Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
79. Tidak sekarang


__ADS_3

"Ini sudah pemeriksaan ke tiga, kami dapat menyimpulkan bahwa istri anda hanya mengalami hilang ingatan sementara. Dia sungguh beruntung mengalami keajaiban di luar prediksi dokter, dia pulih lebih cepat."


"Dia memang orang baik dokter." jawab Anggara tersenyum haru dan bahagia.


"Tentu perhatian dan cinta dari anda adalah sumber kekuatan utamanya." Dokter wanita yang masih muda itu memuji, sepanjang pengobatan memang dia tak pernah meninggalkan Zahira begitu saja, bahkan bolak-balik antar negara hanya untuk menemani Zahira. Dua kali akhir pekan ini Anggara sama sekali tak meninggalkannya, entah bagaimana lagi menilai pengorbanan pria itu untuk Zahira.


"Itu perasaan yang mengalir begitu saja." ucapnya tersenyum tipis.


Dokter muda itu ikut tersenyum. "Silahkan bawa istri anda pulang, jangan lupa untuk selalu cek kesehatan di rumah sakit sebelumnya." tambahnya lagi.


"Terimakasih banyak, tanpa kalian semua aku tidak bisa membayangkannya." ucap Anggara dia begitu bahagia.


"Sudah menjadi kewajiban kami untuk melakukan yang terbaik."


Mereka berjabat tangan.


*


Kediaman Anggara


Rumah bertingkat-tingkat itu terlihat megah dari kejauhan, halaman yang luas dan indah seakan menyambut kedatangan pemiliknya. Gadis cantik yang senantiasa menyandar di bahu hangat Anggara itu mengangkat kepalanya melihat mobil yang mereka tumpangi berhenti di halaman rumah yang besar.


Wajah cantiknya menatap sekeliling dengan raut pertanyaan tapi tak terucapkan di bibir merah menggoda miliknya, dia hanya menyaksikan apa yang orang lakukan, melihat sekeliling dan mencoba memahami tanpa banyak bicara, dia gadis pendiam untuk saat ini.


"Ini rumah kita. Ayo kita turun!" Anggara turun lebih dulu dan membuka pintu, meraih tangan lentik nan halus itu untuk selalu berada di genggamannya.


Dia hanya menurut, kaki kecil dan cantik itu melangkah perlahan dengan gaun panjang serta hijab ringan, halus dan panjang tentunya, membuat dia terlihat sangat cantik sekali.


Sapaan hormat dari semua orang, para asisten rumah tangga itu begitu penasaran walau mereka sempat di beritahu bahwa akan ada wanita yang akan di bawa Anggara, mengingat pria itu tak memiliki kekasih selama ini tentu mereka semua terheran-heran mendengar kabar itu dari Ricky.


"Selamat datang Mas Anggara!" seorang wanita yang sudah terlihat kerutan di dahi itu menyapa dengan ramah, tatapan lembutnya begitu menenteramkan.


"Terimakasih Bibi, apa kamarnya sudah siap?" tanya Anggara tersenyum pada wanita itu, sepertinya mereka cukup akrab.


"Sudah." jawabnya dengan terus memperhatikan wajah Zahira yang hanya sedikit tersenyum namun menampakkan lesung pipi indahnya.


"Ayo sayang." Anggara menoleh Zahira sejenak, membawanya menuju tangga di ujung ruangan yang sangat luas. Semua terlihat mewah, mirip sebuah istana.

__ADS_1


Zahira melihat ke atas, anak tangga yang lumayan banyak!


Anggara seakan mendengarkan semua yang gadis itu pikirkan, mengangkat tubuh kecilnya begitu gesit.


"Jangan begini, aku malu." ucap Zahira pelan, tangan kecilnya hanya bisa melingkar di bahu pria yang sedikit berbulu di sekeliling bibirnya itu.


"Kenapa harus malu, ini rumah kita." jawabnya tersenyum melirik gadis yang di gendongnya.


Dia tak lagi bicara hingga pria ini membawanya ke kamar besar di lantai dua, nuansa tosca itu memberi kenyamanan tersendiri di dalamnya.


"Istirahatlah, kau pasti kelelahan." ucap Anggara lembut, pria itu menurunkan Zahira di tepi ranjang.


Dia tersenyum, tapi ia juga merasa heran sebab Anggara meninggalkannya sendiri.


