Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
73. Penang Malaysia


__ADS_3

Rumah Pemulihan Jiwa, Penang Malaysia


"Apa kabarmu Nurul?" Ayu memeluk Nurul dengan penuh rindu.


"Alhamdulillah baik selalu." jawabnya tersenyum manis, tetap dengan kerudung sederhana dan wajah polos tanpa polesan.


"Apa Radit sudah ada perubahan?" tanya Ayu pelan.


"Masih macam tu lah, bile die minumkan obat barulah tenang sikit. Lepastu balik lagi kepade perangai semule." Nurul tampak menarik nafas.


"Aku sangat berterimakasih kau selalu menjaga anak-anakku." Ayu melepaskan pelukannya dari tubuh mungil Nurul, ia menggandeng David dan mengajaknya masuk ke dalam.


"Itu dah tugas Nurul." jawabnya halus.


"Apa Radit menanyakan sesuatu?" tanya Ayu lagi sambil melangkah masuk.


"Ade, tanyekan akak, tanye Abang David juga. Lepastu die orang melamun, terkadang menangis dan memanggil-manggil Zahira." jawab Nurul sedih.


"Kami juga bersalah atas kehilangan Zahira, harusnya Radit tak menyalahkan diri sendiri." Ayu mulai merasakan kesedihan itu lagi, tak terkecuali David, pria itu tak ingin bicara lantaran ia tidak sanggup menyebut nama Zahira.


"Selamat datang Nyonya!" Dokter muda menyapa kedatangan Ayu.


"Terima kasih, kami ingin mengunjungi Raditya." jawab Ayu tersenyum.


"Silahkan, baru je lepas minum obat." jawabnya membukakan pintu menuju ruangan Radit.


"Terimakasih Dokter." Ayu menunduk hormat pada dokter yang ramah sekali.


"Same-same." jawabnya lalu kemudian meninggalkan Ayu dan David di ruangan luas tempat Radit di rawat.


"Radit sayang, Mama datang bersama Papa." ucap Ayu pelan saat melihat putranya duduk menyandar di sofa sambil melamun.


Pria tampan itu tampak tak berdaya dan terlihat lemas, dia hanya duduk di ruangan itu memakai kaos oblong dan celana pendek.


David menatap putra semata wayangnya dengan tatapan sedih, bagai pedang yang menghujam di ulu hati tak pernah ia bayangkan keluarganya akan hancur seperti ini. Kehilangan Zahira, lalu Radit depresi berat tak mampu menanggung beban kehidupan, David ikut sakit-sakitan dan entah apa lagi.

__ADS_1


"Papa." ucapnya pelan.


David mendekat, ia tak kuasa melihat Radit begitu menderita, pria itu memandangnya dengan mata berkaca-kaca.


"Radit maafkan Papa." ucap David bergetar, dia sungguh tak ingin Radit menjadi seperti ini.


"Papa!" panggil Radit tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Cepatlah pulih Nak, Papa tidak sanggup dengan keadaan yang berat ini." David meneteskan air mata.


Radit hanya mendengarkan, mata sipitnya menatap kosong walau tangannya membalas pelukan David.


Lama masih tak terdengar kata-kata apapun, hingga akhirnya ia kembali bicara.


"Apa Zahira ikut datang kemari?" tanya Radit membuat terkejut semua orang.


"Oh, itu dia tidak bisa ikut Nak." Ayu mencoba menenangkan hati putranya, dia sudah biasa menghadapi Radit seperti itu, berbeda dengan David yang langsung mengelus dada.


"Apa Zahira tidak merindukan aku, padahal dia sering memintaku pulang, mentang-mentang dia sudah selesai ujian." Radit seakan berada di saat-saat mereka baru saja berpisah, Zahira di Indonesia dan dia masih di Malaysia.


"Iya sayang." Ayu hanya mampu menjawab seperti itu.


"Iya nak, dia tidak seperti itu." Ayu menenangkan Radit lagi.


Radit tersenyum senang, ia yakin Zahira akan mendengarkan kata-katanya, dia akan selalu menurut apa maunya.


"Mama, Zahira itu cantik sekali." Radit kini bercerita dengan mata masih menatap kosong.


