Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
210. Obat kurang tidur


__ADS_3

'Benar kata Mama, jika aku terus terpuruk seperti ini, bukannya aku bisa membalas malah penampilanku yang seolah memelas, menyedihkan. Aku harus bisa, aku harus kuat demi anak-anak juga dirimu Mas, hidupku tidak akan tenang jika belum melihat Merry menerima balasan yang setimpal. Apapun akan aku lakukan untuk menghukum wanita yang sudah menghabisi mu. Karena jika di biarkan, aku pun akan berada dalam ketakutan selamanya. Bukan tak mungkin suatu saat dia berpikir untuk kembali mengulangi kejahatannya padaku, atau kepada anak-anak kita.'


Cermin dihadapannya memantulkan aura redup yang jelas berasal dari wanita yang masih di selimuti kesedihan. Berkali-kali menarik nafas, rasanya tetap sama sesak dan berat.


Akhir pekan yang penat meskipun sudah beberapa hari tidak bekerja, sungguh sakit di tubuh tak seberapa, tapi di hati sudah sangat lama. Tentu saja tak ada penyakit di dalam diri Zahira, hanya lemas tak bertenaga. Mungkin keluar rumah, mencari suasana baru akan bisa merubah sedikit rasa penat yang tak berujung, bahkan sebutan sakit tak akan sembuh karena obatnya sudah jauh di surga sana.


"Non! Ada yang mencari." suara Bibi di belakang pintu membuatnya beranjak dari lamunan tak berguna namun terasa nikmat untuknya sendiri.


"Siapa Bi?" tanya Zahira dengan suara lembut, tangan lentiknya tampak sedang merapikan hijab sederhana yang baru saja terpasang di kepalanya.


"Tuan Reza Non." ucap Bibi tersenyum.


"Oh." Zahira menutup pintu kamar dan segera melihat ke ruang tamu.


"Hai." Reza berdiri dengan wajah bersemangat seperti biasa, dia sungguh senang ketika Zahira datang menuju sofa tak berjarak dengannya.


"Silahkan duduk." ucap Zahira juga duduk di sofa bersebelahan dengan pria tampan itu.


"Terimakasih. Kau sudah sembuh?" tanya Reza fokus pada wajah yang diajaknya bicara.


"Iya." jawab Zahira lembut.


"Aku sengaja datang melihat keadaanmu, beberapa hari aku sibuk tidak sempat datang ke sini." Reza menjelaskan.


"Aku baik-baik saja, pada dasarnya aku tidak sakit. Entahlah!" Zahira tersenyum sedikit.


"Mungkin kau bosan. Apa sebaiknya kau ikut denganku?" Reza semakin menatap penuh harapan.


"Tidak perlu, kami akan ke pantai hari ini." jawab Zahira halus.


"Kalau begitu, aku ikut denganmu!" ucap Reza yakin, dia tersenyum senang.

__ADS_1


"Tapi kau akan bosan jika pergi bersama anak-anakku. Mereka akan merepotkan dan mengganggumu." Zahira tak yakin jika akan pergi bersama Reza.


"Kalau aku merasa repot, tentu tak akan mau ikut denganmu." Reza meyakinkan Zahira.


"Baiklah, kalau begitu aku akan bersiap dulu. Sementara kau habiskan kopimu." Zahira beranjak menuju kamarnya di lantai Dua, setelah Bibi membawakan minum untuk Reza.


"Baiklah." tentu saja dia akan menunggu.


Sedikit berdandan menutupi wajah pucatnya, Zahira mengganti pakaian dengan yang lebih baik, gaun panjang berwarna biru tosca terlihat serasi dengan kulit putih bersih tampak dari tangan dan kakinya. Hijab panjang senada berbahan ringan membuat ia semakin anggun.


Suara anak-anak terdengar ramai di ruang tamu, sepertinya mereka sudah bertemu Reza dan mulai dengan sejuta candaan. Dari dulu memang seperti itu, setiap kali Dua jagoan Anggara ikut kekantor, akan sangat seru ketika bermain dengan Reza. Pria itu menyukai keduanya bukan hanya saat Zahira sudah menjanda. Tak sekali pria itu mengatakan hal konyol pada Anggara kala itu. "Aku akan membawa anak-anakmu pulang!" ucapnya kepada Anggara setelah membuat anak-anak tertawa lelah.


