
"Kau serius akan tinggal di rumah Nenek. Tidak ada orang di sana, hanya ada bibi dan scurity saja." Radit menanyai Ayra ketika mobil sudah mulai melaju.
"Iya, aku hanya penasaran dengan tempat tinggal Papa dulu." jawabnya menatap Radit.
"Ayra! Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tanyakan saja, memangnya apa?" Ayra tersenyum dan berusaha terlihat santai.
"Kau mengenal Reza?" Radit melirik Ayra dari kaca depan mata cokelat Ayra bergerak kesana-kemari seperti sedang gugup.
"Bukankah sudah ku jawab semalam, tentu aku mengenalnya." jawab Ayra.
"Apa alasanmu tidak menyukainya? sampai kau berkata dia tak pantas untuk adikmu?" tanya Radit tetap menatap jalanan.
Ayra menoleh Radit, ia tak bisa mengelak karena semalam ia mengatakan hal itu, dan Radit mendengarnya.
"Jujur saja Ayra, dia adikmu." ucap Radit lagi.
"Aku hanya merasa dia bukan pria yang baik untuk adikku. Entah jika aku salah, tapi bukankah masih banyak laki-laki lain yang menyukai adikku?" Ayra menatap Radit dengan bertanya atau ungkapan.
"Ya, aku tahu banyak yang menyukainya. Hanya mungkin mereka sungkan karena status Zahira sebagai janda konglomerat saat ini." jawab Radit jujur.
"Ku rasa kau juga tidak menyukainya, dan ku harap kau bisa menjauhkan Zahira dari pria itu." lanjutnya lagi, tapi malah mengundang kecurigaan lain untuk Radit.
"Aku rasa kau benar-benar mengetahui siapa Reza Mahendra." ucap Radit seperti menyentak, bersamaan dan mobil mereka sudah berhenti di halaman rumah Nenek Ayra.
"Tidak, aku hanya menduga dan merasa tak percaya." jawab Ayra segera keluar dan masuk ke rumah tersebut.
"Ayra!" Radit mengejarnya.
"Aku tidak tahu Radit!" Ayra tidak ingin membahas hal itu lagi, matanya sudah tertuju pada foto seorang laki-laki berseragam militer di dinding rumah tersebut, yaitu Ayahnya.
"Kalau kau tidak memberitahu maka Reza akan tetap mengejar Zahira, tidak ada yang bisa menghalanginya termasuk aku. Kau lihat sendiri dia akan melakukan apa saja untuk mendapat Zahira. Jujur, aku tidak mau dia memiliki Zahira, terlebih lagi ibunya tidak suka." Radit masih sangat penasaran.
"Aku tidak tahu." jawab Ayra langsung pergi ke belakang dengan terburu-buru.
Radit merasa heran dengan tingkah Ayra, namun ia tak bisa terlalu lama di sana mengingat ia harus bekerja.
Kesibukan di siang hari, bahkan Reza Mahendra tak punya waktu walau hanya sekedar menelepon Zahira, pekerjaan menumpuk setelah hampir satu bulan ia pergi ke London, membuatnya pusing sendiri. Hingga sore hari ia baru sempat memegang ponselnya.
__ADS_1
Reza menghubungi seseorang.
"Halo Sayang." ucapnya cepat setelah panggilannya tersambung.
"Assalamualaikum Mas." jawab Zahira di seberang sana.
"Wa'alaikum salam. Apakah kau sudah pulang?" tanya Reza lembut, lelahnya sedikit berkurang setelah mendengar suara Zahira.
"Sudah, aku sudah hampir sampai di rumah Papa." jawab Zahira lagi, memang benar ia pulang ke rumah David, sekalian menjemput anak-anak dan memastikan Ayra.
"Apakah tidak pulang ke rumahmu?" tanya Reza Mahendra.
"Nanti malam, karena aku harus ke rumah Nenek. Kak Ayra tinggal di sana dan aku akan ke sana sebentar lagi." jawab Zahira, ia tidak tahu jika jawabannya membuat kening Reza mengkerut.
"Mengapa tinggal di sana?" tanya Reza penasaran.
"Entahlah, padahal Kak Ayra sedang tak enak badan, tadi malam aku mendengarnya mual dan muntah, aku takut dia masuk angin."
Reza semakin tercengang mendengarnya.
"Baiklah, aku sudah sampai." ucap Zahira lagi.
