
"Apa yang datang seorang wanita?" Zahira menoleh wajah tampan itu sambil memeluk lengannya.
"Entahlah." Anggara melihat wajah gadis itu begitu penasaran.
"Awas saja jika wanita itu lagi yang berani datang ke rumah ini, aku akan benar-benar menghajarnya kali ini." dia tak berhenti bicara.
Anggara tersenyum geli, tangan hangatnya merubah posisi memeluk tubuh kecil itu sambil menuruni tangga. "Sebaiknya kita pasang lift saja di rumah ini agar kau tidak lelah naik turun tangga."
"Kau dengar jika dia yang datang aku akan menghajarnya!" Zahira sedikit berteriak, ia tak suka pembicaraannya di alihkan.
"Tidak boleh seperti itu, ingat kau sedang hamil Sayang." Anggara semakin memeluknya.
Ruangan yang besar itu menjadi hangat dengan kemesraan yang selalu tercipta di antara keduanya. Sangat terlihat betapa pria itu memanjakan dirinya, menuruti semua maunya, tentu itu hal yang sudah biasa. Tapi tidak dengan sepasang mata yang baru melihatnya tak sanggup berkedip dengan mulut yang terbuka.
Wajah cantik itu terlihat berbinar dengan senyum mengembang, baju yang terlihat bagus dan pasti semuanya mahal, semuanya tampak sempurna.
Zahira menatapnya, memperhatikannya, ia sedang mencari tahu siapa yang datang dan terlihat memperhatikan dirinya dengan mata berkaca-kaca, bahkan menangis.
Dia mendekat, memperhatikan wajah Zahira dengan berlinang air mata. Tangan putih semampainya terulur ingin menyentuh wajah Zahira yang terlihat selalu menempel memeluk lengan Anggara.
"Maaf Nyonya, jangan membuat Nona kami tidak nyaman." Jia menghalangi Ayu, perlahan menepis dan mendorong tangan Ayu untuk tidak meraih Zahira.
Ayu terkejut, tentunya ia kesal dan melawan, wanita empat puluhan itu memukul wajah Jia namun Jia mengelak, dan tanpa di duga Jia memukul perut Ayu dengan sedikit keras membuat wanita itu mundur dengan memegang perutnya.
"Jia!" Zahira tidak menyangka Jia memukul perut Ayu hingga membuatnya meringis, Zahira ingin mendekati Ayu.
"Jangan Nona, dia bisa berkelahi." Jia tak mengizinkan Zahira mendekati wanita itu.
"Tapi dia kesakitan, dia menangis." Zahira terlihat khawatir, entah mengapa rasanya ia juga ingin menangis.
"Itu hanya pukulan membela diri, tidak akan membuatnya mati." Jia menatap sinis pada Ayu.
__ADS_1
Ayu juga menatap tajam pada wanita kecil dan gesit itu, tapi sejenak ia menjadi sendu. Ia teringat saat seusia gadis yang memukulnya, dia adalah sekretaris sekaligus bodyguard untuk Kakak angkatnya ( Ibu kandung Zahira ), saat itu Ayu tak pernah mengizinkan orang asing untuk mendekati Kakaknya, ia selalu menjaganya dengan tatapan tajam seperti Jia. Ia sungguh bersedih mengingat itu, dan kini juga sedang bersedih karena tak bisa menyentuh Zahira.
"Non, ayo ikut Bibi, Bibi akan merapikan bunga mawar kesayangan Non Zahira." wanita tua itu mengajak Zahira, dia tahu Anggara butuh bicara pribadi dengan tamunya.
"Tapi_" Zahira menoleh wajah pria yang tampak tenang di posisinya.
"Hanya Lima menit, aku akan menyusul." Anggara memeluknya sejenak, mengecup pipinya dan melepaskan gadis itu yang langsung di rangkul Bibi ikut dengannya.
Zahira masih menoleh, tapi ia juga takut karena baru saja melihat dua orang saling memukul. Ia berpikir mereka semua sedang terlibat masalah serius.
"Dia putriku!" ucap Ayu pelan dan sedih.
"Kata siapa?" tanya Anggara dengan santai.
"Kau mencurinya!" Ayu semakin menangis, ingin marah tapi hatinya terlalu lemah.
