Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
242. Bersama anak-anak


__ADS_3

"Tidak ada." jawab Reza singkat, masih memandangi ponsel yang layarnya sudah tidak menyala.


"Apakah sedang memikirkan Zahira?" tanya Ibunya lagi.


Reza menarik nafas berat, tak perlu di jelaskan apa jawabannya tentu Nyonya Carolina sudah tahu.


"Mama tahu dia sangat cantik, sopan dan kaya raya. Setiap laki-laki yang dekat dengan dirinya pasti dengan mudah akan jatuh dalam pesona wanita seperti dia, tak terkecuali dirimu." sedikit melirik Reza Mahendra.


"Tak hanya itu, dia adalah sosok wanita yang sangat baik untuk di jadikan ibu untuk anak-anakku nanti. Ku rasa teman bisnisku sampai memilihnya juga karena itu. Dia cantik, lembut, baik, dan penyayang, sungguh menyenangkan." jawabnya tak menutupi kekagumannya. Seorang Reza Mahendra memang tak pandai menutupi perasaan, dia akan mengungkapkan isi hatinya dengan segera.


"Semua wanita akan menjadi ibu yang baik jika sudah punya anak, mereka akan menyayangi anaknya sepenuh hati bila sudah merasakan sulitnya melahirkan, bukan hanya Zahira saja. Jika wanita tidak menyayangi anaknya maka tak ada generasi penerus di dunia ini, jadi berpikirlah lebih luas."


Reza Mahendra menoleh tajam, apa yang di bicarakan ibunya sedikit mengganggu.


"Ibu tidak suka dengan Zahira?" tanya Reza pelan, namun cukup membuat ibunya serba salah.


"Ah, maksudku...."


"Aku tahu Mama tidak menyukainya. Tapi suka atau tidak suka bagiku tak ada pengaruhnya sama sekali. Karena aku sudah memilih, jadi sudah tak perlu Mama bandingkan dengan wanita sedunia, karena bagiku dia paling baik."


"Reza!"


"Mama, jangan berpikir jika aku ini adalah laki-laki yang sangat polos, tidak tahu kehidupan para wanita kaya di luaran sana. Sebagian besar dari mereka hanya bersenang-senang dengan dunia. Mereka larut dalam pujian, dosa pun tak lagi mereka rasakan. Suami sibuk dengan pekerjaan dan wanita-wanitanya, dan istri sibuk dengan menghabiskan uang, mempercantik diri dan cantiknya diberikan kepada laki-laki lain yang menyukai dosa yang sama. Anak besar dengan pembantu, tidak tahu bagaimana perkembangannya, makanannya, pendidikan agamanya, dan yang lebih penting perasaannya. Hingga saat sudah dewasa mereka mencari perhatian sendiri di luaran sana, ingin di puji, ingin dihargai, ingin disayangi. Tentu semua itu akan merusak mereka di kemudian hari. Haus kasih sayang, bagi seorang gadis akan mencarinya kepada laki-laki yang entah bagaimana jadinya. Dan bagi seorang laki-laki akan mencarinya pada perempuan-perempuan yang kebanyakan dari mereka adalah menginginkan imbalan."


"Itu hanya pemikiranmu saja, Mama tidak sependapat."


"Tentu saja tidak sependapat, karena Mama adalah salah satu wanita yang mengabaikan anaknya. Dan aku adalah anak laki-laki yang sudah puas mencari kesenangan di luar sana, namun tak pernah ku temukan wanita yang benar-benar tulus, kecuali Zahira."

__ADS_1


Reza berlalu meninggalkan Nyonya Carolina, tak ingin memperpanjang pembicaraan yang akan menyakiti hatinya sendiri. Walaupun belakang ibunya lebih perhatian namun masa lalu masih tak merubah jarak antara keduanya.


Nyonya Carolina terpaku dengan wajah kecewa, mata tuanya berembun tapi tak sampai menangis. Tentu saja dia terluka dengan ungkapan putranya.


Tiga hari kepergian Radit, Tiga hari pula anak-anak tak bertemu dengan Ayu. Kehilangan seorang ayah membuat mereka terkadang sedih, namun untuk bertemu tentu mereka tahu, itu sudah tak mungkin. Beruntung banyak yang bersedia menghujani mereka dengan kasih sayang, termasuk David dan Ayu sebagai kakek dan nenek yang sangat mengutamakan mereka. Selain memang karena perasaan yang sudah terikat, harapan untuk memiliki cucu jelas hanya bertumpu kepada Zahira yang sudah dikaruniai Dua putra Anggara.


