Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
113. Inikah rasanya


__ADS_3

"Halo Akbar, kau ada dimana?" tanya Radit melalui panggilan ponselnya.


"Aku bersama yang lain, kami sedang menghitung jumlah uang yang di butuhkan untuk membangun Vila dan yang lainnya." jawab Akbar di seberang sana.


"Oh, maaf aku tidak membantu." Radit merasa tidak enak hati.


"Tak masalah, asal kau senang." canda Akbar lagi.


"Aku ingin menanyakan sesuatu." suara Radit terdengar serius.


"Apa?" tanya Akbar heran.


"Aku ingin tahu alamat rumah Pamanmu." ungkap Radit.


"Kau ingin ke sana?" tanya Akbar khawatir.


"Tidak, aku hanya ingin meminta seseorang untuk mengawasi Zahira, kapan dia keluar dan kemana." jawab Radit jujur.


"Kau mau mengirim mata-mata, apa tidak salah memata-matai istri orang?" suara Akbar sedang terkejut.


"Dia saja mencuri istriku, mengapa aku harus merasa bersalah hanya sekedar ingin tahu keadaannya."


"Asal kau tidak membuat keributan, aku akan memberitahumu. Kau tahu posisiku serba salah, kau adalah saudaraku, Om Anggara sendiri adalah sepupu ayahku. Jadi jangan membuat aku kecewa!" Akbar benar-benar menginginkan Radit berjanji.


"Aku tahu, aku tidak akan membuatmu kecewa." jawab Radit terdengar bersungguh-sungguh.


"Aku akan mengirimkan alamatnya."


"Terimakasih." Radit tersenyum, memutuskan panggilan teleponnya.


*


Rapat bulanan yang di nantikan Radit untuk bertemu Anggara, malah ia tak menemukan pria saingannya itu. Asisten andalan Anggara yang mewakili kali ini, secara sengaja Anggara menghindari pertemuan dengan keluarga Radit untuk sementara waktu.


Namun tak putus asa pria itu terus berusaha untuk menemui Zahira, hingga hari berikutnya ia mendapatkan informasi bahwa Zahira sedang pergi bersama Jia.

__ADS_1


Senyum seringainya terbit seakan menemukan bongkahan berlian yang besar, hatinya kegirangan dengan semangat yang luar biasa menggebu.


Hari itu, Zahira pergi bersama Jia untuk membeli beberapa pakaian ibu hamil sesuai keinginannya. Wanita cantik yang terlihat gemuk itu mengambil pakaian cukup banyak, tak ketinggalan makanan ringan ataupun kue, buah dan berbagai macam makanan lainnya.


"Tuan Anggara berpesan jangan membeli yang ini." Jia mengambil kembali makanan yang sudah masuk ke dalam keranjang.


"Kenapa?" tanya Zahira menatap bodyguard cantiknya.


"Ini terlalu pedas, dan kurang baik untuk ibu hamil. Lebih baik yang lain saja, jika suka pedas bisa di tambah dengan cabai." Jia menyarankan, tangan kanannya kembali meletakkan makanan instan itu pada tempatnya semula.


"Baiklah, suamiku itu sangat mengatur kebutuhanku. Harusnya dia ikut agar bisa menemaniku." ia berpikir jika Anggara sedang sibuk.


"Tuan sedang ada pekerjaan mendadak Nona." Jia hanya mengetahui hal itu sesuai dengan apa yang di katakan Anggara.


"Aku ingin buah-buahan di sana." Zahira menunjuk kotak dan keranjang buah berjejer rapi.


"Silahkan Nona." Jia mendorong belanjaan majikannya, ibu hamil itu lebih banyak mengambil makanan.


"Zahira!" suara seseorang memanggil.


Pria tampan itu tersenyum, menatap wajah cantik Zahira dengan tanpa terlewatkan setiap lekuknya. Mata kecilnya seperti hendak menangis, tangan kokohnya hendak memeluk Zahira.


"Maaf, Nona tidak boleh berbicara dengan sembarang orang. Jangan mengganggu kenyamanan Nona kami." seperti biasa Jia akan menghadang dan menghalangi orang yang ingin mendekati Zahira.


"Aku-"


"Hai Zahira!" Akbar yang baru saja datang langsung menyapa Zahira dengan senyum lebar, sebelah tangannya menahan lengan Radit agar tak mendekati Zahira.


