Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
41. Sembunyi-sembunyi


__ADS_3

Pukul tujuh malam, Radit menghantarkan Merry ke sebuah apartemen yang di sewanya dari seseorang.


"Ini bisa kau gunakan, isinya masih sekitar lima puluh juta. Aku rasa cukup untuk sementara, nanti setelah satu bulan aku akan mengisinya. Aku tidak mungkin memberikan kartu kredit karena keuanganku saat ini di akses dari kantor mama." Radit memberikan sebuah kartu ATM pribadi untuk Merry.


"Terima kasih, ini nafkah pertamamu untuk kami berdua." jawabnya menunduk menatap perutnya yang masih rata.


"Jaga diri baik-baik." ucap Radit, lalu kemudian berlalu meninggalkan Merry.


Begitu juga ketika sampai di rumah, Radit memarkirkan mobil yang sempat ia titipkan di rumah sahabatnya Vino. Dengan ragu ia memasuki halaman rumah orang tuanya, tampak sepi namun ia tahu Zahira masih ada di sana.


"Darimana saja?" tanya ibunya, Ayu sudah menunggunya sejak sore tadi.


"Kami terjebak longsor di Vila Ma, di sana tak ada jaringan dan kami tak bisa pulang. Hingga akhirnya kami memutuskan pulang hari ini setelah jalan yang sempat longsor sudah di bersihkan pemerintah setempat." Radit berusaha berbicara dengan bersungguh-sungguh.


"Di Vila mana?" selidik Ayu.


"Vila temanku, di puncak B Mama." jawabnya yakin.


"Apa yang kau sembunyikan dari Mama?" Ayu menatap tajam putranya.


"Tidak ada, aku hanya jenuh dan ingin memulai bisnis sendiri itupun jika cocok." Radit berusaha meyakinkan Ayu.


"Baiklah." Ayu berlalu, walaupun hatinya tak puas, tapi percuma saja dipaksapun ia tak akan mendapatkan apa-apa.


Radit melanjutkan langkahnya menuju lantai atas.


"Sayang!" panggil Radit saat melihat istri cantik kesayangannya sudah berdiri di balkon tempat dulu ia melamarnya.


Zahira diam, menatapnya penuh selidik dari ujung kaki hingga kepala.


Radit mendekat dan memeluknya erat, tubuh kecil yang menghangatkan itu masuk seluruhnya ke dalam dekapan Radit, mencium dan juga mengecup seluruh wajahnya penuh rindu. "Aku sangat merindukanmu sayang." Bisik Radit padanya.


Zahira tak membalas, tangannya tetap berada di bawah.


Radit menatap wajah di dalam pelukannya, "Apa kau tidak merindukan aku sayang?"


"Kau yang tidak rindu!" jawabnya, suara lembut itu terdengar sedikit meninggi.

__ADS_1


"Tentu saja aku rindu, aku sangat merindukanmu." Radit merayunya dengan sentuhan hangat dan kembali mengecup seluruh wajah cantik itu hingga akhirnya gadis itu membalas pelukannya.


"Aku bosan menunggumu." rengekan manja itu kembali terdengar, mengukir senyum bahagia di wajah Radit.


"Aku sudah ada di sini sayang, aku tidak akan pernah bisa jauh darimu apa lagi meninggalkanmu."


Rayuannya semakin membuat Zahira meleleh dan melupakan kekesalannya saat dari kemarin menunggu dan membuatnya makan tak enak, tidurpun tak nyenyak.


Pada akhirnya liburan sekolah berlalu begitu saja, tak ada liburan seperti yang di rencanakan Radit, tak ada bulan madu untuk membuat istrinya segera hamil, yang ada malah mendapat istri baru yang sedang hamil.


Kembali masuk sekolah dengan pikiran yang sudah lebih baik, dengan menikahi Merry ia tak perlu pindah sekolah untuk menghindarinya. Keadaan aman terkendali tanpa harus khawatir menyakiti Zahira atau orang tuanya. Tapi,


"Radit, bisakah kau datang ke apartemen sekarang? Aku muntah-muntah dan lemas sekali." suara Merry di sambungan telepon.


Radit mematikan ponselnya dan berbalik menuju mobil. Oh, tidak! Radit berjalan menuju gerbang depan dan memanggil taksi.