"Mas Anggara mau kemana?" tanya Zahira pelan.


Anggara sungguh asing mendengar panggilan itu, selama dua Minggu dia menemani di Singapura bahkan tak mendengar gadis itu memanggilnya. Atau malah dia tidak tahu nama Anggara?


"Aku akan ganti baju di kamar sebentar." jawab Anggara berbalik sejenak menatap wajah polos itu.


"Mengapa tidak di sini saja?" tanyanya lagi.


Bibi masuk dengan minuman hangat di tangannya.


Anggara keluar dengan menggaruk kepala yang tidak gatal, dia jadi berpikir tentang sikap manja gadis itu akhir-akhir, atau karena orang-orang di Singapura menyangka dia adalah suaminya, ini berarti dia menganggap? Pria itu tersenyum berkali-kali.


"Minum Non, selagi masih hangat." wanita yang di panggil Bibi oleh Anggara itu mendekati Zahira dengan sopan dan lembut.


"Terima kasih Bibi." jawabnya halus, sungguh dia hanya mengikuti apa yang di panggilkan orang-orang di sekitarnya, bahkan panggilan 'Mas Anggara'.


"Habiskan saja." Bibi menemani dengan setia.


Zahira tersenyum, mata beningnya melihat foto-foto yang di pajang di samping meja rias, ada foto dirinya dan juga foto Anggara.


"Suamiku tampan sekali Bibi." ucapnya memandangi foto pria dewasa yang begitu membuatnya istimewa.


Bibi sedikit terkejut, tapi dia juga senang. "Sudah pasti, sangat pas sekali dengan Non Zahira yang cantik." jawab wanita itu terus memandangi wajah cantik Zahira.

__ADS_1


"Non mau mandi?" tanya Bibi lagi.


"Nanti saja, aku ingin istirahat." jawabnya dengan suara merdu.


"Baiklah, Bibi tinggal ya!" wanita itu beranjak membawa gelas kosong keluar meninggalkan gadis itu.


"Bibi!"


Wanita itu menoleh setelah menutup pintu kamar Zahira.


"Apa dia tidur?" tanya Anggara.


"Katanya ingin istirahat." jawab wanita itu.


"Oh." Anggara tampak segar dan lebih tampan setelah mandi.


"Apa kalian sudah menikah?" tanya Bibi pada Anggara.


"Belum Bi, tapi dia sedang mengalami lupa ingatan. Dan di Singapura semua orang menganggap aku suaminya, jadi dia juga menganggap aku suaminya." jawab Anggara menatap wajah wanita itu.


"Dia benar-benar menganggapmu suaminya." dia tersenyum. "Tapi baiknya kalian cepat menikah." Bibi memberi saran.


"Aku memang akan segera menikahinya, dia wanita yang aku inginkan Bibi." Anggara tersenyum begitu bahagia.


"Bibi tahu." jawabnya ikut bahagia.


Dia adalah Bibi Lastri, pengasuh Anggara sejak bayi, dan menggantikan tugas ibunya saat ibu Anggara meninggal. Kelas satu Sekolah Dasar Anggara kehilangan sosok ibu dan hanya tinggal bersama seorang kakek.


Malam terlihat begitu indah dari balkon kamar yang luas itu, dia melihat sekeliling dengan teliti, sungguh tak sabar untuk berkeliling di sekitar rumah besar itu, sayangnya tadi sore ia tertidur dan bangun ketika matahari sudah bersembunyi. Bibir merah nan basah itu tak henti tertarik kedua sudutnya, dia merasakan kelegaan berdiri di sana.


"Sepertinya malam terlihat sangat indah jika aku bersamamu." Anggara mendekati gadis itu hingga nyaris tak berjarak kedua bahu mereka.


"Mengapa tidak membangunkan aku?" tanya Zahira sedikit mendongak pria itu tentu lebih tinggi.


"Aku melihatmu tidur nyenyak sekali." jawab Anggara terdengar begitu mesra.


"Aku akan senang jika kau menemaniku." ucapnya manja.

__ADS_1


"Tidak sekarang sayang, nanti setelah kau benar-benar sembuh." jawab Anggara membuat alasan.


"Tapi aku sudah sembuh." Zahira memainkan jari Anggara yang tampak begitu indah.


__ADS_2