
Sangat kecewa, bodohnya lagi Reza tak merasa curiga. Mengendarai mobil tanpa tujuan, hingga sampai di sebuah Klub malam. Rasa kesal marah dan kecewa benar-benar membuat kepalanya terasa mau pecah, hingga memutuskan mencari keramaian di negara orang tersebut, mungkin minum sedikit sekedar menghangatkan tubuh dan menghilangkan pening tak masalah. Toh hanya sedikit, begitu pikiran Reza Mahendra namun kemudian larut dalam suasana hingga menghabiskan banyak minuman. Masih setengah sadar ia merasa harus pulang, dan rasa rindunya kepada Zahira memang tak pernah berhenti.
Ya, mungkin pusing dan gelisah akan hilang jika menghubungi wanita cantik itu.
Menyetir dengan sedikit kacau, jalanan yang mulai bergoyang dan mengabur. Ia memilih untuk pulang ke apartemen milik ibunya yang tak seberapa jauh dari Klub tersebut.
Nyonya Carolina memang memiliki banyak apartemen yang di sewakan sebagai sumber pendapatannya di negara itu. Beberapa unit di tengah kota, harga sewa yang mahal membuat Nyonya Carolina mendapatkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, bahkan tergolong mewah sehingga ia memiliki pergaulan kelas atas di sana.
Reza menaiki lift apartemen lantai tiga, keluar menuju kamar yang pernah dia tempati saat dulu pernah datang ke sana. Kepala yang semakin terasa berputar, pikiran yang semakin melayang tentu objeknya adalah Zahira.
"Ah, aku rasa Zahira ada di dalam." Dengan sedikit tertawa dan mata yang terkadang tertutup menekan password apartemennya.
"Mengapa tidak bisa di buka?" kesal Reza berusaha membuka matanya lebih lebar, tangannya berpegang pada dinding.
"Hiks...hiks.."
Suara tangisan seorang wanita membuat Reza menoleh, mata yang mengabur itu menangkap bayangan seorang wanita. Mencoba mengabaikan dan kembali membuka pintu apartemen, dan akhirnya terbuka.
"Heh, aku hanya lupa." Reza tertawa sendiri. Namun suara isak tangis itu semakin mengusik, wanita tersebut duduk memeluk lututnya menyandar di pintu apartemen bersebelahan dengan Reza.
Sejenak ia memperhatikan wanita yang sedang menunduk itu, dan entah karena merasa dirinya di perhatikan oleh seseorang membuat wanita itu mengusap air mata dan mengangkat wajahnya menatap Reza.
"Zahira!" gumam Reza Mahendra melihat wanita yang sedang menangis itu adalah Zahira.
Wanita tersebut berdiri, menatap aneh kepada Reza. dengan langkah pelan ia mendekat, penasaran dengan apa yang baru saja di sebutkan Reza.
"What?" tanya gadis itu semakin mendekat, menatap penuh tanya wajah Reza yang baru sekali ini ia melihatnya.
"Zahira." ulang Reza lebih jelas namun penuh damba.
__ADS_1
Wanita cantik itu menatap bingung, memperhatikan Reza dari kepala hingga kaki, dan sepertinya dia bukan penduduk kota ini, melainkan dari Indonesia. Ya, dia tahu benar, bahkan dari wajahnya.
"Kau menyusulku?" Reza semakin tak terkendali, merengkuh tubuh Zahira, memeluknya erat meskipun ia memberontak.
"Lepas!" ucapnya dengan memberontak sekuat tenaga. Tapi percuma, mabuk tak mengurangi tenaga pria tinggi dan gagah tersebut. Reza membawanya masuk dan mengunci pintunya. Tak peduli wanita itu berteriak ingin keluar, Reza kembali memeluk dan mengungkungnya tak memberi celah.
"Kau sudah gila!" ucapnya semakin menangis.
Reza tak peduli, terus memeluk dan mencium wanita yang dianggapnya Zahira, hingga lelah melawan dan dirasa percuma Reza tak memberi celah untuknya walau hanya bernafas lega.
Dan hal itu akhirnya terjadi.
*
*
*
Tangan kokohnya membentang di atas ranjang dengan menarik nafas lega. Kesadarannya mulai pulih.
