Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
264. Seperti istriku


__ADS_3

"Tentu saja." Reza menjawab yakin.


Dia sedang berpikir untuk melakukan sesuatu.


Berbeda di tempat lain, Zahira sedang sibuk mencari berkas Vila miliknya. Di bantu Lili ia masih saja belum menemukannya.


"Sebaiknya Anda makan siang terlebih dahulu." saran Lili kepada atasannya tersebut.


"Kau istirahatlah, aku akan makan di sini saja." tentu Lili menurut dan harus membawakan makanan untuk Zahira.


Zahira masih belum putus asa, sesekali menemukan berkas dan berisikan foto di dalamnya. Dia tersenyum melihat wajah tampan yang selalu mengisi hatinya hingga saat ini. Foto yang membuat pria tersebut seolah masih hidup dengan berbagai pose dan kegiatan di setiap kali ia berkunjung.


"Aku merindukanmu Mas." ucap Zahira tersenyum mengelus wajah di dalam foto tersebut.


Tak lelah mencari, kemudian menemukan berkas berwarna hijau 'Zahira putri Bramastya'.


"Ini dia!" Zahira menarik berkas tersebut, namun ada berkas lain di bawahnya malah ikut tertarik dan terjatuh. Zahira mengambilnya tentu harus dikembalikan pada tempatnya. Tapi tulisan yang tertera di map tersebut membuat matanya urung berkedip, 'Raditya Jovanka'.


"Mengapa berkas bernama Radit ada disini?" gumam Zahira sendiri, penasaran dan ingin tahu apa isinya.


Pintu diketuk, Lili masuk membawa makanan karena memang pintunya tidak ditutup rapat. "Anda harus makan." ucap Lili menyiapkan semuanya di atas meja Zahira.


"Terimakasih. Aku sudah menemukannya." ungkap Zahira membawa dua berkas tersebut di atas meja miliknya.


"Syukurlah." Lili ikut senang.


"Kau juga harus makan, setelahnya kau susun kembali berkas yang sudah tidak rapi ini." Zahira menunjuk lemari yang acak-acakan.


"Baik Bu, saya permisi." Lili berpamitan.


"Ya." Zahira duduk meraih air putih, kemudian mulai makan karena memang sudah lewat jam makan siang.


Pintu kembali di ketuk dari luar.


"Masuk." jawab Zahira sudah hampir selesai.


"Kau sedang makan?" tanya Ricky melihat Zahira masih menyendok dan mengunyah.


"Ya, tapi aku sudah menemukannya." Zahira menunjuk berkas di atas meja kerjanya.


"Itu barang pribadi suamimu, berkas-berkas di sana juga semuanya penting jadi aku tidak sembarangan membukanya kecuali kalian tidak ada di tempat dan sangat di butuhkan, terpaksa aku melakukannya." Ricky duduk di hadapan Zahira.


"Sebentar." Zahira minum air putih terlebih dahulu. Lalu kemudian meraih berkas miliknya.

__ADS_1


Ricky menatap berkas tersebut, tentu ia tahu isinya karena dia yang menyusun dan memberikannya kepada Anggara.


Zahira tampak serius, lembaran pertama memang keterangan kepemilikan tanah Vila miliknya, tapi lembar berikutnya adalah akta cerai Zahira dan Radit hampir delapan tahun yang lalu. Sejenak mata beningnya terpaku, mungkin sedang mengenang betapa sulitnya masa itu, dan Anggara datang menyelamatkan dirinya.


"Kau baru melihatnya?" tanya Ricky memahami arti diamnya Zahira.


"Ya." jawab Zahira tersenyum kecut.


"Aku mengurusnya untukmu saat itu, dan beruntungnya akta itu yang membuat kalian cepat menikah, jika tidak maka harus menunggu berbulan untuk mengurus ulang." Ricky terkekeh mengingat ketika Anggara sangat tak sabar untuk menikah, karena Zahira semakin tidak mau jauh darinya.


"Terimakasih Om." Zahira tersenyum, ia juga mengingat hal itu.


"Aku juga sangat berterimakasih padamu, karena kau sudah memberikan kebahagiaan luar biasa kepadanya. Dia hanya memiliki satu cinta saja, yaitu dirimu, dan kemudian melahirkan kebahagiaan dan cinta yang baru yaitu Satria dan Sadewa putranya." Ricky benar-benar menyaksikan kisah hidup Anggara seluruhnya.


"Jangan membuatku menangis." Zahira mengusap bulir bening yang tiba-tiba sudah ada di sudut matanya.


