Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
96. Putriku


__ADS_3

"Selamat pagi Tuan dan Nyonya." sapaan silih berganti menghampiri pasangan baru itu, tatapan kagum dan bisik-bisik terdengar ketika mereka melewati pegawai yang berdiri menyapa. Sebagian hanya menundukkan kepala tanda hormat kepada mereka.


Pertama kalinya Anggara membawa seorang wanita dengan begitu mesra di hadapan rekan dan seluruh pegawai hotel mereka. Tentu mereka semua sudah tahu kabar tentang pernikahan Anggara yang terkesan di sembunyikan, namun pad akhirnya dia sendiri yang membuka identitas istrinya.


"Hay!" pria yang waktu itu hadir di pernikahan Anggara menyapa dengan sedikit melirik Zahira.


"Terimakasih sudah datang." Anggara berjabat tangan dengan pria tampan sang Casanova yang tak kunjung menikah.


"Tentu saja aku akan datang, aku ingin melihat bidadari." godanya lagi, kembali melirik Zahira yang memang benar hari ini terlihat sangat cantik dengan pakaian dan dandanan terbaik.


"Kita batalkan saja kerja sama jika kau selalu melirik istriku." ucap Anggara menatap tak suka.


"Ah kau jangan begitu, aku hanya sedang memikirkan wanita seperti apa yang cocok menjadi istriku." jawabnya salah tingkah.


"Bukankah para model yang di pojok sana sedang memandangimu." Anggara menunjuk beberapa artis yang juga ikut hadir, mereka sedang melihat ke arah mereka, terlebih lagi Anggara yang tampak nyaman lengannya di peluk Zahira.


"Hahaha, mereka sedang memperhatikanmu." pria itu tak bisa di bohongi, dia melenggang pergi menggoda para model dan artis yang terlihat girang dengan kedatangannya.


"Jangan harap kau bisa bebas." ucap Zahira setengah berbisik di telinga Anggara.


Pria itu tersenyum senang, tentu saja bisikan itu bukan ancaman malah terlihat mesra di mata semua orang yang ada di sana.


"Jia, kau temani Zahira, aku akan menyapa beberapa orang di ujung sana." Anggara memeluk dan mengecup pipi Zahira dengan mesra lebih dulu sebelum meninggalkan istrinya bersama Jia.


Jia mengangguk, gadis usia dua puluhan itu mengajak Zahira duduk di meja khusus menikmati makanan.


"Aku tidak suka makanan ini Jia, adakah yang segar-segar di sini?" Zahira melihat kesana-kemari berharap ada buah-buahan yang ia inginkan.


"Ada Anggur, jeruk, pisang, dan _"


"Aku ingin makan rujak mangga muda." jawabnya memotong ucapan Jia.


"Baik Nona, tunggu sebentar." Jia memanggil seorang pelayan dan meminta untuk di buatkan rujak rumahan untuk majikannya.

__ADS_1


Pelayan itu mengangguk mengerti, ia tersenyum dan segera melakukan tugasnya. Hingga tak berapa lama ia keluar dengan membawa hidangan yang di minta Zahira, piring besar penuh dengan potongan buah mangga, pir, pepaya, dan berbagai buah-buahan yang belum terlalu matang, bumbu gula aren yang pedas tercium menggoda melewati beberapa undangan yang sudah duduk.


"Ini Nona, makanlah." Jia mengambil piring itu dari tangan pelayan dan memberikannya pada Zahira.


"Terimakasih Jia, aku menyukainya." tanpa ragu ia memakan buah segar dan asam itu, membuat melongo beberapa orang di dekatnya.


"Nyonya Anggara sedang mengidam rupanya!" salah seorang dari pengusaha wanita itu tak bisa menahan kekagumannya atas istri bos besar yang terlihat begitu lapar menyantap buah mentah dan asam.


"Iya Nyonya." Jia menjawab dengan sedikit tersenyum, begitu juga Zahira melepaskan garpu dari tangannya sejenak dan tersenyum ramah.