"Anakmu sudah mati terbakar hangus bersama mobil yang sudah tidak layak pakai itu. Kau memakamkannya dengan tangisan menyedihkan, kalian meratap tapi tidak menyesal. Dan sekarang kalian sudah merelakan kepergiannya." ucap Anggara lagi tetap dengan wajah datarnya.
"Aku sangat hafal dengan tubuh dan suara putriku, aku sangat mengenalnya Anggara." Ayu merasa sangat yakin.
"Semuanya Anggara, aku yang membesarkannya!" Ayu tersulut emosi.
"Hanya membesarkannya, lalu setelah dewasa kau tidak peduli."
"Tutup mulutmu! Ayu berteriak.
"Kau yang tutup mulutmu, aku sudah lelah bersabar dengan dirimu. Tidakkah kau sadar saat itu dia seorang gadis muda yang baru saja mengenal dunia, dia ingin punya segalanya seperti yang lainnya, seperti putramu! Punya mobil mewah dan akses keuangan sepenuhnya. Dia tidak minta uangmu, dia pemilik perusahaan yang besar, tapi kalian malah tidak mengerti, kalian membiarkannya terluka, menderita atas ulah anakmu, dia tidak nyaman pulang di rumahnya sendiri, dia tak punya privasi semual kalian kuasai! Dia datang pada Ricky dengan wajah yang menyedihkan, dia menangis dan sendirian, dan yang paling menyedihkan ponselnya mati dan tidak punya UANG!" Anggara juga tersulut emosi, hingga telunjuknya terangkat menunjuk wajah Ayu.
"Aku tidak tau akan menjadi seperti itu!" Ayu masih membela diri.
"Tentu saja kau tidak tahu, kau tidak peduli."
__ADS_1
"Ku rasa itu hanya alasanmu untuk mengambilnya dariku." ucap Ayu dingin.
"Jika aku mau, aku sudah sejak lama bisa mengambilnya. Itu tidak ku lakukan karena aku masih melihat dia akan bahagia, termasuk ketika kau menikahkan dia dengan putramu, aku hanya menyaksikan tidak mengusik atau mengganggu. Hingga dia sendiri yang datang padaku, dia ingin belajar bekerja dan ingin tahu semua asetnya. Jika kau menganggap dia sudah dewasa harusnya kau serahkan semua miliknya, tidak membiarkannya kekurangan uang."
Ayu hanya menangis, ia sungguh merasa apa yang di katakan Anggara ada benarnya.
"Lebih baik kau pergi." Anggara mengusirnya.
"Aku ingin bertemu dengan Zahira." Ayu terlihat memohon.
"Dia tidak mengenalmu." ucap Anggara.
"Tapi aku yakin dia Putriku, ku harap kau tidak egois." Ayu sungguh berharap Anggara mengerti.
"Bagaimana jika dia bukan putrimu? Dia hanya boneka yang mirip dengan putrimu?" Anggara memancing emosi wanita itu.
"Kau tidak mungkin menikahi boneka Anggara, ku rasa kau masih waras." Ayu benar-benar emosi.
Anggara tersenyum sedikit. "Dia tidak mengenalmu." ucap Anggara meninggalkannya pergi.
"Anggara! Kau sengaja menyembunyikan dan membuatnya melupakan aku!" Ayu menangis kesal.
"Aku manusia, mana mungkin bisa membuat seorang anak lupa pada ibunya." Anggara tak peduli.
Aku akan mengambilnya!" Ayu berteriak, ia tak peduli bodyguard Anggara mendekatinya.
Langkah Anggara berhenti, ia menoleh wanita yang masih menjatuhkan air mata itu. "Dia istriku." jawabnya lagi.
"Aku tetap akan mengambilnya!" Ayu semakin emosi.
"Untuk apa?" kali ini Anggara yang meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Dia putriku!"
"Aku tanya untuk apa kau ingin mengambil istriku? Untuk menyaksikan kebahagiaan putramu yang sudah punya anak dari wanita murahan itu? Atau kau ingin putramu yang bodoh itu memiliki istri Dua? Membiarkannya tidur di sana juga di sini bergiliran tanpa peduli betapa menderitanya Zahira! Aku rasa yang bodoh itu bukan hanya putramu tapi kalian semua." marah Anggara.