
Mobil Radit melaju lumayan kencang, wajahnya hanya menatap lurus ke depan fokus pada jalanan. Hingga beberapa saat kemudian tiba di kantor milik ibu Zahira.
Radit segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam kantor bertingkat tersebut.
"Radit!" David sedang berbicara dengan sekretaris Zahira saat dulu, tampak heran melihat kedatangan putranya.
"Papa, aku butuh laptop." Radit berhenti sejenak dengan nafas masih naik turun di dadanya.
Davit menautkan alisnya, kemudian melepas kaca mata dan meminta sekretaris Tina meninggalkan mereka berdua.
"Aku harus tahu sesuatu." ucap Radit lagi.
"Ikut Papa." David mengajaknya menuju ruang direktur, dimana ruangan tersebut masih banyak barang-barang milik orang tua Zahira, termasuk laptop khusus untuk mengambil alih situs dan CCTV.
"Ada masalah apa?" tanya David penasaran dengan apa yang sedang putranya ingin tahu.
"Nanti akan ku ceritakan setelah melihat rekaman CCTV, sekalian aku akan memindahkan aksesnya ke ponselku." Radit mengambil laptop yang baru saja di keluarkan David dari brangkas meja Direktur.
"Apa ada hubungannya dengan Zahira?" David menebak, karena putranya tak akan seheboh itu jika hanya masalah kecil.
"Ya." jawab Radit fokus dengan laptop yang mulai menyala.
David mengangguk-angguk ikut melihat ke arah laptop milik sahabatnya tersebut.
Radit mulai sibuk menekan keyboard dan menatap serius layarnya. Sejenak ia menunggu tulisan loading dengan garis berjalan di layar laptop.
"Tidak bisa!" kesal Radit.
"Rumah siapa yang ingin kau lihat?" tanya David semakin penasaran.
Radit mengeluarkan ponsel di saku jasnya, menghubungi seseorang.
"Halo!" suara di seberang sana.
"Om, aku ingin meminta akses rumah Om Anggara, aku sedang ingin mengetahui sesuatu di sana." Radit sedang menghubungi asisten Ricko.
"Tidak bisa, memang apa yang kau butuhkan?" tanya Ricko.
"Om, aku sedang bersama Papa. Ini menyangkut hubungan Reza Mahendra dan Zahira. Aku tidak mau Zahira menikah dengan orang yang salah." jelas Radit meyakinkan Ricko.
"Hah! Menikah?" Ricko terkejut mendengarnya.
"Ya. Reza mengatakan itu." Radit tak bisa menjelaskan semuanya.
__ADS_1
"Hemm..."
"Om, aku tidak mungkin mencelakai Zahira, kau tahu aku dan dia terikat hubungan yang tak bisa di pisahkan sekalipun kami sudah bercerai." Radit kembali meyakinkan.
"Baiklah, sepuluh menit lagi." jawab Ricky paham.
"Ya, terimakasih banyak." Radit tersenyum lega.
Radit kembali fokus dengan layar laptop, memindahkan akses CCTV rumah Ayra ke ponsel miliknya.
Tak lama kemudian ada notifikasi pesan di ponsel Radit, Ricko sudah membuka aksesnya.
"Rumah Anggara?" David menatap bingung.
Radit tak menjawab, wajahnya tampak serius dan menggerak-gerakkan mouse mencari- tanggal dimana delapan hari yang lalu Reza pulang dan pasti mengunjungi Zahira.
"Ayra?" David benar-benar tak bisa diam, bingung dengan apa yang terlihat.
Reza masuk sedikit terburu-buru, dan tampak perdebatan kemudian.
"Aku yakin mereka saling mengenal!" gumam Radit dengan nafas semakin tak beraturan.
"Dimana mereka kenal? Bukankah ini pertama kali Ayra datang ke Indonesia?" David masih terlihat serius melihat apa yang sedang Ayra dna Reza lakukan dalam layar.
"Apakah ada hubungannya Ayra datang ke sini?" gumam David menebak, sejak tadi entah berapa kali ia bertanya.
Radit beralih dengan tangkapan kamera berikutnya.
"Rumah Nenekmu." David tak kalah serius memperhatikan.
"Ya." Radit melihat kejadian kemarin sore.
