
"Ayo sayang kita pulang, jangan menangis di sini." Ricky mengulurkan tangannya.
"Apa kau bilang?" Suara familiar itu membuat Ricky kaget setengah mati.
"Aku hanya menghiburnya." Ricky memakai kacamata untuk menghilangkan kegugupannya terhadap Anggara.
"Mau ku adukan pada istrimu?" tanya Anggara mendekati asistennya.
"Tapi wanita cantik dan imut seperti ini pantas di panggil sayang." Ricky masih menggodanya.
"Aku sudah lama tidak menghajar orang." Anggara menggulung lengan bajunya.
"Zahira!"
Pria tampan dan muda itu setengah berlari mendekati Zahira, ia meraih bahu Zahira dan memintanya berdiri.
Zahira berusaha menepis tangan Radit, gadis itu mundur dan menghindar.
"Papa sakit Zahira, dia ingin bertemu denganmu sekarang." Radit berucap serius, tangannya mengambang tak berani memegang Zahira.
"Itu alasanmu saja Radit." ucapnya pelan.
"Aku serius Zahira, papa sakit dari kemarin dia kelelahan mencarimu. Aku mohon kau ikut pulang bersamaku." pinta Radit bersungguh-sungguh.
"Sebaiknya kau datangi rumah orang tuamu, lihatlah keadaannya." Anggara memberi saran pada gadis yang masih berurai air mata.
"Kita akan ke sana?" tanya Zahira pada Anggara.
"Baiklah, kita ke sana." jawabnya tak menunjukan ekspresi apapun.
"Zahira ikutlah bersamaku, kau istriku." Radit mengingatkan.
"Aku tahu, tapi aku tidak ingin kita berlarut dalam kebersamaan jika pada akhirnya akan berpisah juga." jawabnya pelan.
"Aku tidak ingin kita berpisah Zahira." Radit tampak memohon.
"Senin nanti kita akan menjalani sidang pertama." Zahira berlalu.
"Zahira! Aku tidak akan menjatuhkan talak padamu apapun yang terjadi, aku ingin kita tetap bersama."
Sejenak Zahira menatap wajah sendu milik Radit, sungguh sedih, hatinya sedih, sakit sekali. Ia segera masuk mobil Ricky dan berlalu lebih dulu menuju rumah David. Radit juga segera menyusul dengan perasaan hancur, pria itu meneteskan air mata, hatinya sungguh hancur karena akan kehilangan Zahira.
"Kau menyesal?" tanya Ricky.
Zahira menggeleng, "Hanya sedang terluka Om, sakitnya sedang berdarah, dan perihnya tak mampu di tawar dengan apapun juga." Zahira memegangi dadanya, memejamkan mata dengan sungai kecil itu terus mengalir di kedua sudut mata.
"Maaf aku tak tau harus berbuat apa untukmu." Ricky sungguh khawatir.
__ADS_1
"Tak ada yang bisa menolongku, ini ujian hidupku dan aku yakin suatu saat akan sembuh setelah Allah katakan ujianku sudah selesai." tangisnya masih berlanjut, Zahira menyandarkan kepalanya dan mencoba mengatur nafas.
"Jika berpisah itu sakit, maka pertahankan milikmu dan tetaplah bersama. Tapi jika bersama itu juga sakit, maka kau pilih rasa sakit mana yang paling kecil." Ricky memberinya pilihan, walau ia sendiri tak tahu apa yang terbaik.
"Inilah rasa sakit yang paling kecil Om, jika aku terus bersama maka aku harus menerima dua orang baru dalam rumah tanggaku. Demi tuhan aku tidak mampu!" tangisnya lagi.
"Kalau begitu lepaskan, dan lupakan." Ricky memberinya sedikit saran dan semangat.
"Aku sedang berusaha." jawabnya menghapus air mata di pipi.
"Kau lihat dua mobil di belakang itu?" Ricky menunjuk kaca spion di depan mereka.
Zahira ikut melihat, benar ada dua mobil mengikuti mereka, Radit dan Anggara.
"Mereka sama-sama mencintaimu, terlebih lagi perjaka tua itu, dia sangat mencintaimu melebihi segalanya." ucap Ricky tersenyum sedikit melirik Zahira.
"Tapi ada banyak wanita yang menyukainya, dia tampan dan mapan, Radit saja yang masih sekolah di rebut orang, apalagi yang seperti dia." Zahira tersenyum getir.
