Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
83. Indah sekali


__ADS_3

"Beri aku uang Papa!" ucap Merry pada ayahnya.


"Untuk apa sayang? Bukankah kau baru saja mendapat kiriman uang seratus juta dari ibu mertuamu?" tanya pria itu menatap wajah anaknya.


"Itu untuk dua bulan, dan aku ingin membeli sesuatu." jawabnya meyakinkan.


"Baiklah, tapi jangan kau buat macam-macam." Anwar mengangkat satu jari telunjuknya.


"Iya, aku hanya ingin membeli tas baru nanti." jawabnya tersenyum senang, dia anak satu-satunya mana mungkin Anwar tidak menuruti keinginan putrinya.


"Pulanglah dan istirahat, jangan lupa kabari Papa jika sesuatu terjadi pada kandunganmu." ucap Anwar lagi.


"Iya, terimakasih Papa." jawab Merry begitu senang.


*


"Sebaiknya kami pulang saja, aku tahu kau sudah tidak sabar untuk menghabiskan malam bersama istri cantikmu." ucap salah seorang undangan dan di tertawai yang lainnya.


Anggara hanya tersenyum lebar, sedikit menoleh Zahira sudah naik ke atas bersama Bibi Lastri. Wanita yang sudah tua itu jelas paham sekali apa yang harus di lakukan, dia akan membantu Zahira berganti pakaian.


"Sampai jumpa tiga hari lagi, jangan lupa kau membagi pengalamanmu padaku." bisik salah seorang rekannya yang usil.


Anggara membiarkan mereka menggodanya dan tertawa saat yang lain juga ikut menyahut.


Beberapa jam berlalu, cuaca di luar menjadi lebih sejuk tatkala mendung datang menutupi rembulan yang selalu ingin ikut tersenyum menyaksikan siapa saja yang diliputi kebahagiaan. Rintik-rintik hujan menghiasi suasana dengan butiran lembutnya, menciptakan keindahan sepasang pengantin yang baru saja mengucap janji suci.


Pria itu terlihat sudah segar memakai baju santai dengan wajah lembab dan rambut yang sedikit basah, berjalan menuju kamar gadis yang baru saja menjadi istrinya.


"Pakai yang ini ya!" pinta Bibi pada gadis itu.

__ADS_1


"Apa tidak malu Bibi, ini terlihat pendek?" jawabnya terdengar hingga keluar.


"Tidak, suamimu akan menyukainya. Ini sengaja Bibi beli untukmu, untuk menyenangkan hati suamimu." jawab Bibi halus.


Sepertinya Zahira menurut, membuat pria yang menguping itu tersenyum.


"Apa aku terlihat seperti penggoda?" tanya gadis itu lagi.


"Kau menggoda suamimu, bukan suami orang." Bibi menegaskan sambil tersenyum.


"Benar juga, terimakasih Bibi." ucapnya senang.


"Bibi tinggal dulu ya! Ingat untuk membuat suamimu selalu bahagia." pesan Bibi lagi.


"Iya." jawabnya seakan berjanji, dan di balas senyum oleh Bibi sambil menutup kembali pintu.


Cklek


Mata coklatnya langsung menangkap sosok kecil namun berisi di bagian yang menyenangkan, terlihat pas sekali jika di peluk dengan erat. Penampilan yang begitu sempurna dengan gaun berwarna putih, transparan di bahu namun tertutup di bagian dada hingga ke bawah, membuat gadis itu anggun dan tidak seperti penggoda. Tentu saja tetap menggoda di mata coklat Anggara, wanita yang teramat sangat di cintai kini sedang duduk menyisir rambut di cermin mewah dengan begitu indah, semuanya terlihat memanggil untuk segera jatuh ke dalam pelukannya.


Zahira menoleh, "Mas!" panggilnya lembut.


Anggara mendekat dengan senyum tak pernah padam, tangan halusnya melingkar di pinggang langsing Zahira, membenamkan hidung mancungnya di sela rambut halus dan wangi, sejenak lalu berpindah di pipi yang sangat mulus menggoda di setiap waktu pria itu sudah mati-matian menahannya.


