Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
170. Mereka bermusuhan


__ADS_3

"Aihh, apa tidak ada permainan yang lebih seru, aku bahkan lebih suka belajar bela diri seperti paman Hiko." Satria menatap malas pada banyaknya permainan Jia yang menurutnya aneh.


"Kita akan belajar bela diri juga memakai ini." Jia tak putus asa mengajak Dua ank jenius itu belajar, tak menyerah hingga keduanya pasrah.


*


"Undangan Rapat sekaligus makan siang di hotel Anggara Dua." Radit bergumam sendiri, ia merasa aneh dengan undang yang baru saja disampaikan sekretarisnya. Ia melihat jika yang mengundang juga bukanlah Anggara.


Radit meraih telepon dan menghubungi Anggara.


"Ada apa?" suara Anggara terdengar sedikit tegang.


"Kau mengundang semua pembisnis kelas atas? Boleh aku tahu dalam rangka apa?" Radit jadi penasaran, jika itu rapat tahunan bukankah sudah selesai satu bulan yang lalu saat Radit baru kembali.


"Aku juga sedang menerima undangan, Hotelku sedang di boking seorang pengusaha yang sudah membeli banyak saham dari beberapa perusahaan bangkrut dan menggabungkannya hingga menjadi besar, saat ini ia sedang mencari rekan bisnis." jelas Anggara sudah mengetahui.


"Aneh sekali mengapa dia mengenal kita semua." Radit masih penasaran.


"Karena perusahaan yang bangkrut itu mantan relasi kita." jawab Anggara.


"Baiklah." Radit menutup panggilannya, segera beranjak dan akan menghadiri undangan tersebut. Entah mengapa ia jadi penasaran dengan sosok yang sudah memboking hotel mewah hanya untuk mencari relasi. Bukankah biasanya akan mengajukan ke salah satu perusahaan terlebih dahulu, lalu ikut rapat dengan menyimak, barulah kemudian mencari sela untuk mengembangkan kerjasama. Sepertinya ini adalah orang berduit, bukan mencari duit. Begitu Radit sedang berpikir, hingga tiba di hotel mewah Anggara.


"Ku kira hanya aku yang sedang penasaran, ternyata kalian datang juga." Radit membuka kaca mata hitamnya mendekati Akbar yang juga sedang menghampiri Anggara.


"Aku tidak penasaran, hanya ingin memastikan sesuatu." jawab Akbar melihat kesana-kemari.


"Kau masih saja menunggu gadis kurus itu. Lebih baik cari yang lain! Dia juga tidak memikirkan dirimu." Radit kembali memasang kacamatanya.


"Apa kau juga sudah menemukan gadis yang lain? Ku rasa kau lebih parah daripada aku!" Akbar membalas ucapannya.


"Hah, menikah Dua kali, lalu bercerai Dua kali! Lebih baik menunggu yang pasti." Akbar berkata dengan sombongnya.


"Silahkan saja jika ingin menjadi perjaka tua." Radit tersenyum menang.


"Kalua ingin berkelahi lebih baik di halaman belakang, di sana sepi dan luas." Anggara meninggalkan Radit dan Akbar, berlalu tanpa menoleh, pria itu masuk ke dalam hotel karena mereka sudah sedikit terlambat.

__ADS_1


"Apa dia sedang tersinggung?" tanya Akbar dengan wajah bingung.


"Aku tidak tahu." Radit melangkah bersama Akbar.


"Ku rasa kita adalah pria-pria setia. Menunggu seorang gadis dalam waktu yang cukup lama." Akbar tersenyum bangga.


"Jika kau menyukainya kau harus bisa mendapatkannya. Aku kasihan padamu jika di usia 28 tahun ini kau masih perjaka." Radit sedikit mengejek.


"Bahkan Om Anggara masih perjaka di usia 39 tahun. Dan pecah telur saat menikah dengan istrimu yang cantik." Akbar balas mengejek.


"Tentu saja dia cantik." Radit kesal namun suka saat mendengar jika Zahira cantik.


"Tapi sekarang dia istri orang." Akbar masih saja melanjutkan perdebatan ketika sudah memasuki Aula besar hotel Anggara.


"Nanti dia akan menjadi istriku setelah pamanmu itu mati." ketus Radit tak peduli.