Sayup terdengar suara seorang wanita yang sesenggukan. Reza menautkan alisnya melihat jika di kamar tak ada siapa-siapa. Tapi kemudian tangannya menyentuh pakaian halus yang asing menurutnya, pakaian wanita.
"Astaga!" Matanya membulat sempurna, dia mengingat sesuatu. Bangun dengan sangat terkejut melihat ke segala arah dan, tampak seorang wanita sedang duduk di lantai, menyudut di dinding, menutupi setengah tubuhnya dengan selimut.
Tak sadar juga ternyata Reza tak kalah memalukan, turun dari ranjang tanpa memakai apa-apa. Reza segera berbalik meraih pakaiannya di lantai dan memakai celana pendek miliknya. Kemudian kembali mendekati wanita yang masih beringsut di dinding dengan menangis.
"Siapa namamu?" tanya Reza mencoba berpikir jernih, ia duduk di hadapan gadis itu.
Tak ada jawaban, hanya suara tangisnya saja yang sepertinya sudah sangat lama, hingga nafasnya sambung menyambung.
__ADS_1
"Hei, kau dengar aku?" Reza menyentuh lengan gadis itu, berhasil membuat ia menarik tangannya dan menatap penuh amarah. "Boleh aku tahu namamu?" Reza kembali mengajaknya bicara.
Wanita itu tetap tak mau bicara, ia mencoba berdiri namun karena selimutnya terlalu tebal dan pinggulnya terasa nyeri, ia terjatuh dan beruntung Reza berhasil menangkap tubuh berisi yang semalam menemani tidurnya.
"Lepas! Aku tidak mau di pegang olehmu." tangis dan amarahnya meluap bersamaan, mendorong tubuh Reza agar menjauh. Wanita itu menuju ranjang dan mulai mengenakan pakaiannya yang sudah terpisah-pisah di buang Reza Mahendra, bahkan kancing bagian atas sudah hilang karena pria itu membukanya dengan paksa.
Reza tak bisa berbuat apa-apa, ingin bicara baik-baik, tapi wanita cantik itu sedang berubah menjadi singa, matanya tajam ingin membunuh, dadanya naik turun dan suaranya mengerikan.
"Buka pintunya aku ingin keluar!" perintahnya dengan wajah dingin, meski sembab karena menangis, tapi keberaniannya jelas terlihat.
Reza masih tak bergeming, menatap bingung pada wanita yang seperti pernah ia lihat.
"Apa kau tuli?"
Ucapan yang membuat Reza menjadi kesal. "Aku tidak tuli, hanya,,,"
"Hanya apa? Jangan berpikir aku wanita mur*Han yang telah kau pakai dan sedang menunggu bayaran darimu! Cepat buka pintunya aku ingin keluar dari tempat menjijikkan ini." ucapnya penuh emosi.
"Kau pikir aku sedang ingin membayarmu?" Reza tak mau kalah, mendengar ucapan wanita itu rasa bersalahnya hilang begitu saja.
"Laki-laki brengsek!" kesalnya lagi karena pintunya belum juga di buka.
"Jaga mulutmu! Aku juga tidak sudi tidur denganmu."
"Tidak sudi tapi kau memaksaku! Kau pikir aku tidak tahu laki-laki seperti dirimu sangat pintar membalik fakta, kau yang berbuat tapi menolak bertanggung jawab, malah melempar kesalahan kepala orang lain. Aku sudah paham sekali!" Wanita itu menunjuk-nunjuk wajah Reza Mahendra.
"Paham? Oh ya. Tentu saja kau paham, kau sudah sering melakukannya bukan?" Reza semakin membuatnya marah.
Plak
__ADS_1
Reza memegangi pipi sebelah kanannya. Panas dan berdenyut-denyut.
"Apa kau bodoh? Atau kau Gila?" Wanita itu benar-benar marah, mendekati Reza seperti ingin memakannya. Itu membuat pria tinggi itu mundur selangkah demi selangkah. "Apa milikmu itu tidak bisa membedakan yang masih bersegel dengan yang sudah robek!" marahnya sedikit membuat nyali Reza menciut.