
"Papa?" Merry menoleh, ia sangat terkejut.
"Iya!" Anwar mendekati Merry dan Vino. Ia menatap tajam pada pria yang jelas-jelas sedang duduk di ranjang anaknya.
Vino menunduk, ia tidak berani menentang tatapan Anwar yang penuh selidik itu.
"Aku pernah memintanya untuk menyingkirkan Zahira Papa." Mery mengaku, ia tidak bisa melimpahkan kesalahan hanya pada Vino saja. Bisa-bisa Vino marah dan membatalkan kepergiannya, itu akan membuat hidup Merry hancur.
"Aku yang melakukannya." jawab Vino juga mengakui kesalahannya pada ayah Merry itu. Tentu saja karena rasa cinta dan seorang anak di dalam sana.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Anwar dengan wajah tak ramah.
"Papa, dia hanya sedang butuh uang untuk kabur dari kota ini, jika tidak aku juga akan ikut di penjara. Radit sudah pasti marah besar!" jelas Merry dengan suara memburu dan ketakutan.
Anwar masih memandangi wajah Vino, tapi tak lagi sinis. Anwar adalah pria yang sudah berpengalaman jika membaca sikap dan gerak-gerik anak muda seperti Vino, entah karena Anwar tahu bahwa Vino memendam perasaan pada putrinya, atau dia juga sedang ingin memanfaatkannya? Anwar mendekatinya dan bersikap menjadi bijak dalam waktu kurang dari hitungan menit.
"Pergilah, dan jangan hubungi Merry, kau bisa menghubungi aku jika kau sudah ada di luar kota. Jika kau butuh sesuatu maka minta saja padaku, aku juga tidak ingin kalian di penjara, terutama putriku Merry." Anwar menoleh Merry.
"Baiklah, aku minta kartu nama saja." Vino mengulurkan tangannya.
Anwar memberikannya, sejenak mereka saling menatap.
"Aku pergi!" ucap Vino pada Merry, tangannya meraih bahu Merry sedikit lama lalu turun ke lengan hingga jari halusnya, Vino menggenggam erat di sana.
"Kau terlalu nekat putriku sayang." Anwar memutar badannya menghadap Merry, tergambar kesedihan di sana.
"Aku tidak tahan jika harus menjadi yang ke dua Papa." jawab Merry terdengar lirih.
__ADS_1
"Papa tahu Nak, semua hal di dunia ini tidak menyenangkan jika mendapat posisi setelah yang terbaik, hatimu akan selalu merasa tersaingi. Tapi harusnya kau berpikir sebelum bertindak, bukankah banyak pilihan sebelum ini terjadi?"
"Ini sudah terlanjur Papa, lagi pula di Televisi sudah ramai mengatakan bahwa Zahira meninggal. Sayangnya berita itu menyebutkan bahwa ia adalah putri dari Tuan David, bukan menantu." Merry tersenyum senang. "Artinya akulah menantu yang akan terkenal nantinya." ucapnya sungguh bahagia.
"Kau harus hati-hati, mereka adalah orang-orang yang punya kuasa, jika sekali saja kejahatanmu ini terbongkar, maka tak ada lagi ampun bagimu. Papa sungguh takut Nak, Papa tidak ingin kehilanganmu." Anwar menatap sendu, ia tahu jika kebahagiaan Merry tidak layak di dukung, tapi apalah daya jika bukan Merry siapa lagi keluarganya di dunia ini. Anwar merasa sedih juga khawatir bersamaan, ingin mundur tapi sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, jika di makan tak akan habis, jika di buang merasa sayang, akhirnya akan menjadi sebuah kesia-siaan, separuhnya pastilah penyesalan.
Tak hanya Anwar, Vino yang beberapa hari ini sudah tinggal di sebuah kota kecil, daerah sejuk pegunungan hijau, jauh dari keramaian kota. Harusnya itu adalah tempat menyenangkan untuknya, sesekali berkhayal tentang hidup bahagia bersama Merry kekasihnya, menjalani hari penuh cinta di subuh tempat sederhana, tak perlu menjadi seorang pengusaha, menjadi pedagang di desa pun mungkin lebih nikmat. 'Aku, kau dan anak kita.' Vino tersenyum.