"Rasanya aku ingin sekali memukul wajah sok tampanmu itu." geram Akbar.


Radit tersenyum menang, ia berhasil membuat Akbar menghentikan perdebatan. Duduk dengan tenang menunggu hal apa yang akan mereka dengarkan dari pengusaha baru yang lumayan berpengaruh.


Suara pria berbadan sedikit gemuk dengan mata menyipit tapi tidak terlalu tinggi, menyita perhatian beberapa pengusaha, mendengarkan profilnya dan promosi produk dari perusahaan mereka, benar kata Anggara jika ia sedang mencari rekan bisnis.


Tapi Aneh, Pria itu membawa beberapa asisten laki-laki yang tidak terlihat seperti seorang pekerja kantor, hanya memakai jas dan sepatu rapi, tapi matanya menelik tajam pada undangan yang datang terutama Anggara yang saat ini duduk di tengah-tengah, tak biasanya pria itu duduk di kursi selain paling depan jika sedang mengikuti rapat besar.


Dan lagi, para undangan tampak tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang di bicarakan pria tua itu, malah sibuk melihat antara mereka, seperti ada yang sedang mereka bahas tapi hanya menggunakan bahasa isyarat saja.


"Tunggu! Bukankah Mars Media itu milik mantan istrimu?" tanya Akbar menyadari sesuatu.


"Benar." Radir mulai menerka-nerka.


"Ah sudahlah, rasanya aku ingin pulang." Akbar beranjak mengajak Radit. Tapi ketika keduanya berdiri seseorang mengarahkan senjata kepada Anggara.


"Om!" teriak Akbar.


Anggara yang memang sudah menyadari ancaman segera menghindar dan manfaatkan kursi untuk melawan, ia juga menarik senjata di saku jasnya.

__ADS_1


"Mereka membawa senjata api!" Radit menjadi cemas dengan keadaan yang tiba-tiba kacau dan membuat beberapa keamanan masuk dan ikut berkelahi.


"Keluar!" ucap Anggara ketika Radit dan Akbar ikut memukul seorang.


Mereka berlari keluar bersama-sama, segera menuju mobil membiarkan keadaan di dalam ricuh, dan entah darimana Polisi tiba-tiba sudah ada di dalam gedung.


"Kau memiliki senjata api?" tanya Radit bergidik ngeri melihat tangan Anggara masih memegang erat benda itu.


"Aku mencurinya dari orang yang berada di sebelahku." ucap Anggara melihat senjata yang sedang di pegangnya.


"Kau berbakat menjadi pencopet." Radit menggeleng dengan tingkah pria tua itu, ternyata cukup cerdik.


"Lain kali aku akan mengulanginya." Anggara tersenyum sedikit.


"Mengapa mereka tiba-tiba menyerang?" Akbar masih terlihat khawatir.


"Mereka mengincarku." jawab Anggara pelan, ternyata satu bulan berdiam diri, Daniel tidak menyerah.


"Ada urusan apa mereka mengincarmu?" Radit menatap Anggara penuh selidik. Ia curiga jika ada kaitannya dengan pindah rumah juga kedua anaknya yang di bawa sejak minggu-minggu terakhir.


"Hanya persaingan bisnis." jawabnya tenang.


Radit mendengus tak percaya. "Aku sudah dewasa, tidak bisa kau tipu dengan alasan seperti itu. Satria saja tidak akan percaya dengan alasan yang kau buat."


"Kau sangat memahami putraku, aku pikir dia tidak menyukaimu." Anggara menyimpan senjata yang diperolehnya dari ruangan rapat.


"Hemh, kau hanya tidak tahu jika dia tidur denganku setiap malam." Radit menyandar lelah.


Anggara tersenyum tipis. "Keadaan sudah aman." ucapnya membuka pintu dan keluar dari mobil Radit.


"Tunggu!" Radit mencegah Anggara. "Siapa pengusaha baru itu?" tanya Radit menarik bahu Anggara.


"Jauhi dia."


Anggara berlalu menuju mobilnya, sekilas Radit melihat Anggara dan Daniel saling menatap tajam dari kejauhan. Ya, Radit hanya tahu jika laki-laki itu menyebut namanya Daniel.

__ADS_1


"Mereka bermusuhan." Akbar juga memperhatikan mereka dengan mata hampir tak berkedip.


__ADS_2