"Tentu saja sayang, sejak kecil dia memang cantik." Ayu tak ingin membuat Radit menyadari jika Zahira sudah tak ada, sudah pasti dia akan menjerit dan berteriak.


"Dia kesayangan Papa." sambungnya lagi.


"Sekarang kau makan dulu, Mama membeli makanan kesukaanmu tadi di jalan." Ayu meraih bag berisi makanan.


"Aku pernah menyuapi Zahira dengan tangan ini, dia manja sekali." dia masih saja tak bisa berhenti membicarakan Zahira.

__ADS_1


"Iya sayang, makanlah dulu setelahnya kita berbicara lagi." Ayu menyuapkan makanan pada putranya yang terlihat tak memiliki selera makan.


Baik David juga Nurul,mereka sama-sama merasakan sedih yang luar biasa. Kehilangan itu memang menyakitkan, sungguh-sungguh menyakitkan.


*


"Kita sudah sampai." Ricky bergegas turun, juga Anggara setelah sopirnya membukakan pintu untuk pria dewasa itu.


Anggara berdiri di halaman rumah sakit yang tampak sudah berumur puluhan tahun itu, sepertinya memang tak terjamah, tak ada renovasi, mungkin karena terletak di pelosok yang jauh beserta jalan yang lumayan berliku dan lagi menyeramkan untuk di lewati sembarang orang.


Mereka masuk ke dalam rumah sakit di sambut kepala rumah sakit beserta Managernya, Rumah sakit swasta namun cukup beroperasi dengan baik, hanya keadaan dan fasilitas saja yang tidak memadai, Dokter yang tersedia juga terbatas membuat mereka harus bekerja lebih keras membantu masyarakat di daerah itu.


"Ada satu pasien yang koma hingga hampir dua bulan ini Tuan Anggara, bulan lalu ia sempat sadar namun kembali tertidur dan tidak bangun lagi hingga hari ini, kami menduga dia terkena benturan otak sehingga membuat kesadarannya tak kunjung pulih, Kami tak berdaya dengan alat seadanya." ucap Kepala Rumah sakit itu.


"Apa tidak di rujuk?" tanya Anggara serius.


"Kami tidak tahu siapa keluarganya." jawab Dokter senior yang dari tadi hanya diam saja.


"Mengapa bisa tidak tahu?" tanya Ricky menatap heran pada semua orang anggota rumah sakit itu.


"Dia diantar oleh seorang cleaning servis rumah sakit ini, dia menemukannya tapi tidak tahu keluarganya." jawab Kepala Rumah sakit.


"Tidak masalah, aku menjamin akan menyembuhkannya bila perlu akan membawanya ke luar negeri, asal rumah sakit ini sudah mendapat bantuan aku bisa tenang mengurus pasien itu secara pribadi." Manager muda itu meyakinkan semua orang.


"Pasiennya wanita?" Ricky bertanya dengan nada selidik, sebab Manager muda itu tampak bersemangat untuk menangani pasien koma itu.


"Iya." kali ini dokter senior yang menjawab.


Anggara masih menyimak, ia berpikir untuk melihat pasien koma tersebut, berharap dia adalah Zahira.


"Kami akan pertimbangan pembangunan untuk rumah sakit ini, walaupun nantinya berapa nominal yang akan kami sumbangkan belum dapat kami putuskan saat ini. Tapi yang pasti kami akan membantu, jika memungkinkan kami akan membangun seluruhnya beserta alat-alatnya." jelas Ricky tak mematahkan harapan para medis di sana.


"Terima kasih tuan, hanya kalian harapan kami, sungguh kami ingin membantu semua orang di daerah ini." Dokter senior itu terlihat senang.


"Sama-sama." Ricky tersenyum ramah.

__ADS_1


"Boleh kami melihat pasien koma itu?"


"Maaf, kami tidak mengizinkan sembarang orang untuk melihat pasien tersebut, sebab demi keamanan dan kenyamanan pasien, kami berharap dengan menjaga ketat pasien akan membuatnya cepat sadar dan pulih kembali." pria muda itu sepertinya tak mengizinkan Anggara dan yang lain untuk melihatnya.


__ADS_2