
Seorang wanita berjalan dengan langkah cepat, memakai masker dan kerudung menutup kepalanya, matanya menatap nanar pada rumah besar dan mewah di seberang jalan. Namun banyak yang berjaga di sana membuat urung langkahnya, kaki yang memakai sepatu berwarna hitam itu mundur perlahan, selangkah demi selangkah, kembali merapatkan tubuhnya pada dinding yang dingin.
Entah sampai kapan dia menunggu keberuntungan di sana, ataukah harus lebih lama menahan lapar dan haus di tempat gelap. Kemudian berpikir untuk berpindah tempat, mungkin ada orang yang baik hati bisa memberi minum dan sedikit makanan.
Melihat kiri kanan jalan tak terlalu sepi, tapi yang penting baginya adalah tak ada polisi. Dia berjalan pelan, sedikit mengatur nafas agar terlihat tenang.
"Mungkin di mini market ini ada yang sedang berbaik hati." gumamnya sendiri.
Namun baru saja beberapa langkah, dia melihat sopir Anggara. Dia kenal pakaian berwarna biru tua itu adalah baju yang dipakai untuk semua bodyguard konglomerat yang sudah dibunuhnya. Merry membenarkan masker di wajahnya, beruntung dia melewati rumah seseorang yang sedang menjemur banyak pakaian wanita, sehingga dia bisa mengambil kerudung dan pakaian panjang. Merry berhenti di pintu pusat perbelanjaan tersebut.
"Maaf." seorang wanita berpakaian suster dan juga berkerudung meminta Merry memberi jalan masuk.
"Oh, silahkan." Merry mundur beberapa langkah.
"Terimakasih." ucap suster tersebut.
"Tunggu!" Merry sedikit memegang tangannya.
"Ya?" suster tersebut mendekati Merry.
"Aku kehilangan tasku saat pulang naik angkot. Aku sangat lapar sekali, bisakah kau membelikan aku sepotong roti dan air mineral?" pintanya kepada suster tersebut.
Suster itu menatapnya sejenak. "Iya, mari ikut ke dalam. Aku akan membelikan makanan untukmu." suster tersebut mengajaknya masuk.
"Terimakasih." Merry senang sekali, selain kenyang dia juga mendapatkan seseorang yang bisa di jadikan jalan menuju rumah Anggara.
"Kau mau makanan yang mana? Silahkan pilih sendiri." Suster tersebut mengajaknya menghadap rak berisikan roti dan banyak makanan lainnya.
"Yang ini saja." Merry meraih roti dan air mineral.
Suster tersebut mempersilahkan Merry untuk memakannya. Membiarkan wanita tersebut makan, sementara ia sibuk membeli belanjaan lainnya.
"Aduh." Merry memegangi perutnya, sehingga mengundang banyak orang melihat kepadanya.
"Ada apa?" tanya suster itu mendekati Merry terburu-buru.
"Perutku sakit sekali, aku ingin ke kamar mandi." ucapnya tapi malah duduk dan kesakitan.
"Mari ku bantu." Suster tersebut membantu Merry berdiri, menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Bisa tutup pintunya!" ucap Merry kemudian tak terdengar suara lagi.
...***...
"Jia, bisa lebih cepat?" tanya Zahira, namun jalanan menjelang malam hari seringkali padat merayap.
"Sabar Nyonya, kita tak bisa kemana-mana. Berputar arah juga tidak bisa.
Zahira menarik nafas beratnya, entah mengapa hatinya gelisah ingin segera sampai. Bukan hanya karena ingin bertemu dengan kedua orang tua saja, tapi mendadak kedua putranya seolah sedang memanggil dan tertawa di pelupuk mata.
Zahira meraih ponsel dan menghubungi Ayu.
"Assalamualaikum Mama."
"Wa'alaikum salam Sayang, mengapa sudah malam kau belum pulang?" tanya Ayu khawatir.
"Aku terjebak macet bersama Jia Mama. Apakah anak-anak sudah makan?" tanya Zahira, meskipun pertanyaan itu jarang ia sampaikan, karena anak-anaknya menyukai makanan dan minum air putih cukup banyak setiap harinya, mereka anak-anak yang aktif sehingga selalu haus.