Zahira hanya tersenyum sedikit, ia tidak tahu harus menjawab apa, dia juga tidak mengenal mereka semua.


Jia menatap tajam pada pria berbulu di wajah itu, ia tidak suka ada orang yang sok akrab dengan Nona majikannya.


"Aku adalah keponakan Om Anggara." ucap Akbar segera, melihat mata gadis itu cukup menyeramkan, tapi cantik.


"Aku tahu, tapi tidak untuk mendekati Nona Zahira." jawab Jia tak bergeming membelakangi Zahira, tubuh langsing dan rambut lurusnya terlihat begitu menarik dengan mata tajam tanpa senyuman.

__ADS_1


"Hey, harusnya dia Bibiku, tapi kami seumuran dan aku mengenalnya!" Akbar tetap ingin mendekati Zahira.


Tangan Jia mendorong tubuh Akbar, sejenak dorongan itu berubah jadi cengkeraman yang kuat di dada Akbar. "Berani mendekat aku bisa memecahkan hidungmu." ucapnya dingin.


Akbar menganga di buatnya, wanita kecil itu ternyata tidak main-main, tentu saja ia tidak ingin berkelahi dengan bodyguard Pamannya yang merupakan seorang wanita.


Malah ia sedang menikmati wajah cantik Jia dari dekat, bibir mungil yang tak banyak bicara itu terlihat menggoda, Akbar jadi senyum-senyum sendiri melihatnya.


"Dasar sinting." Jia melepas cengkeramannya dan segera mengajak Zahira menjauh.


"Zahira" ucap Radit pelan, pria itu bagaikan kehilangan kekuatan, tanpa orang sadari mata kecilnya memperhatikan Zahira sangat detail. Tak terlewatkan perutnya yang penuh, terlihat indah sekali di tutupi gaun panjang beserta hijab panjang di tubuhnya.


Dulu ia sangat berharap Zahira mengandung anaknya, membuat wanita cantik itu menjadi gendut dan merengek meminta bantuannya saat sulit melakukan apa-apa. Tapi Tuhan memilihkan wanita lain untuk mengandung dan melahirkan anaknya. Sedangkan Zahira sekarang sedang berbahagia, mengandung anak Anggara.


"Kau tidak bisa memperlakukan dia semaumu. Ingat dia istri Pamanku! Dia sedang pemulihan di otaknya. Jika kau ingin dia baik-baik saja maka kau harus bisa mengendalikan dirimu, dan jangan coba menabuh genderang perang jika ingin mendekatinya." Akbar cukup memahami situasi, ingin semuanya baik-baik saja.


Radit mengumpulkan kembali tenaga yang sempat hilang, kali ini ia mengejar Zahira. Mencari hingga ke luar namun tak menemukannya. Radit masuk kembali dan tanpa sengaja ia melihat wanita itu sedang membeli susu ibu hamil di sudut pusat perbelanjaan itu.


Perlahan ia mendekat, berharap tubuh berisi dan menggoda itu bisa dekat dan mungkin bersentuhan tanpa sengaja, sekedar pengobat rindu. Ia semakin melangkah tapi setelah dekat malah kecewa.


"Aku suka yang Mangga." ucapnya, memegang dua kotak susu rasa Mangga.


"Rasa coklat juga enak Sayang." Anggara juga ikut meraih Satu kotak susu dan meletakkan di keranjang.


"Yang coklat untukmu saja." jawab Zahira tanpa melihat.


"Tapi aku tidak hamil!" Anggara sedang membayangkan ketika Zahira memaksanya meminum susu, mungkin lebih baik tidak jadi membelinya.


Mereka tidak tahu di belakang mereka ada orang yang merasa nyeri melihat pemandangan itu.


Mundur perlahan, sesak itu kembali melanda tanpa bisa melakukan apa-apa. Berbagai ucapan David menjadi pedoman baginya, walaupun begitu sulit untuk ikhlas dan menjadi dewasa. Berbalik meninggalkan tempat itu dengan terluka.


"Zahira, inikah rasanya saat kau mengetahui Merry mengandung anakku? Ini sakit sekali, ini sungguh sakit sekali." Radit bersembunyi di dalam mobil, menjauh dari keramaian menikmati rasa menghujam itu sendirian.


"Kau baik-baik saja?" Akbar langsung bertanya, mengintip dari kaca mobil itu sedikit terbuka.

__ADS_1


__ADS_2