
"Vino!" ucapnya sungguh tak menyangka.
Pria itu mendongak, wajahnya yang lusuh menjadi semakin pucat melihat sahabatnya berdiri dengan wajah penuh amarah.
"Radit!" ucapnya lirih.
Radit mencengkeram kerah baju Vino sahabatnya, ia benar-benar kesal sudah tertipu dua orang sekaligus, terlebih lagi Vino adalah teman dekat Radit saat masih sekolah.
"Beraninya kau, berani sekali kau mencelakakan istriku, kau apakan dia, kau apakan mobilnya sehingga bisa hangus terbakar!" matanya seakan ingin keluar, cengkeramannya semakin kuat bahkan kulit bagian dada Vino terasa ikut tertarik.
"Maaf Radit." ucapnya mengeluarkan air mata, entah karena takut atau juga bercampur sakit.
"Maaf katamu! Bahkan aku harus menanggung semuanya setelah semua perbuatanmu. Aku tidak menyangka kau adalah seorang pembunuh! Kau pembunuh, kau benar-benar penjahat yang harus di basmi." geram Radit dengan api kemarahan yang menyala.
"Radit aku mohon, maafkan aku, aku bersedia di penjara, aku akan bertanggung jawab." Vino berkata dengan wajah yang memohon.
"Kau pikir itu bisa lunas?" Radit melepaskan cengkeramannya, ia berdiri dan terus menatap Vino yang sedang bersimpuh.
Pria itu tak menjawab, ia hanya menunduk.
"Aku rasa aku juga harus membakarmu hingga hangus!" ucap Radit lagi, dada pria muda itu tampak kembang kempis menahan amarah, ia juga mengangkat tangannya ingin memukul wajah Vino.
"Radit aku khilaf." jawab Vino menunduk, kedua tangan Vino menutupi kepalanya, ia sungguh ngeri akan mendapat pukulan dari Radit.
"Kalau begitu aku juga bisa khilaf." ucapnya dingin, membuat Vino semakin ketakutan.
"Aku akan bertanggung jawab. Aku janji!" jawabnya lagi matanya sungguh sedang memohon, ia sangat takut dan juga menyesal.
"Mengapa kau melakukannya?" Radit masih butuh jawaban.
"Aku-, aku ingin kau meninggalkanku Merry dan menyalahkannya."
__ADS_1
"Bukankah kau bisa memintanya dengan baik-baik, aku akan menyerahkannya dengan senang hati dan semua ini tak perlu terjadi. Tapi kau malah membuatku kehilangan semuanya, menghancurkan keluargaku juga rumah tanggaku."
"Kau tidak bisa hanya menyalahkan aku, keluargamu hancur karena ulahmu sendiri yang dengan mudah percaya kepada Merry. Dan aku juga hanya laki-laki bodoh yang terlanjur menikmati keinginan wanita yang tidak terpenuhi." jawab Vino seakan menemukan celah untuk menjawab Radit.
"Tapi mengapa harus aku yang menanggungnya, bahkan semua orang tahu aku hanya mencintai istriku, dan Merry memintaku untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang di ciptakan sendiri." jawab Radit.
"Dan dia mengadukan kesedihannya padaku." lirih Vino menunduk dan mengingat masa itu.
"Dan memintamu untuk mengisi lobang bekas itu hingga penuh?" tanya Radit.
Vino semakin kacau, ia tidak tahu harus menjawab apa, ia tak munafik masih ingin bersama Merry, terlebih lagi ada seorang anak diantara mereka bertiga dan kemungkinan dialah ayahnya. Memang benar yang dikatakan Radit, saat itu Merry seakan pasrah dengan perbuatan mereka, ia begitu menginginkan Vino melakukannya hingga berkali-kali.
"Kalian sama-sama menjijikkan!" Radit menendang kaki Vino berkali-kali, ia juga meraih kembali kerah baju Vino dan ingin menghabisinya dengan tangannya sendiri.
"Tidak Radit, kita belum selesai." cegah Anggara menahan lengan Radit yang sungguh akan menghabisi Vino jika dibiarkan.
"Apa lagi?" tanya Radit menatap tajam pada Anggara.
