Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
209. Melihat hantu


__ADS_3

Pulang ke rumah bersama Ayu, Radit menyetir kali ini. Namun tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, memilih bungkam dan fokus pada jalanan. Begitupun Zahira, hanya diam tak menolak atau protes saat dihantarkan Radit menuju rumah besar miliknya.


"Ayo Sayang, kita sudah sampai." Ayu membuka pintu dan meminta Satria turun lebih dulu. Di belakang Jia juga demikian mengajak Sadewa keluar lalu meraih tangan halus Zahira untuk turun berpegangan dengannya.


"Dimana Hiko?" tanya Zahira setelah kakinya menginjak di teras.


"Ada di dalam Nyonya." jawab bodyguard yang berjaga di depan rumah Zahira.


"Temani anak-anak jika mereka ingin bermain, hari ini tidak usah sekolah dan urus izinnya." pinta Zahira kepada bodyguard berkulit hitam itu.


"Baik Nyonya, nanti akan saya sampaikan pada Tuan Hiko." menunduk patuh.


Kehidupan seperti istana, banyak penjaga layaknya seorang ratu yang selalu dilayani semua maunya. Kekayaan yang berlimpah, perusahaan yang besar dan berkuasa, anak-anak yang tampan, dan kecantikannya sendiri lebih layak disyukuri. Tapi semuanya itu tak membuatnya bahagia, setelah kehilangan Anggara.


Radit masuk membawa bag berisi buah yang sempat di belinya, mengikuti langkah Ayu menuju kamar pribadi Zahira.


Zahira menoleh Radit, tapi pria itu tak mau membalas tatapan Zahira, melangkah masuk dan meletakkan buah di kamar Zahira. Tanpa menunggu izin atau meminta izin, kemudian ia berlalu pergi.


'Apa dia masih marah?' Zahira masih terpaku dengan pikiran masih tertuju pada Raditya.


"Masuklah Sayang, kau masih butuh banyak istirahat." panggil Ayu.


"Iya Mama." jawabnya melangkah melewati pintu dan menuju ranjang.


"Kau masih lemas, jangan terlalu banyak berpikir apalagi bekerja ." Ayu memintanya berbaring.


"Aku akan istirahat beberapa hari." Zahira berbaring dengan posisi menyandar di tumpukan bantal dibawah punggungnya.


"Apa sebaiknya kau pulang ke rumah Mama untuk sementara waktu? Mama ingin merawatmu. Kau juga butuh teman, kau kesepian dan merasa sendiri jika di sini." Ayu mengelus rambut Zahira.


"Tidak Mama, aku harus mandiri, sekarang aku adalah seorang ibu." jawab Zahira menolak.

__ADS_1


"Tapi kau tidak bisa terpuruk terus seperti ini, kau butuh teman juga hiburan untuk memecah kesedihan yang begitu besar di sini." Ayu menunjuk dada Zahira.


"Aku harus bagaimana Mama?" tanya Zahira dengan wajah polos.


"Turuti kata hatimu, ikuti dimana kau menemukan ketenangan. Jangan menghindari siapa saja yang bisa membuatmu tersenyum, biarkan mendekat, jangan takutkan apapun." Ayu menatap lekat ke dalam mata bening Zahira.


"Tidak ada Ma." jawabnya pelan dan sedih.


"Hanya kau belum menyadarinya Nak." Ayu tersenyum sedikit. "Bermainlah seperti anak kecil, jika keluar rumah bisa membuatmu lega maka pergilah! Jangan mengurung diri hanya karena takut cintamu berkurang. Tentu perasaan akan selalu ikut kemanapun kau pergi. Percayalah Anggara juga tak menginginkan kau terpuruk seperti ini."


Zahira kembali menangis, walau itu semua ada benarnya tapi berat sekali rasanya untuk mencoba tersenyum sementara wanita itu belum mendapatkan balasan. Zahira merasa jika keadilan yang sebenarnya adalah jika Merry juga menderita.


Sementara di luar, Radit masuk ke dalam mobil dan mulai melaju pergi. Ia tak ingin berlama-lama di sana dan menimbulkan perdebatan yang baru, sepenuhnya ia menyadari jika Radit sendiri tak mampu menahan diri ketika melihat wajah cantik Zahira selalu di sekitarnya.


