
"Dokter bisa saja." jawab ibu itu tertawa, wajah yang sedikit berkerut itu begitu sendu dan seperti menanggung banyak beban.
"Semua orang punya masalah Bu, tak terkecuali aku juga. Tapi kita kembalikan saja pada yang di atas, Dia maha tau semuanya." dokter muda itu terus berbicara sambil tangannya sibuk menghitung beberapa obat, lalu memberikannya segera.
"Terima kasih Bu Dokter, anda baik sekali."
"Sama-sama, semoga cepat sembuh." jawabnya dengan senyum manis.
Dua orang itu langsung berpamitan, mereka pulang dengan hati yang sedikit lega. Akan ada satu masanya hidup ini berada di titik terlemah, merasa tak yakin, dan tidak memiliki semangat, itu sungguh membuat seseorang menjadi terpuruk, jatuh di tempat tersulit.
"Dokter! Apakah di dunia ini ada obat untuk membuat seseorang lupa ingatan? Jika ada aku ingin membelinya." Zahira yang duduk tiba-tiba menyahut.
"Itu tidak ada." Dokter muda itu tertawa.
"Aku ingin melupakan Radit dan semua kehidupan ini, lalu setelahnya aku akan melanjutkan hidup tanpa merasakan sakit." ungkap Zahira dengan wajah tak berdosa.
"Itu salah satu wujud putus asa Zahira, jangan katakan hal-hal seperti itu, bisa saja Tuhan sedang mendengar lalu mengabulkannya, kau akan kehilangan jati dirimu." jawab Dokter itu lagi.
"Aku lelah sekali." Zahira menyandar di punggung Ana.
"Jika lelah, istirahatlah, jika kau rasa bebanmu terlalu berat, maka lepaskan bagian terberatnya. Jangan memaksa memikulnya sendiri, itu membuatmu sakit."
Zahira menarik nafas dalam-dalam, mencoba menetralkan perasaannya yang kacau.
"Ayo istirahat, kau pasti lelah." Ana mengajak sahabatnya beranjak ke kamar.
"Itu benar, istirahatlah sayang." Dokter muda itu tersenyum mengiringi dua anak perempuan itu keluar dari ruang kerjanya.
Sedangkan di tempat lain, Radit sudah berkeliling kembali mendatangai kampus dan tempat lain yang mungkin di datangi Zahira namun hasilnya sia-sia. Malam itu di habiskan Radit di dalam mobil dengan hati gelisah dan sungguh kacau. Tak terkecuali David dan Ayu juga sibuk mencarinya.
Azan subuh berkumandang membangunkan kedua gadis muda itu. Tidur yang hanya beberapa jam membuat mereka enggan beranjak, namun akhirnya mereka segera mandi dan sholat dua rakaat.
"Ana." Aku akan pulang.
"Sepagi ini?" Ana menatap heran pada gadis itu.
"Iya." jawabnya singkat.
__ADS_1
"Aku antar." Ana menguncir rambut panjangnya.
"Tidak, aku sudah pesan taksi." tolaknya.
"Baiklah, nanti kabari aku jika sudah sampai." ucap Ana.
"Iya, terima kasih sudah menampungku di sini, kau dan ibumu baik sekali." Zahira berucap tulus pada sahabatnya itu.
"Tak masalah Zahira, kita berteman." Ana tersenyum tulus.
"Sepertinya taksiku sudah datang, katakan pada ibumu, terimakasih." Zahira meraih tasnya dan beranjak keluar.
"Iya Zahira." jawab Ana lagi.
Zahira masuk ke dalam mobil itu dan segera berlalu dari rumah Ana.
"Kita ke alamat ini pak." Zahira memberikan sebuah alamat pada sopir taksi tersebut.
"Tapi ini jauh sekali Nona?" Sopir taksi itu mengerutkan keningnya.
Sopir taksi itu diam dan mulai melajukan mobilnya, menuju alamat yang di tunjukkan Zahira.