"Dan aku juga akan mengajukan tuntutan pada mereka semuanya. Kau dan kekasihmu itu akan membusuk di dalam jeruji yang dingin." ucap Radit merapatkan giginya.
"Sudah cukup, sebaiknya kita pulang." Anggara kembali meraih lengan Radit dan mengajaknya keluar dengan paksa.
"Aku sungguh ingin menghabisi mereka." Radit menunjuk ke dalam ruangan yang sudah di tutup kembali oleh bodyguard Anggara.
"Mereka sekarang ini sedang ketakutan, kau harus bisa mengendalikan diri. Jangan sampai salah satunya bunuh diri dan lepas dari tanggung jawab di dunia." Anggara melepaskan lengan Radit.
"Kalau aku yang menghabisinya akan lebih membuatku lega." Radit meremas rambut lurusnya.
"Ayo pulang!" Anggara memegang bahu Radit, dan mendapat tatapan aneh dari Raditya.
Anggara balas menatap pria itu.
__ADS_1
"Jangan harap aku mau berteman denganmu." ucap Radit dengan tatapan sengit, ia mendahului langkah Anggara.
Anggara menggeleng pelan, ia hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya. "Dia pikir aku menyukainya?" ia juga enggan bertegur sapa dengan Radit, pria dewasa itu melaju tanpa menolehnya lagi.
*
Pulang terlalu sore, Radit berpikir untuk menenangkan diri ke tempat lain, tapi ia sedang menunggu kabar dari David tentang tes DNA Laura dengan dirinya, sebaiknya ia pulang ke rumahnya sendiri walaupun sungguh lelah harus melihat wanita itu masih bersikap seperti biasa, padahal jelas-jelas dia sudah bersalah. Dua hari setelah menemui Vino, Radit hanya sekali pulang'ke rumahnya, dan itu hanya mengambil berkas di kemarin siang lalu kembali ke kantor tanpa mempedulikan Merry juga Laura.
Harga dirinya sungguh terinjak-injak ketika ia tahu jika ayah Laura bukanlah Radit saja, tapi ada laki-laki lain yang melakukannya, bahkan lebih banyak. Radit tersenyum getir dengan pikirannya yang semakin kacau.
"Radit, Laura sering menangis jika kau tidak pulang. Aku rasa dia sedang merindukanmu." Merry mendorong Laura mendekati Radit setelah pria muda itu memasuki ruang tamu.
"Benarkah, aku tidak yakin dia sedang merindukanku." jawab Radit sinis.
"Apa maksudmu? Kau ayahnya! Wajar saja jika dia merindukanmu. Kalau bukan dirimu lalu pada siapa?" Merry meninggikan suaranya.
"Yakin aku ayahnya?" Radit mendekati Merry, ia juga menatap Laura yang sedang mengecup tangannya sendiri.
"Apa yang kau bicarakan Radit? Kau jangan menuduhku yang bukan-bukan. Jelas-jelas Laura adalah anakmu, kau yang melakukannya dan mengeluarkan milikmu di dalam sana. Lalu sekarang kau mengatakan Laura bukan anakmu? Jangan-jangan wanita sialan itu yang sudah meracuni pikiranmu untuk membalasku karena aku sudah memilikimu saat ini dan dia masih menginginkanmu!" teriak Merry.
"Andai saja yang kau katakan itu benar, aku akan senang sekali jika Zahira masih menginginkanku. Tapi sayangnya semua yang kau katakan tidak benar, termasuk tentang Laura." jawab Radit tersenyum sedikit.
"Radit Laura anakmu!" Merry berteriak, ia memaksa Radit untuk percaya.
"Bagaimana jika ayahnya adalah Vino?" tanya Radit pelan-pelan seperti mengeja, tapi penuh penekanan.
Wajah Merry menegang, ia terkejut mengapa bisa Radit membahas tentang Vino. Tidak mungkin jika Radit mengetahui semua itu, bahkan Radit tidak tahu jika Merry dekat dengan Vino.
"A-Apa maksudmu?" ucapnya pelan seakan ada yang menghalang di tenggorokan.
Radit kembali tersenyum menang.
__ADS_1