
"Mama tahu." Ayu benar-benar menangis kali ini. Bahagia itu akhirnya datang juga, mendekat dan menjadi milik mereka.
...***...
Pagi itu, matahari hadir lebih awal dari biasanya, perubahan bulan dan tahun membuat posisi dan matahari terlihat bergeser di mata makhluk penghuni bumi yang sudah tua ini.
Ayra bangun dari tidur yang tiba-tiba lebih nyenyak dari biasanya, rasa mual itu juga tak begitu terasa.
"Apa yang berubah? Kemarin aku hanya makan buah dan susu." gumamnya sendiri, dia beranjak menuju jendela yang tirainya belum di buka.
"Sepertinya di bawah sana menyenangkan." gumamnya lagi, melihat di taman belakang ada Bibi yang sedang menyapu daun mangga yang berjatuhan.
Ayra membuka pintu, dan melangkah keluar. Tapi alangkah terkejutnya ia ketika melihat sosok yang tak asing sudah berdiri di depan pintu. Dia tersenyum, matanya menatap wajah Ayra tanpa berkedip, sepertinya Reza sudah lama berdiri dan sengaja menunggu Ayra keluar.
"Selamat pagi, anak Papa." ucapnya membungkuk dan menyentuh perut Ayra, tentu saja pemiliknya mundur dan terkejut.
Ayra menghindari Reza yang kini kembali tegak dan menatap wajah pucatnya.
"Maaf, tapi dia memang anakku bukan?" Reza mencoba bersikap lembut, berusaha membuatnya nyaman.
Ayra berlalu tanpa bicara. Lagi pula Reza tak bisa diajak bicara, dia akan datang dan pergi sesukanya, sekalipun di usir dia tak akan peduli. Akses dari Zahira dan Radit membuat pria itu berkuasa di rumah Nenek mereka.
"Ayra." panggilnya ketika sudah di lantai dasar.
Ayra tak menjawab, hanya menuju dapur ingin mengambil sesuatu yang bisa di makan.
"Non mau makan apa?" tanya Bibi melihat Ayra berdiri di dapur dengan bingung.
"Aku lapar Bi." ucapnya pelan.
Di belakangnya Reza terus mengikuti, berdiri dan mendengar apa yang dikatakan Ayra.
"Iya, tapi Non mau makan apa? Bibi takut Non muntah lagi." Bibi terlihat khawatir.
"Apa saja Bi, keluarkan saja semuanya termasuk makanan yang kalian makan." Reza menyahut dan mendekati Bibi.
"Baik Tuan." Bibi mengangguk.
__ADS_1
Benar saja Bibi mengeluarkan semua yang ada termasuk masakan sederhana ala-ala pedesaan.
"Aku ingin makan yang ini Bi." Ayra menunjuk tumis kangkung pedas.
"Tapi ini pedas Non." ucap Bibi khawatir.
"Makanlah, aku akan menemanimu." Reza meraih piring dan meletakkan di depan Ayra, menuruti apa yang sedang diinginkannya.
Jika cinta itu belum ada, mungkin rasa sayang sudah hadir di hati Reza. Benar kata Radit saat itu, 'Jika kau tidak mencintai ibunya, kelak kau akan mencintai anakmu.'
Pagi itu pula, Ayu sudah tidak sabar menunggu Zahira turun dari kamarnya, berkali-kali wanita lima puluhan itu menoleh ke atas, bisa dikatakan dia gelisah ingin segera bertemu Zahira, hingga akhirnya dia memutuskan untuk naik dan menemuinya.
Pintu kamarnya masih tertutup, membuat Ayu ragu untuk mengetuk pintunya. Kebiasaan bangun kesiangan itu sedikit membuat Ayu tersenyum.
"Mama?" Radit keluar dari kamarnya, melihat Ayu berdiri di balkon dengan tangannya terangkat ragu.
"Mama_" Ayu sedikit salah tingkah.
"Dia belum bangun." Radit tersenyum lebar, kemudian meninggalkan Ayu turun ke lantai dasar menemui anak-anak.
"Sayang." Ayu memanggil Zahira, menunggu sejak kemudian kembali mengetuk.
Pintunya terbuka dari dalam, pelan terlihat Zahira sudah memakai pakaian rapi.
"Kau mau kemana?" Ayu melihat lagi pakaian Zahira dari atas hingga kaki.
