
Tiba di rumah, jangankan mengucap salam, masuk ke rumahnya sendiri Radit seakan enggan melangkah. Wajah berantakan, hati yang kacau, juga berbagai pikiran yang seperti benang kusut tak tahu dimana ujung pangkalnya.
"Kau masih saja menemui mantan istrimu." ucapan Merry menghentikan langkah Radit, wanita itu berdiri menghadang Radit di ruang tengah.
"Ya."
"Kau keterlaluan!" ucap Merry kesal.
"Sudah ku katakan padamu, jika aku memang mencintainya sejak awal hingga saat ini." jawab Radit dengan wajah malas.
"Dia sudah menikah dengan orang lain, dan kau masih saja menjadi pria bodoh yang tak henti mencintainya. Radit bisakah kau membuka matamu sedikit? Lihat aku, aku yang sudah mengandung juga melahirkan anakmu dengan susah payah. Tapi apa? Kau bilang kita akan menikah lagi, tapi sampai saat ini kau malah mengacuhkan aku, kau anggap aku apa hah? Aku juga punya perasaan yang juga sakit saat kau dengan entengnya menyebut nama Zahira." Merry setengah berteriak.
"Kau tahu aku tidak mencintaimu."
"Tapi harusnya kau berusaha, ada Laura Radit! Ada anak kita." Merry mulai menangis.
Radit duduk di sofa, meletakkan kunci mobilnya sembarangan.
"Sepertinya kita tidak bisa menikah lagi Merry." ucap Radit pelan namun sangat jelas terdengar.
"Apa maksudmu?" tanya Merry geram.
"Aku tidak biasa membahagiakanmu Merry, baiknya kau mencari orang lain untuk menjadi suamimu." Radit sudah tidak tahan dengan beban di kepalanya.
"Tidak! Kau sudah berjanji untuk kembali menikah dan menjalani rumah tangga yang sebenarnya bersamaku. Aku tidak mau kau buat mainan, yang terkadang kau sayang lalu kau letakkan, kemudian kau pungut dan kau tinggalkan sembarangan. Aku manusia Radit, aku istrimu, ibu dari anakmu!" Merry berteriak.
"Aku tahu, aku akan membesarkan Laura kau tak perlu khawatir." ucap Radit masih menahan pening di kepalanya.
"Enak saja kau ingin membesarkan Laura, kau akan mengambilnya dan membuang aku? Itu tidak akan terjadi, aku akan membawa Laura bersamaku. Jika kau membuangku maka sama artinya kau tidak menginginkan anakmu." Merry meninggalkan Radit menuju kamarnya.
"Merry tunggu!" Radit memanggilnya namun wanita itu tak mendengarkan sama sekali.
__ADS_1
"Merry!" Radit mengejar Merry hingga masuk ke dalam kamarnya.
Merry langsung membuka lemari, mengemas pakainya juga pakaian Laura, memasukkan pakaian itu ke dalam koper besar tanpa peduli Radit berusaha mencegah.
"Merry, kau tidak boleh membawa Laura, dia putriku! Kau ingat gara-gara mempertahankan Laura aku jadi kehilangan Zahira, ku harap kau mengerti jika dia sangat berharga untukku!" Radit meninggikan suaranya kali ini, tangan Radit meraih pakaian Laura yang sudah di masukkan Merry ke dalam koper.
"Jika dia berharga untukmu harusnya kau mempertahankan aku Radit, aku ibunya! Bukan malah sibuk mengurusi mantan istrimu yang sudah menikah dengan orang lain. Sudah jelas dia tidak lagi mencintaimu, dia bahkan dengan bangganya menggandeng suaminya yang sudah tua itu." Merry mengangkat telunjuknya menunjuk ke arah dinding, sebagai ungkapan diapun pernah melihat Zahira bersama Anggara.
"Dimana kau melihatnya?" Radit menatap tajam pada Merry, ia tidak tahu jika istrinya pernah bertemu dengan Zahira tapi tidak memberitahunya.
"Heh, dimana-mana. Di rumah sakit, di Mall, di salon, mereka selalu bersama, be-gi-tu mesra. Dia bahkan sedang mengandung anak Anggara, menikah baru berapa bulan, tapi kehamilannya seperti sudah akan melahirkan. Ternyata istri yang kau banggakan itu sama saja sepertiku, MU-RA-HAN!"