"Merry!" panggilnya, langsung membuka pintu dan melihat sekeliling ruangan itu.


"Radit!" suara Merry terdengar pelan dari kamarnya.


Radit berjalan menuju kamar Merry dan melihat gadis itu sungguh sedang tidak baik-baik saja.


"Aku ingin sekali bersamamu Radit." ucapnya pelan dan menyedihkan, sebenarnya Radit tak mau peduli, tapi tubuh lemas dan sedikit kurus itu mengingatkan satu hal yang membuatnya goyah. Merry sedang mengandung anaknya!


Walau awalnya tak percaya namun lagi, bercak merah yang jelas terlihat di rekaman itu sudah cukup membuat Radit yakin bahwa dialah yang pertama.


"Tapi aku harus sekolah?" Radit berusaha menghindar.


"Hari ini saja, aku janji." pinta Merry begitu memohon.


"Baiklah."


Radit menunduk teringat Zahira, istrinya itu saat ini sedang mengikuti ujian semester. Harusnya Radit tak melakukan ini namun salahkah jika memberikan sedikit perhatian pada wanita yang sedang mengandung anaknya, walau karena sebab kesalahan.


"Radit, bisakah kau memelukku?" pintanya lagi dengan suara bergetar dan tubuh menggigil. Tangannya berusaha meraih lengan Radit.


"Tapi_"

__ADS_1


"Aku istrimu Radit." jawabnya masih dengan suara bergetar.


"Kita berobat ke dokter saja Merry, kau tak akan sembuh hanya di peluk olehku!" Radit menekan ucapannya.


"Tidak Radit, aku hanya butuh tidur nyenyak dan di peluk olehmu." rengeknya memohon.


Radit menarik nafas dalam-dalam walau akhirnya pasrah dan memeluknya dengan rasa tak menentu, kesal, ragu dan entah apalagi.


Dan benar saja tak lama setelahnya gadis itu tidur dengan nyenyak, wajah yang menyandar cantik di dada Radit itu tampak polos dan tenang. Andai saja yang sedang mengandung ini adalah Zahira, mungkin Radit akan memperlakukannya dengan istimewa. Tapi sayang Allah malah memberikannya anak dari wanita lain.


Dering ponsel berbunyi membangunkan Radit yang juga ikut tertidur bersama Merry, entah mengapa dekat dengan Merry membuat Radit mengantuk padahal ia tak pernah tidur di pagi hari.


"Hallo!" Radit menjawab panggilan teleponnya.


"Kau di mana, mobilmu ada tapi kau malah tidak masuk kelas?" suara Vino di seberang sana.


"Tadi aku ada urusan mendadak, kau kirim saja pelajaran hari ini besok aku selesaikan." Radit mengusap mata sekaligus wajahnya, tampak gadis itu masih tertidur memeluk pinggangnya.


"Baiklah." jawab Vino langsung mematikan teleponnya.


Radit melihat layar ponsel menunjukan pukul 10:00 tentu jam istirahat akan berakhir. Berpikir untuk kembali ke sekolah namun rasanya percuma jika saat tiba sudah terlambat.


Jam sekolah sudah berakhir, dengan tergesa-gesa Radit masuk gerbang dan mengambil mobilnya.


"Kau dari mana saja?" Vino yang kali ini menumpang sedikit penasaran.


"Hanya urusan pekerjaan." jawabnya singkat, mereka pulang dengan lebih banyak diam.


Sementara di tempat yang berbeda, seorang berjaket hitam sedang memasuki ruangan besar dengan membawa amplop kertas.


"Bagaimana?" tanya wanita cantik itu.


Pria itu memberikan amplop cokelat. "Dia tidak ada di sekolah Nyonya, pada bel pulang sekolah berbunyi Putra anda menyelinap masuk mengambil mobilnya dan pulang." jelas pria bertopi itu.


"Kemana dia?" Ayu begitu heran.


"Aku tidak tau nyonya, tadi pada saat aku datang mobil putra anda sudah terparkir di halaman sekolah, namun ternyata dia tidak masuk kelas." pria itu menunduk.

__ADS_1


"Besok kau harus lebih mengawasi putraku, jangan sampai lepas dan kau tidak boleh ketahuan." Ayu menatap tajam pada pria itu.


"Baik Nyonya."


__ADS_2