"Mereka makan Pizza tadi jam lima sore, mungkin sebentar lagi makan malam, mereka sedang menunggu suster membeli saus tomat." jelas Ayu membuat Zahira lega.
"Oh, baiklah." Zahira menarik nafas sambil terus melihat di depan mobil berbaris belum juga bergerak.
"Katakan padanya untuk menungguku." bibir merahnya berbicara sesuai dengan apa yang ada di hatinya sejak tadi.
"Tentu saja Sayang, dia mengkhawatirkan mu." terdengar sedikit tertawa, Ayu menyukai kata-kata Zahira.
Zahira mengakhiri panggilan tersebut, karena di depan beberapa kendaraan terlihat bergerak maju.
"Seandainya ada jalan yang lain." Zahira bergumam melihat kanan dan kiri.
"Anda harus membeli pintu ajaib Nyonya." Jia menertawai Zahira sedikit, sikap tak sabarnya membuat Jia gemas, tak biasanya dia seperti itu. Wanita kurus itu berpikir jika Zahira sudah tak sabar bertemu Ayu, David dan Radit.
"Andaikan ada yang menjualnya, tentu saja aku tak membutuhkan mobil ini." Zahira ikut tertawa.
"Dunia akan semakin kacau jika ada yang menjual benda itu." Jia masih menyambung obrolan mereka.
"Ya, terutama bagi penjahat yang mengincar barang berharga orang lain." Zahira menanggapinya serius.
"Jangankan barang berharga Nyonya, suami saja bisa di curi oleh seorang wanita." ucap Jia tertawa sinis, kemacetan yang lumayan lama membuat mereka berbicara apa saja.
__ADS_1
"Kalau yang itu tidak butuh pintu ajaib, Radit saja diambil oleh Merry saat kami sedang cinta-cintanya. Kau tahu, rasanya sakit sekali." Zahira menyadarkan kepalanya.
"Maaf." Jia merasa bersalah.
"Tidak perlu." Zahira menoleh dan tersenyum pada Jia.
"Dia sangat mencintaimu Nyonya, hanya kita tidak melihat bagaimana dia menderita setelah berpisah denganmu." Jia berbicara dengan menatap lurus ke depan, mobil-mobil berbaris itu mulai bergerak merayap, pelan namun lumayan tak hanya diam di tempat.
"Ya." Zahira menarik nafas sejenak. "Artinya perpisahan memang selalu meninggalkan duka, dan butuh waktu lama untuk menyembuhkannya." sambungnya lagi.
"Dan yang tersakiti tak hanya satu, yang bersalah pun ikut menderita." Jia mengangguk-angguk, dia sedang mempelajari arti perpisahan.
"Jangan sampai berpisah." Zahira menoleh Jia.
Wanita kurus itu menoleh terkejut, kemudian dia salah tingkah dan berusaha kembali fokus pada setir yang di pegangnya saja.
Ponsel Jia berbunyi, tapi bukan berdering tapi sepertinya alarm.
Zahira menolehnya, hanya tak terlalu heran karena Jia memang sering membuat alarm untuk aktifitas sehari-hari.
Tapi Jia tampak gugup dan khawatir, tangan dan matanya bergerak bingung.
"Ada apa?" Zahira menatap heran, menebak jika ada sesuatu terjadi.
Jia meraih ponsel dan mengubungi seseorang.
"Hiko, alarm darurat berbunyi! Bawa anak-anak masuk ke dalam kamarku." ucap Jia terburu-buru.
"Jia!" Zahira tak kalah panik mendengarnya, sedangkan mobil di depan masih banyak yang bergerak lambat.
Jia tak menjawab, dia kembali menghubungi seseorang, namun sepertinya tidak tersambung atau mereka juga sedang sibuk menghubungi orang lain.
Sedangkan di mobil yang lain, Radit sedang menyetir sendirian menuju rumah Zahira, jarak yang sudah dekat membuatnya berhenti karena ponselnya juga berbunyi seperti alarm.
"Alarm apa?" Radit menatap bingung, kemudian membuka aplikasi CCTV ponselnya.
"Rumah Anggara!" gumamnya sendiri, tampak berpikir sejenak namun kemudian ia melaju lebih cepat.
Dan di rumah Anggara semua bodyguard sedang heboh dengan alarm darurat yang baru pertama kali terdengar oleh mereka.
__ADS_1