"Istriku cantik sekali." bisiknya di telinga Zahira, mata bening gadis itu menatap mesra melalui kaca. Tak mengelak Zahira menginginkan momen berdua ini sejak lama, semenjak dia berpikir Anggara adalah suaminya.


Anggara memutar kursi Zahira dengan menahan tubuh indah itu tetap berada di bahunya, kini mereka berhadapan. Anggara tak lagi merasa berdosa menikmati wajah cantik itu sedekat ini, mata bening menghanyutkan itu tampak memanggil masuk ke dalamnya, bibir merah nan basah itu terlihat meminta untuk segera di rasa.


"Apa malam ini kau akan meninggalkan aku sendirian lagi?" tanya Zahira pelan.

__ADS_1


"Aku yang tidak mau pergi." jawabnya semakin mendekatkan wajahnya.


"Aku ingin segera menghabiskan malam bersamamu." Zahira membuat Anggara sedikit tak percaya, gadis kecil kesayangan saat ini begitu menginginkan dirinya. Hari-hari bersamanya membuat dia berubah posesif, pencemburu dan tidak ingin jauh darinya, sungguh itu membuat Anggara merasa bahagia.


"Kau sudah siap?" tanya Anggara masih saling menatap tak lepas walau sedetik saja.


Zahira mengangguk.


"Benar?" tanya Anggara lagi membuat gadis itu menunduk malu.


"Aku akan membuatmu segera hamil sayang, apa kau sudah siap mengandung anakku?" tanya Anggara lagi semakin membuat gadis itu tersipu, walau akhirnya mengangguk juga.


Anggara memeluknya dengan lembut, mengecup kening juga pipi yang halus menggoda, pelukan itu terasa begitu pas untuknya dengan bagian atas berisi penuh dan perut rata lembut dan hangat. Belum di mulai saja Anggara sudah menahan sesak, nafasnya kejar-kejaran dengan ujung tangan halusnya menjadi dingin, tak ketinggalan wajah Anggara menjadi panas menyalakan api cinta yang menggelora.


Menikmati bibir yang merekah indah, dengan hidung yang meruncing di atasnya membuat pria itu sangat asyik dan melakukannya cukup lama, tangan halus itu sudah tak betah berdiam dengan dua benda yang terasa mendesak hangat di dadanya. Semakin lama semakin menggila tak tau bagaimana caranya dia sudah berhasil melepaskan gaun cantik itu dari pemiliknya.


"Kau indah sekali sayang." pujian yang membuat gadis itu semakin terbuai, tangan kecilnya menyelip dan memeluk Anggara, menikmati aroma mint di tubuh kekar yang masih bersembunyi di balik kaos polos yang di pakainya.


Dinding yang bisu tak akan mengungkapkan bagaimana mereka melepas rindu, lampu yang terang tak akan bisa berkedip melihat keindahan tarian erotis yang semakin menjadi, langit yang gelap seakan memberi restu dengan sesekali dentuman petir di kejauhan ikut terdengar, dan hanya ranjang besar itu yang ikut bergoyang menikmati irama disco yang tak kunjung berhenti hingga suara jangkrik pun lelah bernyanyi.


Tak terbayangkan malam yang sepi akan menjadi seindah itu, tak jua ia membayangkan bagaimana indahnya memeluk gadis itu sepanjang waktu. Nafas wanginya seperti angin surga yang membuat Anggara lupa segalanya, sedari dekat khayalan itu telah menjadi nyata dapat memandang dan merasakan semuanya hingga tak tersisa, senyum bahagia dan rasa syukur tak henti pria itu ucapkan di dalam hati, akhirnya cinta dan rindu yang ia pendam menemukan tempat untuk melabuhkannya.


"Terima kasih untuk malam yang bahagia ini." ucap Anggara mengecup kening Zahira yang sudah tak peduli, gadis itu tertidur lelap dengan tangan kecilnya tak mau lepas memeluk suami tercinta.


Tuhan sedang memutar arah, menunjukkan jalan terbaik untuk hidup seseorang yang berada di posisi yang salah, dan bila Ia sudah berkehendak, tak ada yang tidak mungkin di dunia ini.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2