Perjalanan yang cukup lama, Dua jam lebih itu Zahira habiskan dengan duduk menyandar saja hingga saat mobil sudah menaiki kawasan pegunungan, pemandangan yang berbeda mulai mengganggu penglihatannya, rumah khas daerah persawahan menghiasi jalan yang berliku, hamparan sawah yang hijau menjadi daya tarik utama di sepanjang jalan itu. Gerombolan burung-burung merpati beterbangan kesana-kemari seperti membentuk lekukan dan liukan yang indah, mereka terbang menari seakan mengikuti sebuah nada. Senyum manis itu terbit tak sengaja dari bibir merah Zahira, sungguh di balik kepenatan di kota, ada keindahan yang luar biasa bersembunyi di balik bukit yang tinggi. Dengan kesibukan yang luar biasa dirinya harus kuliah dan bekerja, ada kehidupan berbalik di tempat ini, mereka hanya mengelola lahan dan mengharap hasilnya, dan wajah-wajah mereka tampak bahagia hidup dalam kesederhanaan di desa.
Lama Zahira larut memperhatikan sekitar hingga mobil yang ditumpanginya berhenti.
"Sudah sampai Nona." ucap sopir itu menyandar lelah.
"Oh, terima kasih banyak pak." jawabnya, memberikan sepuluh lembar uang kertas berwarna merah.
"Ini kebanyakan!" pria bertopi itu setengah berteriak.
"Ambil saja pak, terimakasih sudah mengantar saya dengan sabar." Zahira tersenyum, lalu turun berjalan masuk ke dalam Vila yang cukup besar, berjejer bangunan minimalis modern dengan bilik-bilik cantik.
Zahira berjalan pelan melihat sekelilingnya, suasana sejuk dan nyaman. Udara segar itu langsung mengisi rongga dada, mengusir sesak akan beban yang teronggok tak mau pergi. Ia menarik nafas berkali-kali dan tersenyum sambil memejamkan mata, ia begitu menikmati keindahan alam yang baru kali ini ia jumpai.
"Non!"
__ADS_1
Suara seseorang membuatnya terkejut dan segera membuka mata.
"Pak!" jawabnya setengah gugup dan terkejut.
"Non Zahira kan?" pria tua itu melihat Zahira dari atas sampai bawah.
Zahira mengangguk, ia ingat kemarin Anggara bilang jika ia datang penjaga Vila akan langsung mengenalinya.
"Di sana Non." pria itu menunjuk salah satu unit mewah yang agak jauh dari tempat ia berdiri.
Zahira mengikuti pria itu, dan benar Unit itu begitu mewah, mungkin itu yang paling baik fasilitasnya diantara yang lain.
"Silahkan Non, ini kuncinya." pria itu memberikan kunci dan undur diri.
"Pak!" Zahira memanggilnya.
"Iya?" jawabnya penuh hormat.
"Aku lapar." ucapnya malu-malu.
"Oh, nanti akan saya minta istri saya mengantar makanan buat Non Zahira." jawabnya tersenyum, pria itu tak akan heran, perjalanan melalui zona hijau yang cukup jauh memang akan membuat pengunjung merasa lapar, itu salah satu omset mereka dalam mengelola Vila, makanan dan berbagai makanan khas laku keras di sana, orang-orang akan sangat menikmati makanan hangat di tempat yang dingin.
Istirahat sejenak dan mengisi perut dengan lahap membuatnya lega dan kembali bersemangat, dia benar-benar menikmati semua yang ada di sana. Hingga matahari mulai beranjak unjuk kehangatan, pukul 9:30 gadis itu berjalan-jalan di sekeliling Vila indah miliknya, dia melihat ada banyak pohon jeruk di ujung jalan. Gadis itu terus menyusuri jalan kecil yang sepertinya sering di lewati, atau mungkin pengunjung yang memetik jeruk sendiri di kebun buah itu.
Zahira larut melihat jeruk-jeruk yang sudah matang begitu banyak membuat ia ingin memetik semuanya.
Tangan kecil itu mulai mengambil satu persatu hingga banyak, ia mengumpulkan buah bulat itu di rerumputan karena dia tak memiliki tempat untuk menampungnya.
"Wah, ini banyak sekali, bagaimana membawanya?" Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau mencuri!" Suara seorang pria membuatnya terkejut.
Zahira berbalik, "Om Anggara!"
"Iya." jawab pria itu dengan malas.
"Kau mengikutiku?" Zahira menatap penuh selidik.
__ADS_1