"Cepatlah menikah, dan buat anak yang banyak! Agar tidak menginginkan anak-anakku." jawab Anggara tak mengizinkan saat itu.


Ah, ternyata waktu sangat cepat berlalu. Tak di sangka kini Anggara pergi dan akan terlupakan oleh dunia setelah bertambahnya hari, berlalu dan berganti.


"Paman curang!" suara Satria menggema di ruangan besar itu.


Mata hitam pekat itu menangkap bayang seorang yang amat cantik, turun dengan pelan dan gaun yang panjang terlihat istimewa ketika dipakai oleh dirinya. Wajahnya yang menggemaskan melebihi gadis belia menghadirkan getaran tersendiri di jantung Reza Mahendra.


"Maaf menunggu lama." ucap Zahira memaksa mata seorang Reza berkedip, bahkan berkali-kali seperti kemasukan debu.


"Tidak masalah, artinya kita sudah siap berangkat!" Reza mengalihkan pandangannya kepada anak-anak yang terlihat aktif saling melempar bola karet di dekatnya.


"Kau yakin? Lihatlah bahkan mereka sangat tidak bisa diam!" Zahira menanyai Reza lagi.


"Apa aku baru mengenal mereka?" Reza tersenyum dan menggeleng, merasa kekhawatiran Zahira berlebihan.


"Pakai mobil ini saja." Zahira menunjuk mobilnya yang sering dipakai jika sedang berjalan-jalan dengan Anggara.


"Baiklah! Kita akan jalan-jalan hari ini." ucap Reza semakin membuat anak-anak berseru hore.

__ADS_1


Mereka duduk di belakang dengan dijaga oleh Jia, Reza menyetir bersama Zahira di sebelahnya.


'Mas, apakah aku salah?' Hanya sekedar melibatkan laki-laki dalam liburan akhir pekan Zahira sudah merasa berkhianat.


"Paman kita akan kemana?" tanya Satria berdiri dan memeluk Reza dari belakang.


"Ke pantai Sayang, seperti keinginan ibumu." menoleh Zahira sekilas.


"Kita akan bermain air!" Sadewa ikut berdiri namun memeluk Zahira.


"Ya." jawab Zahira merasa nyeri itu datang lagi. "Duduklah Sayang, jangan menggangu Paman Reza sedang menyetir." ucapnya halus, membayangkan jika itu Anggara, maka Zahira tak perlu mencegahnya.


"Tidak apa-apa, pelukanmu membuat Paman tidak mengantuk." Reza membuat alasan.


"Apa Paman sedang kurang tidur?" tanya Satria polos. Wajah halusnya sedikit menyamping hampir menciumi pipi Reza, mata bening Satria ingin melihat apakah mata Reza merah karena kurang tidur.


"Ah, sedikit." Reza menoleh, sengaja menempelkan pipinya pada Satria.


"Ibu juga kesulitan tidur, sehingga di pagi hari matanya merah karena masih mengantuk!" ucapnya polos.


Reza menoleh Zahira, buru-buru wanita itu membuang pandangannya ke luar tak ingin menatap Reza. Tentu bukan karena hanya mengantuk, tapi karena selalu menangisi Anggara.


"Paman akan membuat ibumu tidur nyenyak nanti." ucap Reza membuat Zahira menoleh cepat.


"Apa paman punya obatnya?" tanya Satria belum juga berhenti, anak itu tidak tahu jika ibunya sudah sangat kesal.


"Iya, paman punya obatnya. Dan ibumu tidak akan bangun dengan mata memerah lagi setelah meminum obat dari Paman nanti." Reza terus bicara dengan mata tetap fokus pada jalanan. Terdengar serius namun sedang menahan tawa karena melihat sekilas Zahira menatap tajam padanya.


"Ibu harus segera meminumnya." Sadewa ikut menyahut sambil tetap memeluk Zahira.


"Itu tidak perlu, Pamanmu sedang bercanda." Zahira berusaha untuk tidak marah.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak sedang bercanda. Jika ibumu tidak mau maka Paman akan memaksa." ucapnya kali ini sudah tidak bisa menahan tawa ketika tangan kecil Zahira memukul lengannya.


__ADS_2