Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
233. Ayah sudah di surga


__ADS_3

"Selamat siang Tuan!" seorang bodyguard Zahira menyapa, sepertinya dia baru saja berjaga menggantikan rekannya sehingga berjalan hampir bersamaan dengan kedatangan Radit.


"Selamat siang. Apa Nyonya ada?" tanya Radit sambil melangkah menuju pintu.


"Ada Tuan." berbalik tegap di depan pintu.


"Kau tegang sekali, kenapa tidak duduk saja?" Radit menunjuk kursi tak jauh dari tempat bodyguard itu berdiri.


"Iya Tuan, berdiri sebentar mengawasi sekitar." jawabnya sopan.


Radit berlalu masuk ke dalam rumah itu menemui anak-anak sekaligus ibunya.


"Paman!" teriakan Dua anak laki-laki itu membuat Radit membuka kaca mata dan tersenyum lebar.


"Hai Sayang! Apa kabar jagoan Paman yang tampan?" Radit duduk berlutut menyambut hangat pelukan kedua anak tersebut.


"Baik. Kau tahu? Kami mendapat nilai Seratus setiap hari. Dan ibu guru bilang hari Senin kami akan ujian kelas Dua!" seru Satria dengan Satu gigi depan sudah terlepas.


"Kelas Dua?" Radit mengernyitkan keningnya.


"Ya, kami hebat 'kan?" Sadewa juga berceloteh bangga.


"Hebat sekali, kalian baru beberapa bulan masuk Sekolah Dasar, tapi sudah akan naik kelas Dua!" Radit ikut berseru bangga.


"Bukan hanya itu, jika sudah lulus, maka semester depan akan langsung kelas Tiga." jawab Sadewa diangguki Satria, sambil memeluk bahu Radit, menempel bermanja-manja.


"Ah, kalian memang hebat seperti ayah kalian. Paman saja kalah jauh dari ayahmu." Radit menunjuk hidung Satria.


"Benarkah?" dia memiringkan kepala, memikirkan seberapa hebat ayah mereka.


"Ya." Radit semakin meyakinkannya.


"Tapi Ayah sudah tidak ada." jawab Satria sedih, kepalanya menyandar di bahu Radit.


Sekali lagi Radit harus menarik nafas mendengar kehilangan itu. Memeluk keduanya begitu erat, menyesali semuanya tapi tak ada gunanya. "Dia sudah ada di surga Sayang." jawabnya kemudian sambil mengelus kepala keduanya.


"Paman menginap lagi?" Sadewa menatap wajah Radit dari dekat.


"Tidak, Paman hanya sedang menjemput Nenek, dan ingin bertemu kalian." Radit tersenyum manis.


"Padahal sangat seru tidur dengan Paman." wajah imut mereka mengerucut bersamaan.


"Kalau begitu kalian menginap saja di rumah Paman." usul Radit pada keduanya.


"Tapi Ibu?" mereka tampak berpikir.

__ADS_1


"Lain kali saja, Ayah mengatakan jika kami harus selalu menjaga Ibu." wajah polos itu tampak kecewa.


"Baiklah, Paman akan bicara pada Nenek juga Ibumu, Paman butuh Izin." Radit mencubit sedikit pipi keduanya bergantian.


"Ibu!" teriak mereka tiba-tiba melihat Zahira baru saja keluar dari kamarnya.


"Ada apa Sayang?" Zahira membuka kedua tangannya.


"Izinkan Paman menginap disini, kami ingin bermain." Satria langsung memohon.


"A-"


"Ibu!" rengek Sadewa juga Satria bergantian.


"Tapi-" Zahira tampak berpikir.


"Ada apa Sayang?" Ayu juga baru saja keluar dari kamar dan sudah membawa tas di bahunya.


"Nenek! Kami ingin Paman menginap, kami ingin bermain." rengeknya berganti menggelayuti Ayu.


Ayu jadi bingung, padahal dia ingin pulang dan meminta Radit menjemputnya.


"Begini saja, Mama tetap di sini, biar mereka ku bawa pulang, lagipula besok adalah hari libur." usul Radit sangat tidak tega melihat bibir anak-anak itu mengerucut.


"Tidak,, tidak. Kau menginap saja di sini, Mama juga jangan pulang, aku akan menghubungi Papa datang kemari, kita akan membuat BBQ nanti malam." Zahira menemukan ide untuk berkumpul bersama.


"Maaf, anak-anak sangat nakal." Zahira merasa tak enak hati dengan Radit, bahkan Satria sedang memeluk dan meminta di gendong.


