
Reza menoleh Ayra dengan menelan kasar ludahnya sendiri. Kembali menatap Rey yang juga masih bingung dengan pertemuan mereka.
Suasana menjadi hening mendadak dengan sikap Reza yang serba salah dan Ayra yang menatapnya penuh tanya.
"Baiklah." Reza meraih tangan Ayra dan menggenggamnya erat. Mengatur nafas dan maju mendekati orang tua Ayra.
Tentu membuat Rey dan Alisa semakin heran, keduanya saling melempar pandangan.
"Paman, maafkan aku yang lari dari malam pertemuan kita saat itu. Dan sekarang aku datang untuk melamar putrimu." ucap Reza berusaha setenang mungkin.
"Oh, ya." Rey juga terlihat serba salah dengan keadaan yang tanpa di duga malam ini.
"Papa mengenalnya?" tanya Ayra menunjuk Reza yang tak melepas tangannya.
"Ya, kami mengatur pertemuan untuk kalian berdua, dan kau malah kabur dari rumah." jelas Rey sudah menguasai keadaan.
Ayra mendongak Reza lagi, menatap pria itu dengan bingung, begitu juga Reza semakin bingung dengan pertemuan mereka semua.
"Artinya kalian sudah di takdirkan berjodoh sejak lahir." Radit menggoda Reza dan Ayra.
Ayra melepaskan tangan tangan Reza lalu meninggalkannya masuk ke dalam.
"Ayra." panggil Reza namun tak mengejar karena masih harus bicara dengan orangtuanya.
"Baiklah, lamaranmu di terima." jawab Rey enteng.
Reza menoleh cepat, sedikit tak percaya jika akan semudah itu mendapatkan jawaban.
"Terimakasih Paman, maaf jika aku mengecewakanmu saat itu." Reza sedikit menunduk.
"Tidak masalah. Yang penting kalian saling mencintai." jawab Rey tersenyum senang.
"Aku mencintai Ayra, dan aku ingin kami menikah secepatnya." ucap Reza dengan berani.
"Iya." jawab Alisa cepat, tentu karena dia tahu lebih dulu tentang kehamilan Ayra putrinya.
"Terimakasih." Reza tersenyum dan kembali menunduk sopan, lalu mengejar Ayra yang masuk ke dapur, mencoba bicara tentang mereka berdua.
"Apakah secepat itu?" tanya Rey heran dengan keputusan istrinya.
"Ya, memang harus seperti itu Sayang." jawab Alisa menarik nafas lega.
"Lucu sekali." Radit menertawai hubungan Reza yang sempat menjadi saingannya tersebut.
"Jangan begitu." Zahira menyikut lengan Raditya.
"Hal seperti itu jarang terjadi." Radit masih tak menyerah.
"Terserah kau saja." Zahira enggan berdebat dengan Raditya.
Sedangkan Rey dan Alisa masih tak melanjutkan bicara, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sejenak kemudian mereka saling pandang dan tertawa dengan hubungan Ayra dan Reza.
Sementara itu, di halaman belakang Ayra sedang duduk melamun, menatap bunga yang masih mekar di malam hari.
Sungguh di luar dugaan, sama-sama menghindari perjodohan malah membuat mereka berjodoh dan jatuh cinta.
Ya, Ayra jatuh cinta. Walaupun entah dia tidak tahu bagaimana perasaan Reza padanya. Walaupun pria itu mengatakan cinta, tapi rasanya begitu cepat dan aneh mendengarnya.
__ADS_1
"Sedang apa di sini?" tanya Reza pelan sekali.
Ayra menolehnya sedikit, lalu kembali melihat bunga di hadapannya.
"Boleh aku tahu, malam itu kau sedang apa di apartemen Mama?" tanya Reza memegang tangan Ayra setengah mendekapnya.
Ayra kembali menatap Reza, hingga wajah mereka hampir bersentuhan. "Aku menunggu temanku." jawab Ayra pelan.
Reza tersenyum tipis, mengingat betapa dia frustasi malam itu. "Tapi aku merasa beruntung sekarang, bisa menemukanmu dan akhirnya anak ini yang membuat kita berjodoh." ucap Reza sedikit memegang perut Ayra. Sengaja semakin dekat memberi kehangatan dan rasa nyaman untuk Ayra.
"Kau yakin, atau kau hanya sedang merayuku?" tanya Ayra menoleh wajah yang hampir menyentuh pipinya.
"Yakin." jawab Reza lagi dengan senyum manis sekali.