"Wah, berarti sebentar lagi akan lahir pewaris perusahaan raksasa ini." ucapnya begitu antusias.


"Iya, dia juga masih sangat muda."


Kehebohan terjadi di aula besar itu, tak sengaja terdengar oleh David yang juga ikut hadir di sana.


Pria itu menoleh ke arah keramaian itu, ibu-ibu begitu terlihat senang dan tertawa seru sekali, mereka menoleh kearah sumber obrolan mereka, wanita muda yang cantik sedang menyantap makanan kesukaannya.


Mata hitam pekat David tiba-tiba mengabur oleh air mata yang keluar dengan sendirinya. Benar kata istrinya jika dia masih hidup, dia benar-benar Zahira, dia benar-benar putri kesayangannya, dia adalah gadis yang selalu memeluk lengannya sejak masih balita. David sudah tidak tahan lagi, ia mendekat perlahan ingin segera memeluknya. Jujur saja dia sengaja datang untuk mengetahui kebenaran Zahira.


"Zahira!" panggil David dengan mata yang tak berkedip, dadanya terasa sesak bisa kembali manggil nama itu.


Zahira menoleh, mulutnya yang imut tampak masih mengunyah buah di dalam sana.


David memajukan langkahnya hingga menyentuh meja dan ingin memegang tangan Zahira.


"Maaf Tuan, mohon untuk tidak mengganggu kenyamanan Nona kami." Jia menghalangi David dengan sebelah tangannya, tak lupa seorang lagi mendekat dengan wajah tak kalah dingin.


"Aku hanya ingin bicara." ucap David pelan.


Zahira masih menatap pria itu dengan heran, ia tak bicara apapun.


"Sayang." Anggara segera lebih dulu mendekati Zahira, merangkul bahunya dari belakang.

__ADS_1


"Anggara aku mohon, izinkan aku bertemu dengannya." David berbicara dengan Anggara dengan wajah memohon.


"Sayang kita masuk ke dalam." ucapnya masih tak menjawab David.


"Aku masih ingin makan." ucapnya polos.


"Jia kau bawa makanannya masuk." diangguki wanita kurus itu.


David menyusul meski tak di jawab Anggara, ia akan tetap menemui Zahira, dia tak akan membiarkan rasa penasarannya tak terjawab.


"Zahira!" panggil David berteriak di ruangan pribadi Anggara.


"Iya." dia menjawab, berbalik dan menatap pria yang masih berdiri di pintu.


"Nak, ini benar dirimu?" David bergegas mendekat dan memegang tangan Zahira, gadis itu membiarkan saja, tentu karena suaminya juga tak menghalangi.


"Zahira, Papa merindukanmu." ucapnya menjatuhkan air mata di pipi yang di penuhi bulu-bulu itu.


"Papa?" tanya gadis itu heran.


"Kau putriku, aku yang membesarkan dan menggendongmu dengan bahu ini." David menepuk bahu bagian depannya.


Zahira tertegun hingga ikut menjatuhkan air mata, laki-laki gagah itu setengah berjongkok menghadap Zahira, ia tampak begitu sedih dengan air mata tak henti terjatuh.


"Maafkan Papa." ucapnya lagi.


Zahira menoleh Anggara, tapi pria itu diam tak memberi respon apa-apa. Membuat Zahira yakin jika pria itu benar ayahnya. Zahira mendekat, David meraih dan memeluk gadis itu di bahunya, dan benar saja rasanya seperti sudah biasa, begitu nyaman dan tenang ketika kepalanya diusap oleh tangan kokoh pria itu.


"Dia tidak mengingatmu." suara Anggara memecah haru keduanya, tentunya David sangat terkejut di buatnya.


"Maksudmu?" tanya David menatap wajah Zahira yang benar saja tidak terlalu bersedih dengan pertemuannya.


"Dia melewati banyak hal, yang membuatnya begitu sengsara, kesakitan, sendirian, dan berbagai penderitaan. Ku harap kau tidak memaksakan kehendakmu untuk mendekatinya."

__ADS_1


__ADS_2