"Maaf." Ricky meraih berkas dari tangan Zahira. "Aku akan mengirimnya." Ricky beranjak dari duduknya membiarkan Zahira menikmati rindunya sendiri.


...***...


Sore itu, Zahira sudah selesai dengan pekerjaannya, akan pulang ke rumah besar Anggara begitu juga anak-anak yang sudah di jemput Hiko. Dan lagi Jia akan pulang nanti.


Zahira masuk lift sendirian meninggalkan Lili yang masih sibuk di ruangannya.


Pintu lift terbuka, namun mengejutkan saat seseorang sudah berdiri tegap menanti.


"Bukankah kau sibuk Mas?" Zahira menatap wajah tampan tapi lelah.


"Sesibuk apapun, aku akan meninggalkannya. Kau lebih penting bagiku." Reza berbicara dari dekat, tersenyum dan menatap mesra.


Zahira tersenyum dengan sedikit menggeleng, mereka berjalan bersama keluar menuju mobil.


"Pak, Zahira akan pulang bersamaku." Reza berbicara kepada Teddy, sopir sekaligus bodyguard Zahira.


"Baik Tuan." Teddy mengangguk, sekilas ia melirik Zahira yang terlihat tak keberatan.


"Ayo Sayang." Reza memperlakukannya dengan spesial.


"Ini berlebihan." Zahira tak ingin diperlakukan seperti seorang istri.


"Aku senang melakukannya, aku sedang berkhayal bahwa kau sudah menjadi istriku." Reza menatap lembut kepada Zahira.


Tawa yang ringan, namun entah apa yang dirasakan wanita di sampingnya Reza tidak tahu.

__ADS_1


"Mau jalan-jalan terlebih dahulu?" tanya Reza melihat pinggir jalanan yang lumayan ramai di sore itu, banyak anak muda yang sudah mengajak pasangan masing-masing mengunjungi taman yang tak jauh dari kantor Anggara. Dulu Zahira sering mampir di sana bersama Anggara, terlebih lagi saat mengidam.


"Apa yang akan kita beli?" tanya Zahira sedikit tertarik.


"Apapun maumu." jawab Reza kembali dengan tatapan mesra.


"Baiklah." Zahira setuju dan mobil yang mereka tumpangi sudah menepi di pinggir jalan.


Keduanya keluar dengan melihat banyaknya penjual makanan di pinggir jalan tersebut, Zahira masih bingung membeli apa.


"Mau rujak?" Reza menoleh wajah cantik Zahira yang berada sejajar dengan pundaknya.


"Aku sudah tidak mengidam." Zahira tertawa teringat Reza juga sering membelikannya rujak.


"Mau mengidam lagi?" Reza menggodanya dengan bahu mereka sedikit menempel.


Zahira tertawa kali ini, entah mengapa suasana sore yang redup membuat semakin nyaman dan romantis.


"Bu, satu ya!" Reza benar-benar memesan rujak dan mengajak Zahira duduk di kursi kayu.


"Kau benar-benar memesannya?" Zahira menatap heran.


"Hem, anggap saja kau sedang mengidam dan aku yang ikut merasakannya." jawab Reza tak peduli, namun jelas mata hitam pekatnya selalu memancarkan cinta ketika bersama Zahira.


Lagi-lagi Zahira tertawa pelan, menikmati suasana taman yang menenangkan.


"Ini Mas." Ibu-ibu penjual rujak tersebut menyerahkan piring bambu beralaskan daun pisang kepada Reza.


"Terimakasih." Reza memegangnya dan mulai memakan potongan buah pepaya.


"Enak Mas?" tanya Zahira ikut terpancing dengan aroma segar khas gula merah.


Reza menusuk potongan buah yang lain dan menyuapkan kepada Zahira.


"Enak." menjawabnya sendiri.


Reza tertawa senang, hatinya sedang berbunga dan mekar dapat makan sepiring rujak berdua dengan Zahira. Tanpa terasa mereka memakan buahnya hingga habis.


"Sebaiknya kita pulang, karena jika tidak, kau akan memesannya lagi." goda Zahira kemudian mereka pulang menuju rumah Anggara.


Zahira masuk lebih dulu karena hari mulai gelap dan anak-anak pasti sudah menunggu.


"Pak!" Reza berbicara kepada seorang bodyguard senior di rumah itu.

__ADS_1


"Ya Tuan." dia mendekat, dan ternyata tak hanya dia melainkan semuanya diminta Reza mendekat.


"Jangan izinkan Radit masuk ke rumah ini!"


__ADS_2