
"Ya, tapi tidak berdosa jika aku mendekatimu, aku merindukan saat-saat ini." Radit semakin mendekatkan dirinya pada Zahira.
"Ternyata kau sudah menjadi seorang yang pandai merayu sekarang, kau suka bermain-main wanita? Kalau begitu keluarlah dan nikmati harimu, tapi jangan pernah bermimpi untuk merayuku." geram Zahira, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Radit.
"Kalau aku tidak mau?" Radit menantang wanita cantik di hadapannya.
"Radit ku mohon! Apa kau tidak mengerti bahwa aku sangat benci padamu? Aku masih belum lupa sedikitpun bahwa kau adalah penyebab kematian suamiku!" Zahira kini mulai menangis.
"Aku tidak lupa! Dan sekarang aku sedang berusaha menyeretnya ke penjara. Aku akan melakukan apa saja asal kau tidak lagi benci padaku. Aku menyayangimu Zahira, sangat menyayangimu."
"Dasar perayu! Aku baru sadar ternyata laki-laki sepertimu mata keranjang dan menjengkelkan!" ucapnya lagi.
"Benarkah?" Radit menarik tangan Zahira seolah ingin segera memeluknya.
"Radit jangan macam-macam!" Zahira semakin kesal juga takut dengan sikap Radit, ia tahu pergerakan laki-laki muda itu bisa dengan mudah mengunci dirinya.
Radit tersenyum menang, ia senang sekali melihat wajah tegang dan khawatir di hadapannya. "Ku rasa kau masih mengingatnya." Radit tersenyum menggoda Zahira.
"Pergilah!" Zahira membuang muka, ia tidak mau mengingat apapun.
"Aku mencintaimu Zahira." ungkap Radit masih tak mau pergi.
"Kau bilang makam suamiku masih basah! Maka pergilah jauh-jauh dariku, aku tidak punya waktu untuk mendengar apalagi memikirkan ucapan konyolmu itu." Zahira menarik tangannya kini sekuat tenaga.
"Apa saat Anggara mendekatimu, kau juga seperti ini?" tanya Radit menatap mata bening Zahira. "Apa kau juga memberontak dan menolak? Saat itu kau masih istriku bukan?" tanya Radit lagi, rasa penasaran yang selama ini di simpan kembali tergali dengan posisi yang seakan berbalik arah.
"Ya, kita masih dalam persidangan kala itu, tapi dia tidak seperti dirimu, dia memperlakukan aku dengan baik, sopan dan tidak pernah memaksa, bahkan tidak meminta untuk dicintai. Hanya saja pada akhirnya aku jatuh cinta dan tidak sanggup berpaling lagi. Dia terlalu sempurna untuk dibandingkan denganmu."
Tangan Radit mengendur seketika, kata-kata itu menghujam begitu dalam.
"Aku akan selalu mencintainya, akan selalu menyayanginya, merindukannya hingga aku mati dan bertemu lagi dengannya."
Zahira tak menyia-nyiakan kesempatan, pergi melepaskan tangannya, ia berlalu cepat tak ingin perdebatan masa lalu itu berlanjut.
__ADS_1
Sementara Radit hanya menunduk lemas, ia sungguh bersedih dengan keadaan saat ini, harapan untuk kembali dekat itu hilang jika menyaksikan betapa Zahira mencintai Anggara.
"Kau sedang apa?" Ricky menyusul Radit ke dalam ruangan, setelah Zahira keluar dengan wajah kesal.
"Tidak." jawabnya kemudian duduk di sofa ruangan Anggara.
"Tadi kau ingin membicarakan apa?" tanya Ricky ikut duduk bersama Radit.
"Semalam aku menginap di rumah Merry, tapi aku tidak menemukan apapun." ungkapnya kesal, menyandar lelah.
Ricky tampak menyimak.
"Anwar menguasai saham Mars Media, kematian Daniel membuatnya beruntung. Dan kita tidak bisa menganggap remeh. Jika Merry saja bisa bebas saat itu, tentu sekarang akan lebih sulit untuk kembali membawanya ke penjara."
"Aku sudah tidak memikirkan penjara." jawab Ricky santai.
"Lalu?" Radit sedikit terkejut.
"Ku rasa membuat wanita itu takut akan lebih menarik!" Ricky tersenyum penuh arti.