"Hari ini kita akan pergi ke pusat perbelanjaan milik kalian Sayang, kita akan bermain sepuas hati di sana." Zahira sengaja pulang lebih awal di hari Kamis itu, akan menghabiskan waktu sore bersama kedua anaknya.


"Yeaay...Yeay...."


Satria dan Sadewa berlonjak senang.


"Baiklah, kita akan berangkat bersama Bibi Jia, suster dan Paman Hiko." Zahira menunjuk ketiga orang yang masih berdiri di halaman, baru saja selesai menemani dan menjaga anak-anak bermain.


"Baik Nyonya." suster muda yang biasa mengurus anak-anak itu pergi ke kamar untuk mempersiapkan segala sesuatu keperluan Satria dan Sadewa.


"Hemmm, boleh." jawab Zahira dengan senyum cerah.


"Horeee!" Satria berlonjak, dan mengepalkan tangannya dengan sedikit berbahasa Inggris. "Yeah! I like grand father."


Zahira langsung merogoh ponsel di dalam tas miliknya, segera menghubungi David dan Ayu.


"Assalamualaikum Sayang." suara David menyapa di seberang sana.


"Wa'alaikum salam Papa, apakah Papa sudah pulang?" tanya Zahira.


"Belum, Papa masih ada di perusahaan mu. Ada apa Sayang?" tanya David begitu paham, Zahira butuh sesuatu atau ingin bertanya sesuatu.

__ADS_1


"Tidak begitu penting Papa. Hanya, Satria dan Sadewa ingin mengajak Papa bermain di Pusat perbelanjaan dan permainan milk Mas Anggara. Itu jika Papa tidak sibuk."


"Tentu saja Papa tidak sibuk, Papa akan segera meluncur ke sana." jawab David terdengar sangat bersemangat.


"Apakah Mama di rumah?" tanya Zahira lagi.


"Papa akan menjemputnya." jawab David cepat.


"Baiklah, terimakasih Papa." Zahira sungguh senang.


"Assalamualaikum." sepertinya David akan segera berangkat sehingga terburu-buru mengakhiri panggilan telepon.


"Waalaikum salam." Zahira melihat jika panggilan sudah di matikan.


Kedua sudut bibir merahnya tertarik, dia sedang membayangkan bagaimana bahagianya Pria yang di panggil Papa itu saat ini di seberang sana. Bagaimana dia pulang dengan terburu-buru menjemput istrinya hanya untuk berjalan-jalan dan bermain bersama anak-anaknya. Itu pasti lucu sekali.


"Ibu! Kami sudah siap." Sadewa keluar dengan pakaian keren, celana jeans dan topi. Begitu juga Satria tampak tak mau kalah dari saudaranya, bahkan memasang wajah sombong tanpa senyuman. Jia sampai mengulum senyum melihatnya, juga Hiko tampak geli dengan ulah Satria yang terkadang ingin menyamai Opa-opa Korea.


Perjalanan yang hanya memakan waktu sekitar empat puluh menit, mereka sudah tiba di sebuah pusat perbelanjaan dan permainan terbesar di kota tersebut. Anak-anak lepas bebas berada di sana, tak hanya kedua pengawal dan suster yang mengawasi tapi seluruh pegawai toko ikut mengawasi dan memperhatikan kedua anak laki-laki calon pemimpin mereka nantinya.


"Satria, Sadewa!" Ayu yang baru saja tiba langsung memanggil kedua anak itu.


Namun mereka masih terlalu senang berlari kesana-kemari, sehingga hanya melambaikan tangan dan membalas panggilan mereka dari kejauhan.


"Sebaiknya kita menyusul, mereka aktif sekali." Ayu melangkah menyusul mereka bersama Zahira juga David.


David meraih Tiga pistol mainan untuk mengajak mereka bermain. Dengan senyum mengembang mengangkat mainan tersebut memperlihatkan kepada mereka.

__ADS_1


"Kakek!" mereka berteriak bersamaan berlari kearah David. Namun tak sengaja menabrak seorang wanita yang juga merupakan seorang yang bisa dipanggil Nenek.


__ADS_2