Sejenak mata mereka bertemu, bahwa benar jika pria itu sangat tampan. Membuat sejuk mata memandang, terlebih lagi nafasnya hangat terasa menusuk jika dalam posisi sedekat ini.
"Kita akan menjadi ayah dan ibu, kau akan menjadi ibu dari anakku." Reza memperlakukannya dengan lembut, sebisa mungkin membuatnya nyaman.
"Aku sampai lupa jika kau adalah laki-laki yang sangat lincah menaklukkan hati wanita." ucap Ayra membuang pandangannya.
"Apakah aku sudah berhasil menaklukkan hatimu?" bisik Reza kembali merayunya, hingga tawa di bibir merah Ayra terbit sempurna.
"Aku mencintaimu, Ayra sayang." ucap Reza lagi semakin membuat Ayra meleleh.
Sedangkan dari balkon atas Zahira dan Radit sedang menyaksikan Reza dan Ayra.
"Dia pintar sekali merayu." ucap Radit kepada Zahira.
"Biarkan saja, mengapa kau yang gelisah?" tanya Zahira tak suka.
"Aneh sekali, apa aku sedang terlihat mengenang sesuatu?" Zahira mendengus kesal.
Radit terkekeh kecil, meraih tangan Zahira dan menariknya agar mendekat.
"Ada apa? Jangan mesum!" Zahira mengangkat telunjuknya di depan wajah Radit.
"Siapa yang mesum?" Radit semakin tertawa.
"Ayo pulang." ajak Zahira sudah mulai bosan.
"Baiklah Sayang, aku tahu kau lelah." Radit mengikutinya turun dari lantai dua.
"Paman, kami pulang dulu karena anak-anak pasti sudah mengantuk." Radit mendekati Rey dan memeluknya.
"Baiklah, sebaiknya kalian istirahat dan persiapkan diri untuk beberapa hari lagi." jawab Rey juga sudah terlihat lelah.
"Ya." Radit mengangguk, begitu juga Zahira.
"Assalamualaikum Paman."
"Wa'alaikum salam."
Pada akhirnya hari pernikahan mereka hanya tinggal menunggu hitungan jam saja.
Malam yang sepi itu akan berakhir ketika mata hari terbit esok pagi, tak ada lagi kegundahan dan kegelisahan. Tak ada lagi kesedihan dan kehilangan.
Radit masih belum juga tidur di malam itu, menghadap langit yang tinggi, dengan bintang dan bulan begitu indah di sana.
__ADS_1
Terdengar pintu kamar terbuka.
Radit menoleh Zahira yang keluar dengan gaun tidur panjang indah sekali.
"Mengapa belum tidur?" tanya Radit menghadap wanita cantik itu.
"Tidak bisa tidur." jawab Zahira singkat.
"Sini." Radit mengulurkan tangannya, meminta Zahira mendekat.
"Kita belum menikah, jangan terlalu mesra." Zahira tertawa sedikit.
"Hanya bermesraan sedikit, besok aku tidak akan mengulanginya." jawab Radit bercanda.
"Tidak mengulangi yang mana?" Zahira ikut bercanda.
"Tidak akan mengulangi yang sedikit, tapi akan mencoba yang lebih banyak." Radit menggodanya.
Mereka berbicara sambil tertawa bersama, sesekali Radit mencubit gemas hidung Zahira yang sejak lama menjadi kesukaannya.
"Jangan menyentuh apapun." rengek Zahira menutup hidungnya.
"Baiklah, selagi masih bisa di larang. Jangan harap besok bisa melarang ku."
"Iya!" teriak Zahira tertawa mencoba menghindari tangan Radit yang jahil.
"Tidurlah, besok kita akan menikah." ucap Radit meraih jari-jari lentik Zahira.
"Kau juga harus tidur, tak hanya aku." jawab Zahira lembut.
"Tentu saja, aku belum tidur karena terlalu bahagia." jawab Radit hampir tak berkedip memandangi wajah Zahira.
Tak sabar menanti hari esok itu segera datang, menikahi Zahira sesuai dengan apa yang selalu menjadi doa untuknya.
Dia yang tulus, sepenuh hati ingin kembali hidup bersama Zahira.
*
*
*
Dua atau tiga bab lagi kita end ya...
sebagai tanda terimakasih untuk pembaca setia yang sudah mendukung karya othor.
Othor mau bagi-bagi pulsa 10.000 untuk 8 orang pendukung.
silahkan klik profil Author dan 'ikuti'. Agar bisa chat pribadi.
jangan lupa dukung karya Author selanjutnya ya...
🙏🙏
hadiah akan dikirim ke nomor ponsel masing-masing.
__ADS_1