Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
137. Dia meninggal


__ADS_3

"Mengapa dia kecelakaan?" tanya Zahira mendongak menatap wajah Anggara.


"Dia melarikan diri dari kejaran Polisi, dan akhirnya kecelakaan dan luka parah." jawab Anggara menunduk menatap mata indah Zahira.


"Kenapa melarikan diri? Atau jangan-jangan dia benar-benar terlibat?" tanya Zahira bingung, ia memang belum di beri tahu perihal kejahatan Merry atas dirinya.


"Memang dia terlibat, dia tidak ingin kau ada dan terus di cintai Radit." Anggara kembali memeluk erat tubuh Zahira dengan hangat.


Zahira masih tampak berpikir, memang benar Merry tidak menyukainya, sangat jelas sekali.


"Kita masuk saja, Merry bukan urusan kita." Anggara merangkul Zahira, juga tangan kecil Zahira tak mau lepas dari punggung Anggara.


"Akbar!" panggil Anggara ketika mereka sudah berasa di kursi tunggu di depan ruang rawat Jia.


"Om." jawab Akbar.


"Terimakasih, kau datang tepat waktu dan menyelamatkan istriku, juga Jia." ucap Anggara tersenyum dengan mengadu tinjunya dengan Akbar khas laki-laki.


"Hanya kebetulan Om, ku pikir akan mencoba merayu bodyguardmu itu, ternyata malah dia sedang dalam bahaya." Akbar tersenyum namun juga tersirat kekhawatiran.


"Itu malah bagus, kau akan terlihat seperti pahlawan." Anggara menggoda Akbar.


Pria itu menggaruk-garuk kepalanya dengan senyum aneh.


"Apapun itu, terimakasih sudah menjadi penyelamat istri dan anak-anakku." Anggara menepuk bahu Anggara.


"Anak-anak?" tanya Akbar menatap heran.


"Ya, anak kembar." Anggara sangat bangga, ia menoleh Zahira dan memintanya duduk berdekatan.


Akbar sampai melongo memikirkannya, ia sungguh terkagum-kagum dengan kabar itu. Dulu saat Zahira menikah dengan Radit, malah gadis itu tak kunjung mengandung. Apa jangan-jangan Radit yang bermasalah? Dan Laura benar-benar bukan anak Raditya? Akbar jadi kusut memikirkan banyak hal tentang Radit, belum lagi dia sedang khawatir akan keadaan Jia. Wanita yang sedang diincarnya, beruntung sekali ia menemuinya malam ini, bisa dikatakan ini adalah kesempatan Akbar untuk mendekati Jia, jalannya sudah terbuka lebar. Akbar tersenyum-senyum sendiri.

__ADS_1


Sedang di tempat lain, Radit masih sibuk mencari keberadaan Laura, mereka semua berjalan kesana-kemari dengan menggunakan senter besar dan juga kecil.


"Laura!" Radit memanggil-manggil nama bayi perempuan yang belakangan dekat dengannya, namun percuma ia tak mendapat jawaban.


"Dia masih bayi, mana mungkin bisa menjawabmu." seorang anak buah Anggara berbicara pada Radit yang selalu memanggil nama anaknya.


Radit menoleh, ia jadi berpikir bahwa yang di katakan pria botak itu benar juga.


Lanjut mencari namun tetap tak menemukan bayi itu hingga beberapa jam, mereka sudah lelah dan ingin menyerah.


"Apa sebaiknya kita tunda pencarian ini?" seorang diantara mereka angkat bicara.


Sebagian lagi mengiyakan ucapan rekannya itu. Tapi sebagian masih belum menjawab.


"Jika dia masih hidup, kurasa dia akan menangis." Radit menunduk sedih, mereka yang ada di sana juga ikut merasakan sedih sehingga tak berani menjawab.


"Aku akan terus mencari, jika kalian lelah silahkan istirahat atau pulang. Aku hanya tidak ingin merasa bersalah atas hilangnya Laura, oleh karena itulah aku akan tetap di sini hingga menemukannya." ucap Radit lagi dengan tak melihat wajah siapapun, segurat kesedihan di wajah itu jelas terlihat, entah karena ia terlanjur sayang pada bayi yang tak berdosa.


