
Kembali David memandangi wajah Zahira yang ikut menangis karena melihatnya bersedih. Tapi sorot matanya seakan mencari bahkan raut wajahnya terlihat bingung.
"Apa yang kau telah lewati Nak?" tanya David bergetar, tangan kokohnya masih memegang ke dua bahu Zahira.
"Dia mengalami koma berbulan-bulan, dan bukan hanya sekali." Anggara meraih tubuh istrinya segera ke dalam pelukan. "Aku tidak ingin kalian mengganggu pemulihannya, dia butuh ketenangan dan tidak boleh stres. Aku minta padamu agar tidak menggangu dan membiarkan semuanya mengalir, jangan mengusik atau memaksakan ingatannya."
"Jika yang kau maksud aku tidak boleh menemuinya maka aku tidak bisa Anggara." David masih memandangi gadis dalam pelukan Anggara yang hanya mendengar dengan wajah bingung.
"Aku tidak melarang, hanya kalian perlu batasan, tidak sembarangan bertemu apalagi berbicara. Ada banyak hal yang belum boleh kalian bicarakan, aku tidak mau dia kembali tidur panjang dan salah sedikit tidak bangun lagi." ucap Anggara benar-benar penuh tekanan.
"Tapi kau menikahinya?" David menatapnya penuh selidik.
"Karena dia menginginkannya, kami sama-sama menginginkannya." jawab Anggara.
"Bagaimana jika dia kembali ingat dan meninggalkanmu?" David benar-benar tidak yakin dengan alasan Zahira menikah dengan Anggara.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan Tuan David, sebaiknya kau keluar sebelum semuanya menjadi berbeda." Anggara tersenyum namun ia sedang menahan amarah.
Jia membukakan pintu mempersilahkan David keluar.
Pria itu ingin sekali mengajak Zahira pulang, namun sepertinya tidak mungkin. Bahkan dia selalu menempel dengan Anggara, dia sudah tentu tak akan bisa membujuknya.
"Zahira." panggilnya pelan.
Mata gadis itu menatap sendu, tidak menjawab juga mengucapkan apa-apa hingga David keluar dengan rasa tak menentu.
"Apa dia jahat?" tanya Zahira, tatapan sendunya beralih pada Anggara.
__ADS_1
"Tidak Sayang, dia Papamu." jawab Anggara menarik nafas dan menghembuskannya.
"Lalu? Mengapa kau tidak suka dia mendekatiku?" tanya Zahira lagi dengan suara lembut dan halus.
"Aku takut dia mengingatkan hal yang belum seharusnya kau ingat, aku tidak mau kehilangan dirimu lagi, aku tidak mau menjadi gila karena harus melihatmu tidur tidak bangun lagi, apalagi di sini ada anak kita. Berbeda jika kau yang mengingatnya sendiri, aku akan senang mendengarnya." Anggara membingkai wajah cantik Zahira, meyakinkan bahwa dia sungguh mencintai dan menjaganya.
"Aku juga ingin mengingatnya. Tapi apa jika aku ingat aku akan tetap bahagian seperti ini?" tanya gadis itu seperti anak yang baru saja belajar bicara, semua hal ia tanyakan hingga ke akar-akarnya. Tapi Anggara tak heran karena dia memang begitu, sejak kecil dia begitu, saat kembali bertemu sudah dewasa juga seperti itu. Jika kemarin mereka akan menghabiskan waktu untuk berdebat maka di akhir cerita itu mereka saling berkata penuh perasaan, hingga akhirnya kehilangan dan menemukan ia kembali, dan kini saling memiliki.
"Kau akan mengingatnya Sayang, dan aku pastikan kau tidak akan meninggalkan aku walau sehari saja." Anggara merayunya, memeluk dan mengecup pipinya.
"Artinya aku memang milikmu, mencintaimu dan akan selalu seperti itu." jawab Zahira senang.
"Iya, kita akan selalu saling menyayangi hingga aku meninggalkanmu bersama anak kita." tiba-tiba saja ucapan Anggara terdengar begitu sedih, mata gadis itu berubah kembali sendu.