"Masuklah Mama, aku hanya ingin pergi sebentar bersama Jia." Zahira mengajak Ayu duduk di ranjang empuk miliknya.
"Kau mau kemana?" tanya Ayu pelan.
"Hanya ingin berkunjung ke makam." jawab Zahira tak kalah pelan.
Ayu menarik nafasnya, memahami suasana hati Zahira saat ini. Walau bagaimanapun juga, kebersamaan mereka selama tujuh tahunan bukanlah waktu sebentar, selama itu pula Anggara sangat menyayanginya.
"Mama bisa mengantarmu." Ayu menatap wajah yang sendu itu.
"Aku bersama Jia Mama, Minggu depan dia akan menikah. Aku titip anak-anak." Zahira
__ADS_1
"Baiklah Sayang, itu tidak masalah." Ayu sedikit tersenyum dan meraih tangan halus Zahira.
Ponselnya berdering, tampak nama Jia di layar ponselnya. "Sepertinya Jia sudah menunggu di bawah."
"Sebaiknya kita segera turun. Dan mungkin besok kita juga harus membeli beberapa pakaian untuk menghadiri pernikahan Akbar. Setelah mereka menikah, kalian harus segera menyusul." Ayu membelai wajah Zahira.
Sedangkan Zahira sedikit terpaku mendengarnya. 'Radit sudah memberitahu Mama.'
Hari-hari rasanya begitu cepat berlalu, bahkan usia yang muda nyaris terlewati ketika menghitung tahun yang berganti. Hanya posisi masih saja di tempat yang sama, menyaksikan banyak orang yang datang dan pergi, termasuk kehidupan yang selalu berganti. Ada yang lahir lalu ada yang meninggal pergi, yang baru akan menggantikan yang lalu, kelak yang baru juga akan berlalu.
Tiba-tiba saja Zahira merasa jika dirinya sudah hidup cukup lama.
"Ada apa Nyonya?" tanya Jia ketika melirik Zahira tersenyum tipis di sela lamunan sepanjang jalan.
"Aku hanya merasa jika umur kita sudah terlalu banyak, dan terlewati dengan kisah yang banyak pula. Seperti pernikahanku dengan Mas Anggara, begitu manisnya dia datang dalam hidupku, lalu pergi dengan meninggalkan kenangan yang tak akan tergantikan dengan apapun." Zahira tersenyum mengenangnya.
"Ya, begitulah. Yang terindah sering kali datang sebentar, dan kita tak bisa memilih takdir seperti apa yang akan kita jalani." jawab Jia sambil terus fokus menyetir.
"Aku akan menikah dengan Radit."
Jia menoleh cepat, sejenak kemudian kembali pada jalanan di depan sana.
"Hidup ini aneh sekali." Zahira tersenyum kecut.
"Sebaiknya memang begitu, karena hidup sendiri kau tak akan mampu. Tanggung jawab mu begitu besar Nyonya."
"Entahlah, tapi semua sudah ku putuskan. Tapi jujur saja, cintaku tak kembali sepenuhnya. Hatiku sudah terbagi Jia, dan sebagian besarnya adalah Mas Anggara." matanya sedikit berkaca-kaca.
"Aku tahu Nyonya, Tuan Anggara layak mendapatkan itu. Tapi Tuan Radit juga layak mendapatkan dirimu, cintanya tak kalah besar dengan yang kalian miliki, dan dia tulus menerima juga mencintai anak-anakmu. Kau tahu, terkadang kita hidup untuk membayar hutang, entah hutang orang tua kita, atau hutang saat kita bertemu sebelumnya. Dan kita akan pulang setelah lunas semuanya."
Jia terus saja menatap jalanan, diapun merasa hal yang sama walaupun kisah yang berbeda. Kebaikan Anggara menjadikannya tak bisa mengabaikan Zahira dan anak-anak begitu saja.
Begitupun Zahira sedang berpikir, semuanya melintas beriringan. Dimulai dari kisah orangtuanya, lalu dia yang di besarkan David dan Ayu. Bukankah semua itu berhubungan?
Zahira menarik nafasnya, sungguh kehidupannya yang menginjak usia 27 tahun ini rumit dan berliku.
Berharap semuanya berubah seiring bersama waktu, selalu bersedih pun tak ada gunanya, terlebih lagi jika harus menangisi Anggara, dia pasti tidak suka.
__ADS_1