Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
13. Berdua


__ADS_3

"Iya Mama." Zahira membalas genggaman tangan Ayu yang terasa begitu hangat dan mendamaikan hati.


"Maaf Mama tak bisa lama Sayang, apa sebaiknya kau ikut pulang bersama Mama Nak?" Ayu menatap wajah cantik itu.


"Tidak Mama aku akan menginap, Mama tak perlu khawatir, aku aman di sini." ucap Zahira lagi meyakinkan Ayu.


"Ah, baiklah kalau begitu. Mama pulang ya sayang." Ayu kembali memeluk Zahira, hatinya sudah lebih tenang setelah bertemu dengan anak gadisnya dan tentunya dia baik-baik saja.


"Sebaiknya Mama dan Papa makan malam bersamaku terlebih dahulu." Zahira ingat dia sedang turun untuk makan malam.


"Tidak Sayang, kami sudah makan lagi pula Mama dan Papa banyak pekerjaan." Tolaknya halus, Ayu dan David beranjak meninggalkan Zahira, setelah menitipkan Zahira dengan mbok Tuti yang selalu setia.


Zahira menatap kepergian kedua orang tuanya hingga tak terlihat lagi, baru kemudian ia masuk bersama asisten senior itu. "Kita makan bersama ya mbok." ajak Zahira pada wanita di sampingnya.


"Iya Mbok temenin." jawabnya tulus dan tersenyum, dia teringat dengan ibu Zahira, yang tak pernah berjarak pada pembantunya, sikap hangat dan perhatian itu menurun sempurna, cantik dan rendah hati membuat mbok Tuti nyaman di rumah itu tidak di perlakukan seperti pembantu.


"Seandainya Ibu dan Ayah masih ada ya Mbok?" Zahira mengambil nasi putih mengisi piringnya juga dengan lauk dan sayur.


"Itu sudah menjadi takdir yang Maha Kuasa Non, mereka sudah bahagia. Mereka saling mencintai dengan sangat luar biasa, terutama ayahnya Non. Pria tampan yang pencinta sejati, pas sekali dengan ibunya non yang cantik." Mbok Tuti sedang mengenang kebersamaan itu, seakan dia sedang menikmati suasana itu kembali.


"Aku ingin seperti mereka Mbok." ucap Zahira tiba-tiba, menghentikan sejenak aktivitas makanya, sungguh dia ingin sekali menyaksikan cinta yang dikatakan begitu besar itu.


"Tentu saja Non, apa Non sudah punya calon?" Mbok Tuti menatap wajah cantik itu penuh tanya.


"Dia sedang melamarku Mbok, saat ini dia sedang menunggu jawaban dariku." Ungkap Zahira bercerita, walaupun baru bertemu tapi mbok Tuti cukup membuat hati Zahira nyaman.


"Apa anaknya pak David Non?" Mbok Tuti menebak.


"Iya. Darimana Mbok tau?" tanya Zahira sambil melanjutkan makannya.


"Mbok lihat dia sangat mencintai Non Zahira, matanya itu lho tidak bisa lepas dari wajah ini." Mbok Tuti menunjuk wajah Zahira, membuat Zahira tersenyum terlihat manis sekali.


Zahira menghabiskan makanannya lalu membawa segelas air putih naik ke atas. "Mbok, Zahira istirahat di kamar ya!" ucap Zahira saat sudah naik di beberapa anak tangga.


"Iya Non." Wanita itu tersenyum menatap anak gadis yang baik dan sopan itu.

__ADS_1


Menghabiskan waktu di balkon kesukaannya, melihat bintang yang jauh di sana. Berharap bahwa bintang yang berkedip itu adalah ayah dan ibunya, seperti kata orang dalam film-film. Itu terdengar konyol tapi sungguh saat-saat seperti ini Zahira sangat berharap.


"Tok, tok, tok." Pintu kamar Zahira di ketuk, Zahira melirik jam di atas nakas sudah pukul 21:08.


"Mungkin Mbok Tuti." Zahira langsung membuka pintu kamarnya. "Radit!" Zahira terkejut.


Radit ikut terkejut juga terpana, karena Zahira sedang tidak memakai hijabnya. Sesuai dugaannya wanita itu sungguh sempurna, menutupi kekagumannya Radit segera berbalik.