"Biar Reza yang melakukan bagian awalnya. Kau tetap menjadi kekasihnya, dan aku akan mengacaukan ayahnya." Ricky menatap yakin.
"Aku butuh seseorang untuk menyadap CCTV seluruh rumah Anwar, juga rumah Daniel." Radit meminta bantuan Ricky, dia berharap Ricky memiliki teman dalam bidang itu.
"Kau mencarinya terlalu jauh, coba kau tanyakan pada ayahmu!" Ricky tertawa.
"Papa?" tanya Radit lagi, ia berpikir jika David adalah orang yang polos.
"Ya! Kau tahu, dulu ayahmu adalah peretas terhebat bersama dengan ayahnya Zahira. Mereka bahkan mampu meretas situs perusahaan luar negeri." ungkap Ricky masih tertawa.
"Benarkah?" Radit masih tak percaya.
"Kau tanyakan saja, kau malah akan mendapat bantuan gratis." Ricky mengangkat telunjuknya.
__ADS_1
"Ah, ternyata Papa tidak sepolos itu." Radit tersenyum senang, dia merasa lega sekarang.
Ricky juga tampak menyandar santai, ia yakin sekali kali ini Anwar dan putrinya tak akan bisa lolos.
"Tapi mengapa harus melibatkan Reza?" tanya Radit tak suka.
"Dia ingin membantu, lagi pula dia juga ingin Anwar jatuh dan tidak bersisa lagi setelah dulu pernah membuat berita heboh tentang dirinya." jawab Ricky santai.
"Tentu saja heboh, dia laki-laki yang suka bermain perempuan. Semua jenis wanita dia sudah tau rasanya! Dan sekarang malah berlagak ingin menjadi pahlawan, dia itu sedang mengincar Zahira!" Radit memberitahu Ricky.
"Aku tahu."
"Kalau kau tahu harusnya kau jauhkan dia dari Zahira, bukan malah mendekatkan mereka! Atau kau memang sengaja?" tanya Radit kesal.
"Kalau kau masih mencintainya! Berusahalah sendiri, bersaing secara sehat, aku tidak ikut campur urusan pribadi! Yang terpenting bagiku adalah semuanya selesai tanpa menyakiti siapapun. Terutama Zahira! Dia juga tanggung jawabku setelah Anggara meninggal. Ku harap kau juga merasakan tanggung jawab yang sama, selain rasa cintamu masih ada hubungan saudara diantara kalian. Dia sedang butuh kita semua, terutama dirimu!" Ricky menepuk pundak Radit, kemudian keluar karena masih banyak pekerjaan.
Radit menarik nafas berat, benar sekali jika Zahira sedang butuh semua orang untuk mendukungnya. Wanita yang terlalu manja itu kini tak tau apa-apa tanpa Anggara, tentu dia sedang merasa banyak beban.
'Salahku juga terlalu membatasi dirimu saat itu, aku ingin kau selalu butuh aku, hanya aku! Dan sekarang tak akan ku sia-siakan kesempatan untuk memilikimu. Aku berjanji akan kembali membuatmu selalu membutuhkan aku."
Senyum aneh terukir di wajah tampan Radit, tentu rasa cintanya kepada Zahira tak pernah padam, bahkan di setiap harinya masih selalu memikirkannya.
Sementara ditempat lain Merry sedang bersiap-siap, hari ini ia akan ke studio musik miliknya. Semalam tidur dipeluk oleh pujaan hati membuat bibir merahnya tak berhenti tersenyum pagi ini, bahagia dan jatuh cinta begitulah hatinya sedang berbunga-bunga.
"Merry!" Anwar baru saja pulang dan ternyata putrinya sudah akan pergi.
"Papa!" Merry menghentikan langkahnya, sambil membenarkan anting-anting Merry menatap wajah ayahnya.
"Kau mau kemana?" tanya Anwar tak begitu menyukai kegiatan. putrinya.
"Hanya bekerja Papa! Lagi pula aku bosan di rumah." jawabnya santai.
"Apa tidak sebaiknya kau bekerja di perusahaan kita saja?" saran Anwar karena ia tak mau jauh dari putrinya, sikap kekanakan, ceroboh dan nekat membuat pria tua itu khawatir.
__ADS_1
"Tidak Papa! Tapi jika ada acara perayaan aku mau ikut." ungkapnya tersenyum merayu.
"Kau hanya ingin bertemu dengan anak David?" tanya Anwar tak suka.