Tampak Reza sedang menunggu di gerbang depan, lalu kemudian Ayra datang dan tidak memperdulikan Reza Mahendra. Tapi satu hal yang membuat Radit membulatkan matanya, ketika kantong belanjaan Ayra terjatuh dan memperlihatkan kotak susu!
Reza berusaha mengejar Ayra namun di halangi satpam rumah tersebut.
Radit semakin tercengang di buatnya, tampak Reza Mengacak-acak rambutnya dengan gusar.
"Astaga." ucap Radit menutup wajahnya, menyandar dengan banyak dugaan.
Kali ini David tak bicara apa-apa, berusaha memahami apa yang sedang di curigai Radit putranya.
"Bicaralah baik-baik dengan Ayra, jangan sampai terjadi salah paham. Dia juga saudaramu, ayahnya pernah menyelamatkan ibumu." David menepuk pundak Radit.
__ADS_1
"Aku tahu Papa." Radit menariknya nafas berkali-kali, berusaha menenangkan diri.
David ikut duduk di sofa dan berpikir, sepertinya dia harus menahan Zahira di rumahnya akhir pekan nanti sampai semuanya jelas.
Sementara di tempat lain asisten Ricky juga melihat apa yang sedang di lihat Radit di layar laptopnya. Pria berusia lima puluh tahun tapi masih terlihat tampan dan muda, karena style-nya yang selalu berganti-ganti itu menutup laptop hitam miliknya, beranjak akan menemui seseorang. Kebetulan hari ini ia akan bertemu dengan orang yang ada di dalam layar tersebut, Reza Mahendra.
Di lantai bawah perusahaan cabang milik Anggara tersebut sudah duduk sosok Reza Mahendra, dia datang untuk membahas saham mereka.
"Kau sudah lama?" tanya Ricko, memang mereka jarang bertemu.
"Belum." jawab Reza setelah mereka berjabat tangan.
"Ku dengar kau pergi ke London beberapa waktu lalu, apakah kau akan pindah?" tanya Ricko memulai obrolan santai sebelum memulai pembahasan serius.
"Tidak hanya sedang mengantar Ibuku. Aku akan tetap di sini, tak ada alasan untukku pindah ke sana." jawab Reza santai, wajah tampannya memang meyakinkan untuk menjadi pendamping Zahira, Ricko memahami itu.
Ricko tersenyum menatap wajah Reza sedikit detail kali ini.
"Ada yang aneh?" tanya Reza mengangkat alisnya.
Ricko tersenyum lalu menarik nafas. "Ku dengar kau sedang ingin menikah wanita yang menjadi atasan kami saat ini." Ricko masih menatap wajah rekannya tersebut.
"Kau tahu dari mana?" Reza sedikit terkejut.
"Mudah bagiku, bahkan infonya datang sendiri." Ricko menyandar di sofa dengan masih terus menatap Reza.
"Ya, aku memang sedang melamarnya, aku ingin menikahinya." jawab Reza yakin.
"Pastikan kau tak terlibat dengan wanita manapun jika kau ingin menikahinya. Karena jika dia tersakiti, semua saham dan kerja sama kita berakhir!" kali ini ucapannya terdengar dingin.
"Kau sedang bercanda." Reza tertawa.
"Aku tidak bercanda, hanya seseorang sedang mencurigaimu." ungkap Ricko lagi.
Reza menautkan alisnya, sedikit gugup. "Siapa?"
"Tadi dia meminta akses cctv rumah Anggara padaku. Dan dia sedang mengamatimu." Ricko masih menatap dingin walaupun sikapnya terlihat tenang.
Reza sedikit terkejut, tak menyangka ternyata Radit bergerak di luar dugaan. Reza tampak berpikir dan menyesali apa yang sudah terjadi di rumah itu. Ya, dia pernah menunjukkan sikap tidak baik terhadap Ayra.
"Dengar, Aku tidak sedang main-main, aku benar-benar ingin menjadikan Zahira istriku. Untuk pertama kalinya aku merasa sangat yakin dan aku tidak mau gagal karena alasan apapun." ucap Reza serius.
"Aku tidak tahu, hanya kau sendiri yang tahu tentang dirimu dan pastikan usahamu menikahi Zahira berada di garis yang benar tidak menyakiti hati siapapun."
__ADS_1