
"Mas!"
"Ya?" Anggara menghampiri wanita cantik yang sedang bercermin dengan pakaian rapi.
"Rasanya akan lebih baik jika aku menghindari Radit. Kehadiran kita hanya akan menyakiti hatinya, walaupun aku sempat kecewa, tapi untuk membalas rasanya aku tidak bisa." ucap Zahira lembut, suara halus itu begitu merdu dan tulus.
Anggara memeluknya, menyaksikan mata bening yang tak terukur kedalamannya itu lewat pantulan kaca. "Aku tahu Sayang, tapi tidak untuk selamanya kita menghindar."
"Aku tidak ingin menyakiti siapapun. Jujur saja aku tidak tega dengan semua hal buruk yang menimpa Radit, Meskipun aku juga terluka, tapi rasanya menjadi istrimu adalah pengobat yang sebanding dengan apa yang telah aku lewati." mungkin dia tengah dilanda gundah.
"Apapun itu Sayang." Anggara mengecup kening juga pipi dengan tubuh gagahnya tetap di belakang. "Jangan perlihatkan kemesraan di depannya, sedikit menjaga jarak mungkin untuk menjaga perasaan Radit. Walaupun sebenarnya aku tidak suka harus berjarak denganmu, tapi demi misi perdamaian apa boleh buat. Hargai Papa dan Mama-mu Sayang, juga gurumu yang baik itu." Anggara meyakinkan istri cantiknya, telunjuk halusnya terulur menyapu bibir Zahira.
"Kenapa?" Zahira merengek manja, sedikit protes lipstik merah mudanya di hapus Anggara.
"Jangan terlalu cantik, di sana tak hanya aku yang akan memperhatikan dirimu." Anggara masih saja mengusap bibir Zahira, kali ini. dengan bibirnya, mengecap hingga lama, tentu saja lipstik tipis itu habis tak bersisa.
"Emmh, itu alasan mu saja." Zahira mendorong dada Anggara yang kini memeluk bahunya dengan hangat.
Anggara terkekeh geli, tentu saja itu hanya alasan. "Ayo Sayang, kita harus sudah sampai sebelum isya." Anggara meraih tangan lentik itu, membantunya berdiri walupun itu tak harus dilakukan, tapi buat Anggara itu adalah kebiasaan, ungkapan sayang, juga bentuk rasa memiliki.
"Mas!"
"Hem?"
"Aku mencintaimu." Zahira menyandarkan kepalanya di bahu Anggara, mereka pergi bersama seorang supir sehingga bisa bermanja-manja di sepanjang jalan menuju rumah David.
Anggara tak menjawab, sudah pasti cintanya lebih besar daripada yang di miliki Zahira, bahkan melebihi segala-gala yang berharga di dunia ini. Pria itu memeluknya sepanjang jalan, sesekali mengelus dan mengusap perut besar itu, ada tendangan kecil menyapa membuat hati Anggara menghangat merasakannya.
__ADS_1
Sedangkan di rumah David, Ayu juga beberapa asisten rumah tangga tampak sibuk menyiapkan hidangan makan malam di meja besar, mereka senang sekali akan kedatangan Zahira walaupun posisinya sudah berbeda, tetap saja Zahira adalah Nona di rumah itu, anak majikan yang cantik, baik dan Sholehah. Bagaimana nanti jika harus duduk bersama dengan Radit? Bukan hanya para asisten rumah itu yang sedang memikirkannya, tapi semua orang.
"Akak, macam mane suami Zahira? Tak masalah ke?" tanya Nurul yang tak juga fasih berbahasa Indonesia, namun saat ini ia ingin berusaha memakai bahasa Negara asal ibunya ini.
"Aku sudah bicara padanya, dan dia setuju." jawab Ayu, tangannya sibuk menata buah yang banyak, sengaja untuk Zahira.
"Tentu saja dia setuju Mama, dia ingin pamer kemesraan di depanku." Radit mengambil buah apel dan langsung menggigitnya.
"Sayang, dia tidak seperti yang kau pikirkan. Mama mohon kau bisa berpikir lebih bijak. Ingat dia saudaramu juga Nak." Ayu mencoba memberi pengertian.