Plakkk
Pipi halus dan padat itu memerah, rambut ikalnya menutup sebagian wajah karena tamparan keras dari Raditya.
Hening
Merry-pun terdiam dengan wajah menoleh paksa akibat tamparan Radit, wajahnya sungguh sakit. Tak hanya wajah tapi hatinya sedang tercabik-cabik, di tampar oleh suami yang lebih membela mantan istri daripada dirinya yang berstatus istri sekaligus ibu dari anaknya.
"Kau menamparku hanya karena wanita sialan itu!" teriak Merry sangat kencang.
"Jaga mulutmu, jangan menghina Zahira jika kau tidak mengenal dirinya." geram Radit.
"Kau yang tidak mengenal dirinya, dia bahkan lebih kejam dan kasar dari pada wanita jalanan. Kau hanya tidak tahu Radit, kau tertipu dengan wajah cantik dan sikap polosnya. Dia tidak sebaik itu!" Merry terus berteriak sambil menangis.
"Oh, ternyata kau sering bertemu dengannya, atau kau sudah tahu banyak hal tentang Zahira? Apa tujuanmu?" Radit mendekat, menatap tajam membuat Merry bergidik ngeri.
"Aku cemburu, aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu masih memikirkannya. Kau tidak pernah menyentuhku hanya karena kau memikirkan wanita itu setiap waktu, sedangkan dia sedang tidur dengan selalu di sentuh Anggara, bahkan sampai mengandung anaknya."
"Dia memang sedang mengandung anaknya! Dan itu adalah keberuntungan yang tak dapat ku miliki." Radit juga ikut berteriak, ia sudah tidak tahan mendengar nama Zahira di sebut-sebut istrinya.
__ADS_1
"Lalu Laura? Kau anggap bukan keberuntungan?" Merry menggeleng pelan, air matanya jatuh menetes di pipinya yang memerah.
"Laura sangat berharga untukku Merry, tapi sungguh aku tidak bisa mencintaimu." ucap Radit pelan.
"Itu karena kau masih saja memikirkan mantan istrimu. Aku hanya menjadi wanita bodoh yang tak berharga, mungkin sebaiknya aku pergi." Merry menggendong Laura tanpa mempedulikan Radit.
"Merry jangan bawa Laura!" Radit meraih Laura dari pelukan Merry, namu tak berhasil karena Merry memeluknya begitu erat.
"Dia anakku, aku yang melahirkannya. Kau bahkan tak ada saat aku mengandungnya, kau hanya sibuk memikirkan Zahira saja." ucap Merry, ia sangat marah.
"Tapi dia anakku, kau lupa aku mau menikah denganmu saat itu karena dia." Radit menunjuk Laura.
"Kalau begitu lupakan Zahira, kau akan mendapatkan Laura." jawab Merry tak mau kalah.
Radit terdiam, ia tak mungkin memohon dengan Merry, begitu juga sebaliknya Merry sedang menguji perasaan Radit, Merry tetap keluar dengan membawa Laura pergi.
"Merry!" panggil Radit di halaman rumahnya saat Merry sudah akan naik taksi pesanannya.
"Aku sudah muak mendengar nama Zahira selalu saja keluar dari mulutmu." ucapnya melangkah masuk ke dalam mobil meninggalkan Radit di halaman rumah itu.
Radit semakin pusing melihat Merry pergi membawa Laura. Ingin mencegah tapi ia malas jika harus memberi janji, pada kenyataannya ia tak bisa membuka hati.
*
"Papa!" teriak Merry ketika tiba di sebuah rumah mewah milik ayahnya.
Pintu terbuka, tampak pria tua itu sudah berdiri dengan mata terbuka lebar melihat Merry membawa koper besar bersama Laura.
"Aku ingin menginap di sini." Merry masuk meninggalkan kopernya, ayahnya langsung meraih dan membawa koper itu ke dalam.
"Harusnya kalian tidak bertengkar, karena dialah satu-satunya harapan kita." ucap Anwar terduduk lemas di sofa ruang itu.
__ADS_1