Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
135. Kejar-kejaran


__ADS_3

"Laura Sayang, Mama mohon jangan menangis." ucap Merry khawatir, ia sungguh gugup menyetir dengan mendengar suara tangisan.


Belum lagi Dua mobil di belakangnya semakin mendekat, dan sekarang salah satunya ingin mencoba menyalip di depan.


Merry menambah kecepatan, memacu gasnya, ia tak akan mengizinkan mobil hitam itu menghentikan dirinya.


"Oaaaaaaaaaa." tangisan Laura semakin kencang, kali ini seakan tarikan nafasnya ingin berhenti, kedua tangan bayi kecil itu terangkat ke atas hingga sejajar dengan telinga.


"Laura, jangan takut Nak, Mama ada disini." Merry menepuk pelan dada bayi itu. Ia kesulitan berkonsentrasi, harus melihat ke depan juga sesekali melihat Laura.


Graakkk


Suara tabrakan dan mobil Merry bergoyang hingga mengganggu laju mobilnya. Merry menoleh dan ia melepaskan tangannya dari Laura, Merry kembali memacu gas dan memutar setirnya ke kiri.


Kali ini Merry tak peduli lagi dengan tangis Laura, yang penting baginya adalah bebas dari kejaran anak buah Anggara, Merry yakin sekali jika itu anak buah Anggara.


Mobil melaju terus ke depan, beruntung jalan di depannya lumayan sepi. Merry sengaja memilih jalan yang paling jauh dari keramaian, ia bisa dengan bebas berkendara dan mengebut.


Sedangkan Radit baru saja tiba di rumah Anwar, tak di sangka di depan pintu rumah itu kini di jaga dua orang bodyguard, keduanya berkulit hitam dan menyeramkan.


"Apa Merry ada di dalam?" tanya Radit, namun mata sipit Radit tak melihat mobil miliknya ada di sana.


"Tidak ada." jawab dua orang itu memasang wajah menakut-nakuti.


"Kalau begitu apa ayah mertuaku ada di dalam?" tanya Radit lagi.


"Tidak ada!" Bodyguard yang satunya ikut menjawab.


Radit tidak yakin, tapi sejenak kemudian ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Kau menemukannya?" tanya Radit.


Terdengar di seberang sana suara sedang menjelaskan keberadaan Merry.


"Baiklah." Radit berbalik kembali menuju mobilnya, lagi pula percuma menemui ayah mertuanya yang sudah pasti akan membela anaknya habis-habisan. Bukankah harusnya dia menasehati dan meluruskan jalan pikiran anaknya, tapi dia tidak! Bagaimana jika esok tidak bangun lagi? 'Terserah saja, bukan urusanku' Gumam Radit dalam hati.

__ADS_1


Radit melaju kencang menuju jalan pinggiran kota, ia yakin Merry tak akan bisa pergi jauh. Lagi pula Anggara juga sekarang sedang mengejar dirinya, pria tua itu sudah pasti lebih pintar daripada Merry.


Radit mengusap kasar wajahnya, "Mengapa aku jadi memuji pria tua itu?" ucapnya seolah sedang melihat suatu yang menjijikkan.


Kembali lagi pada Merry yang tetap mengebut, wanita itu mengemudi seperti orang sedang mabuk, terkadang ke kiri juga ke kanan.


Di dalam mobil itu Laura masih menangis bahkan semakin kencang, namun ia tak punya waktu berhenti bahkan untuk memberi susu pada Laura. Merry sungguh bingung ingin mencari celah untuk berhenti namun ia takut tertangkap oleh anak buah Anggara. Hingga keluar dari kota, Merry tersenyum lega, ia begitu bahagia akhirnya bisa menghindar dari kejaran anak buah Anggara.


"Aku berhasil." ucapnya dengan senyum sumringah, ia benar-benar bangga bisa lolos dari polisi juga dari anak buah Anggara. Merry mengurangi kecepatan mobilnya. ia sedang berpikir untuk turun dan membawa Laura, sudah pasti mobil Radit tidak aman untuk ia kendarai.


"Sayang, kau pasti lapar." Merry mengangkat tubuh mungil itu. Ia segera memberi Asi sambil melihat kiri dan kanan, meraih tas dan tangan kirinya membuka pintu.