"Iya. Assalamualaikum Mas." Zahira mengakhiri panggilannya.
Tak lama kemudian Reza menerima pesan dari Zahira. Bergegas pergi setelah membacanya.
Sore itu Zahira langsung menuju ke rumah keluarga bersama sopirnya hanya untuk memastikan Kakak sepupunya baik-baik saja.
"Non Ayra keluar, sepertinya dia belanja Non." seorang asisten sepuh sedang istirahat setelah menyapu halaman.
"Baiklah Nek, aku hanya datang untuk memastikan dia tidak sakit karena semalam sepertinya Kak Ayra sedang masuk angin."
Zahira hanya datang sendiri, karena anak-anaknya tak mau pulang.
"Tapi dia baik-baik saja Non." jawab Nenek tersebut.
"Sebentar lagi Maghrib Nyonya, sebaiknya kita pulang saja." Pak Teddy sopir Zahira menyarankan.
"Baiklah, aku pulang Nek. Jangan lupa hubungi aku jika ada sesuatu dengan Kakak." Zahira segera beranjak.
__ADS_1
"Ia Non, tidak usah khawatir." jawab Nenek-nenek asisten rumah tangga di rumah itu.
Zahira menuju mobilnya, sekilas melihat masih ada banyak bunga di halaman, sepertinya masih terawat dengan baik walaupun wadahnya sudah agak ketinggalan jaman. Rata-rata adalah jenis mawar, pantas saja Anggara tahu jika Zahira juga menyukai bunga mawar, ternyata ibunya juga menyukai bunga yang sama, atau mungkin nenek yang lebih dulu menyukai bunga Mawar? Zahira tersenyum sedikit, membayangkan betapa menyenangkan masa-masa muda ibunya, dan ada suaminya juga andil dalam kisahnya.
"Ayo Nyonya." Pak Teddy mempersilahkan Zahira masuk.
Sementara di sebuah pusat perbelanjaan tak jauh dari rumah tersebut, tampak Ayra sedang terpaku dengan saling berpandangan dengan seorang laki-laki muda.
"Katakan padaku." ucap Radit dengan wajah dingin, tatapan yang tajam menusuk.
"Ya." jawab Ayra singkat.
"Jadi kau pergi ke negara ini hanya untuk menutupi ini?" Radit menunjuk kotak susu yang yang ada di keranjang belanja Ayra.
"Tidak juga." jawabnya masih berdiri tegak, berusaha tidak menangis.
"Lalu?" tanya Radit lagi.
Ayra membuang pandangannya, jauh ke sembarang arah agar tak selalu bertatapan dengan Radit, ia benar-benar tidak bisa jujur.
"Siapa ayahnya?" Radit masih tak berhenti bertanya.
"Seseorang yang tidak ku inginkan." jawab Ayra sudah tidak tahan lagi, ia mendorong troli belanjaannya meninggalkan Radit. Tentu Radit masih mengikutinya.
Ayra membayar semua belanjaannya, kemudian membawanya menuju taksi.
"Ayra!" Radit masih memanggil dan mengejarnya.
"Radit, aku mohon kau bisa mengerti. Jangan katakan kepada siapapun tentang hal ini termasuk Ayah jika dia menelepon. Aku tidak mau dia tahu, dia pasti sangat kecewa. Kau tahu Ayah adalah orang yang tidak pernah meninggalkan ibadahnya. Aku sungguh dalam tekanan sekarang." Ayra menunduk sedih.
"Aku tidak akan ikut campur, tapi aku juga tidak bisa melihatmu seperti ini. Dari awal aku tahu kau sedang mengandung, wajahmu pucat dan lemas. Bagaimanapun juga aku beberapa kali menyaksikan wanita yang hamil muda. Jelas sekali bagiku kau sedang hamil."
"Ya, aku memang hamil dan aku mengetahuinya saat aku sudah ada di sini, lima hari yang lalu." ucapnya sedih.
"Kau harus segera menikah Ayra, dia butuh ayah." ucap Radit membuat Ayra menatapnya.
"Aku tidak mau menikah dengan orang yang sudah membuatku hamil, dia terlalu buruk untuk menjadi ayah dari anakku." ucapnya kali ini dengan air mata.
"Kau harus pikirkan lagi, jangan egois." ucap Radit. Sejenak lalu kemudian Ayra berlalu menaiki taksi pesanannya.
__ADS_1