"Kalau begitu kita bergantian, sebagian silahkan istirahat di mobil dan sebagian terus mencari. Tapi untuk sementara kita semua istirahat di sini." seorang Polisi menunjuk di samping mereka berkumpul sudah ada perapian, ternyata anak buah Anggara menyalakannya agar mereka tidak kedinginan di tengah malam yang gelap.


Tak sedikitpun ia tertidur, bahkan hanya istirahat sebentar dan kemudian kembali mencari. Hingga seseorang berteriak, mengejutkan mereka yang mendengar dan segera mendekat.


"Sepertinya dia telah menemukannya!" teriak seorang yang juga ikut berjalan cepat menuju sumber suara.


Radit tak menjawab, ia hanya mengangguk dan berharap bahwa itu benar Laura.


"Ini putrimu." ucap seorang yang tampak sedang menggendong bayi, namun bayi itu tak mengeluarkan suara.


Radit membuka mulutnya, namun tak sanggup mengatakan apa-apa, ia berpikir jika dugaannya adalah benar, sedikit menampik tapi percuma, wajah Laura pucat dan matanya tertutup rapat.


"Laura!" ucap Radit pelan, matanya berembun dan wajahnya sendu. Tangannya terulur meraih tubuh mungil itu dan menggendongnya erat.

__ADS_1


"Maafkan Papa." sesalnya, ia tak mengira akan membuat Laura meninggal, ia tidak menginginkan ini terjadi.


"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit terlebih dahulu, bertemu dengan ibunya, sekalian kita urus jenazahnya di sana." usul seorang Polisi.


Satu jam lebih perjalanan menuju rumah sakit, Radit tetap memeluk Laura, tak sedikitpun ia lepaskan. Mata sipitnya tak lepas dari wajah Laura, bukankah baru kemarin dia tersenyum dan menatap Radit dengan penuh rindu? Tapi sekarang nafasnya sudah tak ada.


"Kita sudah sampai." ucap seorang anak buah Anggara. Mereka semua turun, langsung menuju ruangan Merry di rawat.


"Radit!" Akbar menyambut sepupunya itu dengan wajah terkejut, dan sudah bisa ditebak jika bayi itu tidak selamat.


Radit berhenti sejenak, ia menatap Akbar, tapi bola mata hitamnya kemudian bergeser menatap wajah cantik yang juga ikut menatap ke arahnya. Sayang sekali tak hanya dia yang sedang menatap dirinya tapi juga pria di sebelahnya, tangan kokoh Anggara selalu setia mengelus bahu Zahira.


Mungkin lebih baik berlalu, dari pada menyaksikan adegan romantis bak sinetron kesukaan emak-emak.


"Katakan pada anak buahmu untuk membawa dia kemari, dan jelaskan juga bahwa anak dan kekasihnya ada di sini." perintah Anggara pada seorang anak buahnya yang baru saja kembali.


"Mengapa harus di jelaskan?" tanyanya polos.


"Dia tidak akan kabur jika mendengar anak dan kekasihnya ada di sini." jawab Anggara jengah, membuat pria itu cepat berlalu.


"Jadi, Radit di jebak?" tanya Zahira pelan. Mata beningnya mencari jawaban di wajah Anggara.


Anggara menatapnya, bibir tipis Anggara tersenyum namun di dalam hatinya merasa khawatir. Takut Zahira berubah pikiran dan meninggalkannya setelah tahu Radit juga korban.


"Mas?" panggil Zahira lagi.


"Ya. Benar Sayang, dia di jebak, di tipu dan mereka nyaris melenyapkan dirimu. Aku bersyukur kau masih ada di sini bersamaku, walaupun aku kehilangan salah satu anak buahku. Raya!" jawab Anggara mengatakan yang sebenarnya.


"Raya!" Zahira sangat terkejut dengan ucapan Anggara.


"Ya." Anggara meraih jemari Zahira, menggenggamnya erat, ia takut Zahira marah atau pergi.

__ADS_1


"Bukankah kau pernah mengatakan jika Raya baik-baik saja?" mata indahnya mengeluarkan butiran bening dengan sendirinya.


"Maaf, aku berbohong waktu itu. Dia terbakar bersama mobil yang kalian bawa." ucap Anggara pelan sekali.


__ADS_2