"Sudah ku bilang aku tidak mau." tangan kecilnya memeluk erat, menyandarkan kepalanya di dada hangat suaminya.
"Aku menyukainya." bisik Zahira dengan sedikit berjinjit.
Anggara menatap mata bening itu lebih dalam, sikap lembutnya mewarisi ibunya yang cantik, lembut dan bersuara merdu. Tapi sikap ingin selalu di manja dan suka bercinta itu Anggara pikir mewarisi ayahnya, pria bucin itu menurunkan hal yang menyenangkan dalam diri Zahira, dan terkadang membuatnya terkekeh geli menikmati suasana bersama Zahira. Benar saja, setelah operasi ini semakin membuat Anggara yakin bahwa sebenarnya Zahira adalah wanita yang berani, pintar dan tidak akan mau ditindas, Anggara semakin bangga memilikinya, memang sudah seharusnya dia seperti itu, bahkan mestinya sejak dulu.
Tautan bibir itu terlepas, dengan deru nafas yang semakin menggila sedangkan di luar sana masih ramai bahkan acara baru saja di mulai, tentu para asistennya sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Bos mereka sedang sibuk dengan istri kesayangannya, tak mau di ganggu walau hanya sekedar memberi ucapan terimakasih.
"Sepertinya kita akan berlibur di puncak untuk waktu yang lama." Anggara masih memeluknya erat.
"Ide bagus, agar tidak ada yang menganggu." ucap Zahira tertawa.
"Jadi aku tidak boleh bekerja?" tanya Anggara.
__ADS_1
"Tidak, kau hanya sibuk padaku saja." ucapnya tanpa malu-malu, ia tak peduli suaminya terkadang geli mendengar ungkapan mulut kecil itu.
"Tentu saja, pekerjaanku hanya satu yaitu membuatmu tertidur pulas dengan perut kenyang."
"Pulang dari puncak aku akan menjadi gendut, dengan bibir yang bengkak, dan kedua bukitku sudah berubah warna." tambah Zahira, malah memejamkan matanya di dada bidang itu.
Anggara semakin terkekeh mendengarnya, memeluknya semakin erat. Gadis berhijab itu kini benar-benar membuat pria dewasa seperti dirinya semakin tidak karuan di setiap hari, bahkan semakin gila di setiap malamnya.
"Kita akan langsung berangkat ke puncak, kita akan berlibur selama dua bulan."
"Aku setuju." teriaknya sangat bahagia.
Anggara berpikir menghindari David dan Ayu untuk sementara adalah yang terbaik. Waktu dua bulan sudah cukup untuk memulihkan kondisi Zahira, dan setelah itu kemungkinan ia akan mengingat semua dengan sendirinya.
Mereka berangkat dengan diantar Jia, wanita itu cukup tangguh untuk selalu bersama Zahira, lagi pula kota B adalah kampung halaman Jia.
Menikmati kebahagiaan secara utuh tanpa ada siapapun yang mengganggu mungkin adlah cara terbaik dalam menikmati hidup, entah setelahnya mereka akan menghadapi banyak hal yang menguras hati. Radit sudah pasti siap menunggu, menghadang dan berusaha untuk mengambil Zahira kembali, keributan akan terjadi, dan entah apalagi.
Dua bulan juga, semua asisten Anggara sedang bersiap dengan perubahan yang akan mengejutkan semua perusahaan. Saham-saham yang mereka tanam di puluhan perusahaan akan mereka kendalikan sepenuhnya, dan banyak lagi rencana yang mereka lakukan sesuai keinginan Anggara.
Dua bulan setelahnya, Anggara akan siap menghadapi apa saja. Radit, Ayu, David, Anwar atau anaknya, mereka bukanlah anak kecil biasa seperti yang orang pada umumnya lihat, dua orang dari mereka cukup berbahaya untuk Zahira, terutama Merry.
Hanya Anggara saja yang tahu.
Yang pasti mereka akan menghabiskan waktu berdua, bulan madu yang indah mungkin tepat untuk menyebutnya.
Bahkan jika bosan mereka akan pergi kemana saja mereka suka.
__ADS_1