"Aku tidak lupa Ma, Zahira saudaraku sejak kecil, tapi kemudian Tuhan merubah statusnya menjadi istriku walau sejenak." Radit meletakkan apel merah itu sembarangan.
"Tak ade orang di dunia ini menginginkan perpisahan, Radit, juga Zahira. Tapi hidup tak boleh paksakan kehendak sendiri, kita hanya menjalankan peran dari yang maha kuasa." Nurul menyahut.
"Umi hanya belum tahu laki-laki itu seperti apa, dia menyebalkan." Radit beranjak menuju ruang tamu.
Nurul tersenyum dengan sedikit menggeleng melihat Radit yang masih belum berubah. Dulu saat masih di Malaysia, Radit selalu melarang Zahira untuk keluar atau hanya sekedar bermain dengan teman wanita. Dia oper protektif, melarang ini dan itu, hanya boleh dekat dengan Radit saja. Sesekali membuat ia menangis, lalu kemudian merayu dan menenangkannya.
"Aku akan menyambutnya." Nurul melepaskan tisu yang sedang ia bawa, segera berjalan menuju lobi.
Tampak seorang laki-laki berbadan tegap turun dengan gagah, ia berbalik membukakan pintu untuk seseorang yang masih berada di dalam, pria itu membungkuk sedikit, memastikan jika orang yang sedang ia pegang tangannya tidak kesulitan keluar dari mobil mewah itu.
"Zahira!" panggil Nurul setelah lama memperhatikan mobil mewah itu, yang terlihat hanyalah Anggara. Hingga Zahira keluar dengan anggun, tubuh berisi dan perut besar yang semakin membuatnya menjadi pusat perhatian.
"Umi!" Zahira berjalan lebih cepat, dengan Anggara mengiringi memastikan dia tidak akan terjatuh.
"Jangan lari." Nurul mendekatinya cepat, wanita bertubuh mungil itu meraih dan memeluk Zahira.
__ADS_1
"Aku merindukan Umi." Zahira memeluknya erat, ia benar-benar rindu sosok yang baik seperti seorang ibu baginya.
"Umi 'pun. Alhamdulillah kau selamat, Ummi tak pernah bayangkan dapat melihat Zahira lagi." Nurul menangis haru, selepas kabar meninggalnya Zahira, ia juga ikut bersedih, Enam tahun mereka bersama tentulah ikatan perasaan sudah terjalin.
"Aku juga tak pernah membayangkan bisa berada di sini kembali. Semua orang sudah menganggap ku tak ada Umi, hanya dia saja yang masih yakin akan keberadaanku di dunia ini." telunjuk Zahira menunjuk pria yang tidak jauh barang sejengkal darinya.
"Allah maha besar. Terimakasih banyak." Nurul berbicara dengan Anggara.
"Tidak perlu berterimakasih, memang sudah jalannya seperti itu." Anggara balas tersenyum ramah.
"Sayang, masuklah." David keluar langsung mendekati Zahira, memintanya segera masuk bersama yang lain juga.
"Papa!" panggilnya lembut.
"Ya." David rindu sekali panggilan itu di rumahnya, sekalipun saat ini Zahira sudah menjadi istri Anggara.
"Aku rindu sekali dengan suasana di rumah ini." Zahira langsung berjalan menuju meja makan.
"Tentu saja, ini rumahmu Sayang." Ayu memeluk Zahira.
"Rindu di peluk Mama." rengeknya manja, semakin mengeratkan pelukan keduanya.
"Menginap saja untuk malam ini, lagi pula besok hari libur." pinta Ayu pada putrinya. Seandainya Anggara tidak keberatan.
"Lihat nanti Mama! Aku sekarang sudah menjadi istri orang, harus ada waktu yang pas untuk meninggalkan rumah. Terlebih lagi dalam posisi mengandung seperti ini, aku lebih suka berdiam di kamarku." jelas Zahira tampak serius.
"Ah, Sayang! Putriku sudah dewasa, sebentar lagi kita akan memiliki cucu." Ayu memegang perut yang sudah besar itu.
__ADS_1
"Jika kau tidak mau menginap hanya karena aku, aku akan keluar Zahira!"
Entah dari kapan tiba-tiba Radit menyahut, ia berdiri di belakang Zahira dengan tangannya bersembunyi di kantong celana, pria itu masih saja tampan dengan sejuta pesona.