Sudah lama ia tak mengunjungi seseorang, mana tahu bisa menemukan sesuatu yang bisa menghibur. Radit mengulas senyum yang sulit diartikan.


Radit menghentikan mobil di depan toko baru miliknya. Pria tampan seperti Radit akan cepat menyita perhatian ketika sudah menginjakkan kaki di sana.


"Radit!" Merry berlari ke depan menghambur memeluk Radit.


"Aku merindukanmu, lama sekali kau tidak datang, ingin rasanya aku menyusul ke kantormu tapi aku takut kau marah." Merry terus saja merengek manja memeluk bahu Radit.


"Tidak perlu, aku akan datang jika sudah ada waktu. Seperti saat ini aku sengaja menemui mu." Radit masuk ke butik milik Merry, memilih duduk sebentar di sana daripada harus berpamer ria dengan kemesraan palsu.


"Aku benar-benar butuh dirimu." Merry masih merengek.


"Kau terlihat pucat, apa kau sakit?" Radit menatap wajah Merry.


"Tidak, hanya semalam aku ketakutan melihat hantu!" ungkapnya cepat dan semakin menempel kepada Radit.


"Hantu? Kau bercanda." Radit tersenyum menanggapi kata-kata Merry, dia berpikir Merry sedang mengarang cerita.

__ADS_1


"Aku serius Radit! Kau tega sekali tidak mempercayaiku. Aku benar-benar takut hingga pingsan, dan anehnya lagi ketika pagi hari aku di bangunkan Papa, aku sudah tertidur di ranjang." ungkapnya dengan wajah serius.


Radit semakin terkekeh mendengar cerita Merry, ia benar-benar merasa lucu. "Itu artinya kau bermimpi!" ucapnya kemudian, masih melanjutkan tawanya.


"Tidak Radit! Aku benar-benar yakin itu nyata. Aku ketakutan, sangat ketakutan!" teriaknya kepada Radit.


"Memangnya seperti apa hantunya? Aku jadi ingin berkenalan?" Radit benar-benar membuat Merry semakin kesal.


"Radit!" pekiknya mendorong bahu Radit.


"Iya!" Radit mencoba menghentikan tawanya. "Mungkin kau kelelahan sehingga berhalusinasi, atau memang kau terlalu merindukan aku." Radit mencoba merayunya sedikit.


"Kalau rindu sudah pasti." ucapnya kembali menempel.


"Itu sebabnya kau jangan terlalu merindukan aku, sehingga hantu juga merasakan dan menemui mu." Radit kembali tertawa.


"Radit! Aku serius, aku benar-benar takut." Merry memandang wajah Radit dengan tatapan khawatir.


Radit memutar posisi duduknya hingga menghadap Merry. "Seperti apa hantunya sehingga kau ketakutan?" ucap Radit tak kalah serius kali ini, memandang wajah Merry sangat dekat.


"Dia seperti A-, seperti seseorang." jawabnya kemudian setelah sempat berhenti.


Radit memandangnya dengan heran, kemudian mengadu alisnya mendengar jawaban Merry.


"Dia mendekati ku tiba-tiba dan kemudian berada di belakangku tanpa tahu kapan dia berjalan." Merry mengingatnya lagi, wajah pucatnya hampir menangis.


"Sudahlah, mungkin kau hanya lelah dan terlalu banyak berpikir. Sebaiknya kau tinggal di rumah yang lain saja jika di sana sudah tak nyaman." usul Radit tak ingin lagi menertawainya.


"Apa aku harus tinggal di rumah lama?" ucapnya meminta usul Radit.


"Jika itu yang terbaik? Aku tak masalah, dan akan datang padamu jika aku tidak sedang sibuk." Radit mendukungnya, tentu Radit ingin tahu seperti apa rumah lama itu saat ini.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan pindah besok." Merry menarik nafas lega, kembali memeluk lengan Radit walau tanpa balasan, posisi itu cukup membuatnya nyaman.


Radit tersenyum menatap pucuk kepala Merry ia sedang berpikir jika semalam Reza berhasil menakut-nakuti mantan istrinya ini. Laki-laki itu ternyata gesit dan bisa diandalkan. Radit saja lupa melihat CCTV yang sudah ia persiapkan di rumah Merry.


__ADS_2