah pasti ia butuh uang. Selama ini ia hanya memiliki tabungan pribadi, tanpa tahu keuangan perusahaan seperti apa.
"Kau pegang ini, soal perusahaanmu nanti biar Tina saja yang mengurus. Mumpung sekarang Ricky adalah pengacaramu dia bisa membantu mengurus semua asetmu. Perpisahanmu bisa kau gunakan sebagai alasan untuk mengambil alih seluruh aset ayah ibumu." Anggara memberikan card berwarna hitam.
"Apa Papa akan kecewa?" tanya Zahira, wajah cantiknya terlihat khawatir.
"Tidak sayang, dia pasti mengerti. Kau biarkan saja Ricky mengurusnya dengan caranya sendiri." Anggara meyakinkan.
"Tapi ini tidak perlu." Zahira mengambil dan menyerahkan lagi card milik Anggara.
"Itu milikmu, bahkan jika kau ingin membeli mobil baru. Mobilmu itu sudah ketinggalan jaman." Anggara mengatai mobil milik Zahira, dia memang baru saja belajar menyetir jadi belum memiliki mobil pribadi.
"Itu mobil ibuku." jawabnya tersenyum.
"Sembilan belas tahun yang lalu ayahmu membelinya sebagai kado atas kehamilan ibumu." jawab Anggara menghitung.
"Lama sekali." Zahira tak menyangka sudah selama itu.
"Nanti aku akan membelikan untukmu." ucapnya beranjak, membukakan pintu, karena terdengar seseorang yang mengetuk.
Tampak tiga orang wanita dengan pakaian berbeda, salah satunya berhijab seperti dirinya.
"Mereka akan menemanimu, dan satu unit di samping juga bebas kau tempati."
"Apa tidak berlebihan?" Zahira melihat ketiga orang itu menunduk hormat.
"Tidak ada yang berlebihan, aku harus kembali ke kantor." Anggara berpamitan.
"Terimakasih." ucap Zahira masih duduk di ranjangnya.
"Setelah semua ini berlalu, aku akan membawamu kerumahku sebagai istri." ungkapnya tak menunggu jawaban, pria itu berlalu menghilang di balik pintu.
"Kita harus belanja, di sini tak ada apapun." salah satu gadis muda itu memeriksa lemari pendingin.
"Benar, sekalian buah dan makanan ringan." wanita yang satunya menyahut.
"Biar aku saja, kalian berdua di sini menemani Nona Zahira." wanita yang berwajah dingin itu menimpali.
__ADS_1
Kedua gadis muda itu mengangguk, sepertinya mereka takut.