Terlintas untuk membawa kekasihnya itu ikut dengannya hidup di sana, tapi sepertinya mustahil. Bahkan saat ini ia tidak bisa menghubunginya, mungkin sedikit bersabar bisa membuahkan sebuh bahagia. Entahlah, apa dia terlalu bodoh dengan harapan-harapan.
Sedangkan Merry sedang menikmati kemenangannya, ia selalu tersenyum bahagia sudah tak memiliki saingan lagi, hanya tinggal menunggu waktu untuk memunculkan diri dan mengambil hati keluarga Raditya.
"Vino, maafkan aku tapi juga terimakasih banyak. Zahira mati, Vino pun pergi. Rasanya aku tak perlu berlelah-lelah menyingkirkan mereka satu-persatu, bahkan mereka pergi dengan sendirinya." Merry tertawa dan terus menatap foto pria muda itu di ponsel miliknya.
Namun dengan rasa semakin tidak menentu, akhirnya Vino memutuskan untuk menghubungi Anwar terlebih dahulu ketika pengasingannya sudah tiga bulan.
"Uangku sudah menipis." ungkap Vino saat itu.
"Benar." jawab Vino menyetujui usul Anwar itu. Ia memberanikan dirinya untuk bertanya. " Apa aku boleh menghubungi Merry?" tanya Vino kemudian.
"Tidak perlu, dia baik-baik saja dan tidak keluar dari rumah, ia sendirian." jelas Anwar melarang keinginan Vino.
"Mengapa sendirian, bukankah ada Radit yang menemani Merry?" Vino jadi penasaran sekali.
"Raditya sedang berada di luar negeri, ia terkena depresi berat dan harus di rawat di rumah sakit besar." jelas Anwar.
"Lalu Merry?" Vino sangat khawatir.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja, bahkan ibu mertuanya sering datang memberikan uang." Anwar memberitahu yang sebenarnya.
"Itu lebih baik." jawab Vino walau hatinya tidak baik, ia sungguh kecewa dengan apa yang sudah di dengarnya. Padahal dia sudah berusaha keras untuk memisahkan Radit dan kekasihnya. Tapi malah mendekatkan Merry dengan mertuanya.
Vino mengakhiri panggilan ponsel itu, tapi lagi-lagi ia memikirkan wanita yang jauh di sana, juga keluarga Raditya. "Apa mereka sangat bodoh sehingga dapat di tipu oleh seorang Merry?" Vino tersenyum sinis.
Namun Vino tidak tahu jika sambungan telepon ia baru saja adalah jejak yang tertinggal bagi anak buah Anggara, mereka memburu Vino, mencari dan pasti menemukannya. Kesulitan mencari tempat aman, Vino berpindah kesana-kemari demi menghindari banyak pria-pria bermobil mewah mencarinya. Vino berpikir mereka adalah anak buah Radit, Vino semakin benci pada sahabatnya itu.
Lama-lama, bersembunyi itu lebih lelah daripada menghadapi, Vino lengah dan akhirnya tertangkap. Sempat di pukul berkali-kali saat ia mencoba kabur dari ruangan pengap itu, ia di kurung seperti tahanan, pria itu hanya mendapat makanan seadanya dan air putih kemasan. Takut, dingin, lelah tak bisa tidur membuat ia berpikir jika Merry benar-benar sudah membawa hidupnya dalam kehancuran. Salah besar sudah percaya dengan wanita ular itu, tapi menyesal juga percuma.
"Vino!"
"Vino!"
"Vino!!" teriak Merry kali ini.
"Hem." setengah terkejut dari lamunannya, Vino menoleh wanita yang masih terbaring itu.
"Kau malah melamun." ucap Merry lelah.
"Ya, aku hanya sedang memikirkan hidupku yang hancur karena berharap akan mendapat sedikit bahagia bersamamu. Tapi nyatanya malah hanyalah derita." Vino tersenyum getir.
*
*
*
__ADS_1
jangan lupa like vote dan hadiahnya ya, biar Author terus semangat dengan kisah yang lebih seru.
Terimakasih. 🌷🌷🌷