Tapi sayang sekali, dari arah belakang dua mobil itu kembali terlihat dan sedang melaju kencang ke arah Merry.


Merry meletakkan Laura dan kembali melaju kencang sehingga terjadi kejar-kejaran.


Dorr


Kali ini suara tembakkan. Mery tak menoleh hanya terus berusaha kabur. Ia tidak tahu jika di belakang sudah ada banyak mobil termasuk mobil Radit juga Anggara. Polisipun sudah ada di antara mereka, dan beberapa puluh meter di depan juga sudah siap, banyak mobil dan polisi yang ikut serta.


Di rumah Anggara.


"Sebaiknya kita naik ke atas saja Nona." ucap Jia sopan.


"Baiklah, lagi pula aku sudah selesai." Zahira beranjak dari duduknya, menggandeng Jia menuju lantai Dua.


"Sebaiknya kita berada di atas karena hari sudah malam." ucap Jia lagi.


"Benar, tapi kita sudah sholat dan suamiku belum pulang juga." wajah cantik Zahira tampak berpikir.


"Mungkin sedang ada urusan yang harus di tunggu." jawab Jia, wanita kurus itu setia mendampingi Zahira yang berjalan pelan.


"Nona Zahira!" seseorang dari belakang memanggil Zahira, membuat ia berbalik.


"Iya Kay, kau ada di sini?" tanya Zahira lembut.

__ADS_1


"I-iya Nona, aku di minta Tuan Anggara menjemputmu, Tuan sedang ada urusan dan meminta anda menemaninya, malam ia ia tidak akan pulang." ucap Kay penuh hormat.


"Oh, tapi mengapa suamiku belum menghubungiku." Zahira mencari ponselnya, tapi ia ingat jika ponselnya ada di kamar.


"Tidak perlu Nona, kita akan berangkat sekarang." Kay mendekat ingin meraih tangan Zahira.


Jia maju dan menepis tangan Kay, mata tajamnya sekarang menusuk dalam seperti ujung pedang yang sedang menyerang.


"Aku sedang bertugas, dan ini perintah Tuan Anggara." ucap Kay menatap tajam wajah cantik Jia.


Sudut bibir Jia terangkat sedikit, ia tak percaya dengan apa yang di katakan Kay. "Tidak ada yang boleh membawa Nona Zahira keluar dari rumah ini." ucapnya dingin.


"Kau membantah?" Kay menyeringai.


"Tentu saja, kau bukan siapa-siapa." ucapnya dengan suara menakutkan.


"Kalau begitu aku harus memberi pelajaran padamu, ingat jika kau berada jauh dari posisiku." ucap Kay bangga.


Jia tersenyum, bersiap menghadapi Kay dengan tinjunya yang mengerat siap memukul lawannya yang jelas lebih kekar dan besar daripada tubuh Jia.


Kay menyerang dengan tinjuan berkali-kali, namun berhasil dihindari Jia, wanita kurus itu bergerak lincah. Sedangkan Zahira mundur dan takut melihat Jia sedang di serang oleh bodyguardnya juga.


"Kau pikir bisa menang?" Kay kembali menyerang, kali ini lebih ganas, meninju dan juga menendang. Begitu juga Jia tak mau kalah, nyawanya di pertaruhkan untuk melindungi Zahira. Jia menendang dan memukul, Satu pukulan berhasil mengenai perut Kay, wanita itu lengah ketiga Jia menunduk dan meninju. Namun tanpa di duga, Kay meluncurkan tendangan yang cukup keras, kaki besar Kay berhasil membuat Jia terduduk mundur.


"Jia!" Zahira mendekat dan mencoba menolong Jia, tapi malah Kay meraih tangannya dan memaksa ikut dengan Kay pergi.


"Tidak Kay, aku tidak boleh pergi." Zahira memberontak tak mau beranjak dari dekat Jia.


"Nona harus ikut." pinta Kay tak berniat menyakiti.


Bugh


Kesempatan itu tak di sia-siakan Jia, ia menendang dengan memutar salah satu kakinya sehingga membuat Kay mundur.


"Masuk ke kamar, hubungi Tuan Anggara dan kunci pintunya!" teriak Jia kembali berdiri saling menyerang.

__ADS_1


__ADS_2