
Radit berdiam sejenak melihat di rumah itu begitu sepi, bahkan setelah masuk di ruang tamu tak terlihat empat orang rekan yang lainnya.
"Apa mereka belum datang?" Radit menoleh Merry sejenak, gadis itu selalu tersenyum ramah menampilkan wajah yang manis.
"Mereka masih menunggu Ryan, katanya masih ada pekerjaan di rumahnya dan kemungkinan mereka akan datang bersamaan." Merry mempersilahkan Radit duduk menunggu di ruang tamu.
Radit duduk dengan perasaan tidak enak, melihat ke sana-kemari tak ada siapapun. Hingga tak lama kemudian Merry keluar dengan membawa jus jeruk di tangannya.
"Silahkan kau minum dulu, sementara menunggu mereka datang. Aku tinggal ke dalam sebentar." Gadis itu menunjuk arah dari pintu ia tadi keluar, itu memang lebih baik mengingat mereka hanya berdua, ingin rasanya Radit menunggu di luar saja.
"Ah, baiklah. Terimakasih." Radit meraih gelas minuman itu dan meminumnya, karena cuaca sedang cerah dan Radit merasa haus. Lama menunggu membuat Radit mengantuk, tapi ia tahu sedang berada di rumah Merry, hingga dia menahan kantuknya sekuat mungkin.
Beberapa menit berlalu kepala Radit menjadi pusing, entah apa penyebabnya ia merasa penglihatannya menjadi sedikit bergoyang. Radit menyandar dan memijat kepalanya hingga entah berapa lama ia tak tahu apa lagi yang terjadi.
"Radit."
"Zahira." ucapnya tersenyum bahagia di tengah gejolak aneh dan disertai pusing di kepalanya. Zahira merangkulnya membawa ke kamar yang luas, memintanya berbaring dan mengunci pintu.
Radit memejamkan matanya sejenak, lalu membuka matanya perlahan. Dan alangkah terkejutnya Radit melihat Merry ada di hadapannya. Radit beringsut duduk dengan tatapan tegang dan marah.
"Merry!" Radit berdiri dan meraih pintu namun sia-sia pintunya terkunci. "Merry buka pintunya!" Radit membentak gadis itu namun kembali kepalanya terasa sakit dan panas.
Kali ini yang di rasakan Radit bukan lagi sakit kepala, tapi panas dan membuat sesuatu di bawah sana menegang dan sangat menginginkan Merry. Dalam keadaan setengah sadar Radit meminta Merry membuka pintu dan ingin segera keluar. Berkali-kali namun sia-sia, hingga akhirnya Radit sudah tidak mampu menahannya lagi. Radit memukul tengkuknya sendiri dengan sebuah ukiran kayu yang di pajang di atas meja sudut kamar itu, namun sia-sia Radit hanya pusing tapi tak sampai pingsan, Merry yang memulai lebih dulu di saat Radit jatuh lemas karena pukulan kayu di tengkuknya, Yang sangat ditakutkan Radit terjadi, dan yang begitu di inginkan Merry terlaksana sudah.
Pemanasan yang di mulai olehnya berhasil membuat Radit memimpin permainan tanpa sadar, begitu ia tidak peduli siapa yang sedang ia kuasai. Hingga akhirnya pelepasan itu mengakhiri segalanya.
*
__ADS_1
Sedangkan di rumah Zahira, gadis itu sedang belajar memasak bersama mbok Tuti, begitu bersemangatnya ia belajar, memotong sayur dan bawang adalah pelajaran pertama untuk Zahira.
"Non dikupas dulu kentangnya." Mbok Tuti memberikan pisau untuk mengupas kentangnya.
"Iya mbok."
Lama ia berkutat dengan kentang, wortel, dan juga bawang, mengupas hingga memotong sudah selesai ia lakukan.
"Ini daun bawang juga perlu dipotong mbok?" Zahira memegang daun bawang yang sudah di cuci.
"Iya non, di potong besar-besar saja." ucap mbok Tuti, tangan wanita yang sudah beruban itu masih tampak sibuk menyalakan kompor dan meletakkan wajan.
Zahira mulai memotong daun bawang dengan serius, mata bening itu nyaris tak berkedip.