"Percayalah! Kau minta apa saja dia akan menurutimu."
"Jangan memprovokasiku, aku masih akan bercerai." Zahira menjadi kesal.
"Kau tidak percaya?" tanya Ricky memancingnya.
"Tidak, dia hanyalah pria yang suka menggoda." jawabnya ketus.
Zahira menoleh, dia ingat kemarin pria itu mengatakan ingin menjadikannya istri. Namun ia tak yakin bisa membahagiakan siapapun, bahkan dirinya saja sedang sangat menderita.
Tak berapa lama mereka sudah tiba di kediaman David.
Zahira turun lebih dulu bersama Ricky, dan di belakang mereka ada Radit dan Anggara.
"Assalamualaikum Papa!" panggilnya setelah masuk di ruang tamu, Zahira mencari dimana keberadaan David.
Tampak Ayu sedang merangkul David keluar dari kamarnya dengan tak sabar.
"Papa!" panggilnya sedih.
"Anak Papa!" ucap David memeluk Zahira di ikuti Ayu, mereka bertiga berpelukan dalam tangis.
"Papa jangan sakit." ucapnya dalam pelukan David dan Ayu.
"Papa akan sembuh kalau anak Papa sudah datang." jawab David melonggarkan pelukannya, Ayu memintanya duduk di sofa besar.
"Apa kabar pak David, maaf kami semua jadi ikut datang kemari mendengar anda sakit." Anggara ikut menyapa.
"Oh, terimakasih. Aku sudah sembuh jika sudah bertemu dengan putriku." jawabnya tersenyum.
__ADS_1
"Syukurlah, itu akan lebih baik." jawab Anggara sopan.
"Dimana kalian bertemu?" tanya David pada Anggara juga Radit.
"Zahira ada di pengadilan Agama tadi bersama mereka." jawab Radit dengan sengaja.
"Pengadilan?" tanya David menatap wajah Zahira begitu sendu.
Zahira juga menatapnya sendu, "Maaf Papa." ucapnya sedih.
"Apa tidak bisa di perbaiki lagi Nak, apa kau benar-benar akan meninggalkan Papa?" tanya David.
"Aku tetap anak Papa dan Mama."
"Tapi Papa merasa akan kehilanganmu Zahira." David sungguh bersedih, mata hitam pekat itu mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak sanggup menerima dua orang baru dalam pernikahanku Papa, aku tidak cukup ikhlas untuk itu, jadi aku mohon Papa mengerti." ucap Zahira lembut.
"Papa juga tidak menginginkan dua orang baru itu, Papa hanya ingin kau dan Radit tidak berpisah, keluarga kita harus tetap utuh."
"Tidak bisa Papa, dia cucu dan menantu papa, darah tetap akan lebih kental dari pada air." ucapnya meneteskan air mata.
"Jangan begitu Nak, berarti kau tidak menganggap kami orang tuamu!" David kecewa dan ikut meneteskan air mata.
"Tidak, bukan begitu Papa, apapun yang terjadi Papa tidak bisa melupakan cucu Papa. Dan aku akan tetap anak Papa, tidak ada orang lain yang bisa ku sayangi selain Papa dan Mama." jawabnya halus, tangan kecilnya menggenggam kedua tangan Ayu dan David.
"Tidakkah kau ingat saat-saat kita bersama, kita semua melewati kebahagiaan itu." David masih berusaha meyakinkan.
"Aku ingat Pa, aku ingat." Zahira menangis semakin sedih.
"Maaf pak David kami harus kembali ada pekerjaan yang harus di selesaikan." Ricky merasa tak nyaman ikut mendengarkan pembicaraan keluarga mereka.
"Tapi_" David mencoba mencegahnya.
"Tak masalah, kami hanya ingin melihat keadaan pak David saja." Ricky dan Anggara tersenyum dan berlalu, sebelum melirik Zahira terlebih dahulu.
"Tunggu Om." Zahira memanggilnya.
Menghentikan langkah Anggara dan Ricky, mereka berbalik.
"Antar aku pulang."
"Aku yang akan mengantarmu Zahira!" Radit tak mau melepas istrinya bersama pria lain.
"Aku ingin pulang bersama Om Ricky." ucap Zahira cepat.
"Pulang bersamaku, aku suamimu Zahira." ucap Radit menatap tajam pada Zahira.
__ADS_1