Radit tersenyum manis, sama sekali tidak mau mendengarkan maaf yang menurutnya tidak perlu.


"Baiklah, Mama tidak jadi pulang." Ayu meletakkan tasnya lagi di atas meja ruang keluarga.


Zahira terkekeh. "Maaf Mama." ucapnya menertawai Ayu.


"Hanya khawatir Papamu merajuk karena di tinggal terlalu lama." ucapnya sedikit bercanda.


"Aku akan merayu Papa untuk datang kemari, aku jamin Papa tidak akan marah." Zahira masih terkekeh.


"Dia tidak akan marah jika berhadapan denganmu." Ayu meyakini itu, Zahira adalah kesayangan David, dia sampai terkena serangan jantung saat dulu Zahira dinyatakan meninggal.


"Mama!" memeluk Ayu dengan mesra.


Harusnya memang seperti itu, mereka sangat utuh sejak awal. Radit memandanginya sambil bermain dengan anak-anak.


"Aduh!" Zahira sedikit meringis.

__ADS_1


"Ada apa Sayang?" Ayu menoleh cepat, ia khawatir melihat wajah Zahira.


"Entahlah Ma, perutku sering nyeri akhir-akhir ini." Zahira memegang perut bagian bawahnya.


"Kau sudah periksa?" tanya Ayu ikut memegang perut Zahira yang sudah lumayan besar.


"Belum untuk bulan ini." jawabnya, memang ia sengaja tidak periksa menunggu bulan depan hingga menginjak Tujuh bulan.


"Mama akan mengubungi Amelia." Ayu meraih kembali tas di atas meja.


"Nanti saja Ma, dia sedang di rumah sakit siang ini." Zahira tahu jadwal dokter muda itu.


"Baiklah, Mama akan mengirim pesan saja. Agar nanti langsung ke sini setelah pulang." Ayu mengetik pesan di ponselnya.


"Mama buatkan susu." Ayu beranjak ke dapur, dia tahu Zahira menyukai susu.


Zahira mengangguk, rasa nyerinya sudah mulai hilang, tapi sedikit ketegangan membuatnya lemas.


Zahira mencoba berdiri ingin menuju kamarnya, perut yang besar dan nyeri itu membuatnya kesulitan.


"Mau kemana?" Radit meraih bahunya, tubuh yang sedikit oleng itu membuat Radit tidak tahan untuk tidak menolong.


Zahira kembali duduk, rasanya sungkan jika Radit harus menggandeng dan memeluknya masuk, walaupun Radit hanya ingin membantu.


"Kita ke rumah sakit saja, jika kau merasa sakit." Radit menatap tangan Zahira tak lepas dari perutnya.


"Tidak, hanya nyeri sedikit." Zahira menyandar berusaha sesantai mungkin, mengendalikan nafas yang memburu menahan nyeri.


"Walaupun sedikit tapi mengganggu." Radit berkata lagi.


Namun Ayu datang membawa susu, hingga percakapan keduanya terhenti.


"Minumlah Sayang, habiskan." Ayu memberikan gelas susu pada Zahira.


"Terimakasih Mama." ucapnya kemudian meneguk Susu hangat buatan Ayu, selalu memenangkan, rasanya tak berubah seperti dulu.


"Jangan sungkan memanggilku jika kau butuh sesuatu, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu juga bayimu." Radit beranjak, kembali menemani anak-anak.


Malam akhir pekan, sengaja membuat acara kecil-kecilan agar mereka semua berkumpul. Menyenangkan anak-anak dengan kehadiran semua orang, termasuk Reza Mahendra ada di sana. Menghubungi Amelia untuk datang malah sepupunya ikut datang tak ingin ketinggalan informasi apapun tentang Zahira.


"Wah, apa kehadiranku menggangu acara kalian?" ucap Dokter muda itu meraih sepotong daging yang sudah di panggang dengan bumbu.


"Tentu saja tidak, akan sangat menyenangkan jika kita semua berkumpul." ucap Zahira membiarkan dokter muda itu menikmati makanan terlebih dahulu. Sengaja mengadakan acara sebelum malam, agar anak-anak ikut menikmati.


"Kau malah makan, kau harus memeriksanya!" Reza kesal dengan saudara sepupunya itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa." ucap Zahira.


"Aku khawatir denganmu." Reza sedikit menyentuh tangan Zahira yang sedang mengelus perutnya, terlihat sangat mesra walau hanya menyentuh dengan ujung jari saja.


__ADS_2