"Ahhh....!!"
"Kenapa non?" Mbok Tuti langsung mendekat dan melihat jari telunjuk majikannya sudah berdarah. "Aduh non, sakit ini." Mbok Tuti mematikan kompor dan segera berlari mengambil kotak obat di ruang tengah.
"Di plester dulu non." Tangan wanita yang sudah keriput itu bergetar sambil membalut luka di telunjuk Zahira.
Sejenak Zahira melamun, ia terpikirkan Radit. sudah lewat ashar ia belum juga pulang, padahal tadi Radit bilang hanya sekitar satu jam lebih sudah selesai. Zahira meraih ponselnya yang sengaja ia letakkan di atas meja makan.
"Tuuutttt. Tuuutttt."
Tak ada jawaban, hingga berkali-kali ia mengulangi panggilan tetap tak ada jawaban, namun Zahira mencoba berpikiran positif barangkali sebentar lagi Radit sudah kembali.
Dan di rumah Merry.
__ADS_1
Radit berusaha membuka mata, berat dan samar ia melihat nuansa hijau muda di langit-langit kamar itu. Memijat kening dan mengusap-usap wajah tampannya, hingga akhirnya dia berhasil membuka mata.
"Merry??" Radit begitu tersentak melihat Merry tidur di sampingnya bertutup selimut hingga dada, wanita itu terlihat berantakan dengan rambut setengah ikalnya menutup sebelah pipi dan lehernya. Jantungnya berdegup tak karuan, hatinya sudah kacau di kuasai amarah dan sesal.
Radit meraih pakaiannya yang sudah kusut dan berceceran di lantai, segera memakainya lalu ia mencoba meraih selimut yang menutupi tubuh Merry.
"Bangun!" Suara Radit terdengar menakutkan, terlebih lagi ia mendapati Merry tak memakai apa-apa, polos itu terpampang nyata.
Merry menggeliat dan membuka matanya, ia langsung melihat dirinya dan menarik kembali selimut yang di tarik Radit.
"Apa yang kau lakukan padaku?" Radit sudah tidak tahan ingin rasanya menghabisi wanita itu.
"Aku tidak melakukan apapun Radit, kaulah yang sudah melakukan ini semua padaku." Merry menunjuk tanda di dadanya.
Radit membuang mukanya dengan tidak suka, sungguh ia jijik dengan wanita di hadapannya, juga pada dirinya sendiri. "Mulai saat ini anggap saja kita tidak saling kenal, jangan pernah menemui aku atau mengubungi aku. Mengerti!!" bentak Radit begitu marah.
"Itu tidak mungkin Radit, kau sudah melakukannya padaku!" Merry marah dan berteriak.
"Kau bilang aku yang melakukannya, apa tidak salah? Kau menjebakku!!" Radit berteriak kesal sekali, matanya memerah dan tangannya mengenggam erat.
"Hah, menjebak kau bilang? Bukankah kau menyukainya?" Merry tersenyum mengejek pada Radit.
"Menyukai apanya? Aku tidak pernah menyukai apapun darimu, dan ku harap kau anggap ini tidak pernah terjadi." Radit menunjuk lantai tempat ia berdiri.
"Tidak Radit, kau harus menikahi ku. Kau sudah melakukan ini padaku." Mery semakin emosi dan membuka selimutnya di depan Radit, semakin membuat Radit tidak menyukainya.
"Sudah ku bilang tidak mungkin!" Radit Menatap tajam padanya.
__ADS_1
"Kenapa? Apa karena kekasihmu itu?" Merry mulai menitikkan air mata. "Kau begitu mengistimewakan dia, padahal dia tak lebih baik dariku, dia menutup kepalanya tapi berciuman dan bermesraan denganmu di depan umum, itu lebih menjijikan dari pada aku yang tidur denganmu di dalam kamar ini." ucapnya tak kalah kesal.
"Tutup mulutmu, dia jauh seribu kali lipat lebih baik darimu, kau sama sekali tidak pantas di bandingkan dengannya. Dia tidak tersentuh selain aku!" Radit semakin marah dan mencoba mencari kunci kamar itu.