"Kenakan hijabmu!" ucap Radit seperti perintah.


"Sudah." jawab Zahira, tangannya meraih hijab dan memakainya dengan terburu-buru. Zahira melangkah keluar dari kamarnya.


Radit menatap wajah itu, tangan besar itu terulur membetulkan hijab yang tidak lurus.


"Aku jelek ya?" Zahira menebak karena hijabnya miring.


"Kau selalu cantik, apa lagi tanpa ini." Radit menunjuk hijab yang baru saja dibetulkannya.


"Radit jangan begitu." suaranya terdengar sedikit merajuk.


"Itu jika sudah istri." ucap Zahira lagi.


"Apa kau tidak ingin menjadi istriku?" Radit merayunya, dari dekat wajah cantik itu sedang tersipu malu.


Zahira diam tak menjawab, tapi matanya menatap dengan binar cinta yang jelas terlihat. Itu membuat Radit yakin bahwa dia akan menerima lamarannya.


"Jawab aku sayang, apa aku di terima?" Radit semakin berani merayunya, tersenyum manis menunggu jawaban dengan hati yang sudah tak menentu.


Hingga sejenak saling menatap, akhirnya Zahira mengangguk. Membuat pria di depannya membulatkan mata dan mulutnya sedikit terbuka. "Ini bukan mimpi?" tanya Radit lagi, matanya mengerjap beberapa kali.


Zahira menggeleng, dan tersenyum. Radit masih tak bisa berkata-kata, hatinya sungguh bahagia, jantungnya seperti akan melompat keluar.


"Aku mau menjadi istrimu Radit." suara lembut itu berkata, terdengar sangat merdu di telinga Radit.


"Terima kasih Zahira, aku berjanji akan membuatmu bahagia." Radit menahan rasa yang begitu menggebu di dalam jiwanya, entah harus meluapkannya seperti apa, melihat Zahira dengan gemas sekali.

__ADS_1


"Jangan kau ulangi lagi." ucap Zahira, sudah jelas dia takut Radit akan memeluknya.


"Kenapa, apa itu membuatmu tak bisa tidur?" Radit menggodanya, pipi yang putih mulus itu merona, jelas terlihat dari cahaya lampu berwarna putih menerpa. "Kita akan menikah Tiga hari lagi." ucap Radit, wajahnya terlihat begitu hangat.


"Secepat itu?"


"Tentu saja. Besok Mama akan menghubungi paman Rey, dan aku akan segera menghubungi Umi Nurul." Ucap Radit sangat yakin.


"Aku rasa sulit mengurus kepindahan mu Radit, karena kau sudah kelas Tiga." ucap Zahira.


"Kalau Umi Nurul tak bisa membantu berarti kau ikut aku ke Malaysia lagi." Radit meliriknya.


"Tidak ada pilihan." jawab Zahira, mendekat ke jendela yang masih terbuka.


"Apa kau tidak mau ikut suamimu?" Radit ikut berdiri di belakangnya.


"Suamiku masih sekolah." Zahira tertawa.


"Tak sampai satu tahun Zahira, bahkan umurku hanya beda Tujuh bulan darimu." Radit menoleh wajah yang sedang tersenyum itu.


Zahira merasa ini sudah benar, hatinya tak lagi memiliki beban, gelisah yang kemarin sudah hilang dengan berganti tawa, Radit semakin memperlihatkan perasaannya.


"Sementara aku akan tinggal di sini." Zahira menoleh.


"Kenapa, apa kau sudah tidak nyaman tinggal di rumah kita?" Radit merubah posisinya menghadap Zahira.


"Aku calon istrimu Radit. Tidak pantas jika aku tinggal satu rumah denganmu saat sudah menjelang hari pernikahan." jawab Zahira.


"Tapi itu rumahmu juga." sudah jelas Radit tidak ingin jauh dari wanitanya.


"Tidak, aku akan tetap tinggal di sini, kita menikah di rumah ini, dan kita akan menghabiskan banyak waktu di sini." ucap Zahira lagi.


Radit terlihat berpikir.


"Berdua." lanjut Zahira lagi tersenyum.

__ADS_1


Radit ikut tersenyum mendengar kata yang terakhir, tentu itu juga sangat diinginkannya, hidup berdua dengan wanita yang sudah sangat lama di impikan.


__ADS_2